Drama Traveling Tak Terlupakan: Mulai Salah Pesan Tiket, Nyasar Sampe Over Budget

by - Mei 10, 2026

Kalian pernah gak sih, niatnya mau terlihat seperti karakter utama di film traveling, tapi yang terjadi malah seperti adegan komedi? Saya pernah punya beragam drama saat melakukan perjalanan terutama sebagai solo traveler yang menghadapi segala kemungkinan hanya seorang diri.



Drama Traveling Memang Nyata


Hari itu, Saya sedang berdiri cantik di bandara dengan outfit yang sudah dipilih seminggu sebelumnya. Tas sudah matching, makeup on point, sneakers putih masih bersih, dan merasa hidup seperti opening vlog travel aesthetic di TikTok.

Saya membayangkan perjalanan yang tenang, foto-foto cantik, kopi hangat di tangan, lalu menikmati sunset sempurna di negara orang. Tapi kenyataannya? Dua jam setelah mendarat, Saya masih kebingungan mau berbicara Bahasa Inggris tapi warga lokal banyak yang tidak paham bahkan polisi.

Dan itu baru permulaan dikarenakan menjadi awal untuk bisa naik kereta menuju pusat kota tapi harus bertanya terlebih dahulu untuk cara pemesanannya. Traveling memang lucu seperti itu. Kita merencanakan semuanya dengan detail, tapi justru hal-hal paling tidak terduga yang akhirnya jadi cerita paling diingat seumur hidup.

Salah satu kejadian paling memalukan terjadi saat aku traveling ke luar negeri untuk pertama kali sendirian. Karena terlalu percaya diri menggunakan Google Maps, Saya berjalan cepat sambil menyeret koper besar melewati jalan berbatu. Saat itu merasa keren sampai tiba-tiba, koperku terbuka di tengah jalan.

Isi koper keluar semua mulai dari baju tidur, skincare, charger, bahkan sandal menggelinding ke mana-mana, syukur saja pakaian dalam tidak sampai lompat terlihat ke permukaan. Dan lebih menyakitkan bukan isi koper berantakan, tapi banyak orang melihat sambil menahan tawa. Saya cuma bisa jongkok sambil tertawa malu dan berharap bumi menelan aku saat itu juga.

Anehnya, sekarang justru itu jadi cerita favorit yang selalu diulang ke teman-teman. Traveling memang mengajarkan kita satu hal penting: tidak semua perjalanan harus sempurna untuk bisa bahagia. Kadang justru kekacauan kecil itu yang membuat perjalanan terasa hidup.

Ada juga momen ketika Saya sudah bangun subuh demi berburu sunrise cantik. Makeup sudah rapi, outfit sudah estetik, bahkan aku membawa tripod supaya hasil fotonya maksimal. Tapi ternyata salah datang ke lokasi.

Berdiri sendirian di tempat yang sepi sambil melihat matahari terbit dari balik area parkiran. Saat itu Saya kesal sekali. Rasanya semua usaha sia-sia tapi sekarang kalau melihat fotonya lagi, justru malah tertawa sendiri karena ekspresi benar-benar campuran antara bingung, kecewa, dan ngantuk.

Lucunya lagi, semakin sering traveling, semakin sadar kalau perempuan memang punya “perjuangan tambahan” saat perjalanan. Kita ingin nyaman, tapi juga tetap ingin terlihat cantik di foto, ingin bawa skincare lengkap, tapi koper sudah overweight.

Kita ingin tampil fresh setelah penerbangan panjang, tapi wajah sudah berminyak duluan sebelum sampai hotel. Dan percaya atau tidak, salah satu skill penting saat traveling adalah belajar berdamai dengan penampilan yang tidak selalu sempurna.

Dulu Saya pun selalu berpikir traveling harus tampil flawless setiap saat. Sekarang aku lebih menikmati prosesnya. Rambut berantakan kena angin? Tidak masalah. Makeup luntur karena hujan? Santai saja. Sepatu kotor karena terlalu banyak jalan? Itu tanda perjalananmu benar-benar dinikmati.

Meski begitu, Saya tetap punya beberapa “senjata rahasia” supaya tetap terlihat fresh selama perjalanan. Pertama, sunscreen adalah penyelamat hidup. Mau ke pantai, jalan kaki di kota, atau naik motor seharian, kulit tetap harus dijaga. Kedua, lip tint dan cushion travel-size selalu ada di tas kecilku. Bukan untuk tampil berlebihan, tapi cukup membuat wajah terlihat segar saat difoto mendadak. Ketiga, aku selalu membawa parfum mini karena tidak ada yang lebih menyenangkan daripada merasa wangi setelah perjalanan panjang.

Hal kecil seperti itu ternyata bisa meningkatkan mood selama traveling, Saya juga belajar bahwa foto terbaik kadang bukan yang paling sempurna, melainkan yang paling jujur. Foto saat tertawa karena nyasar, foto saat kehujanan sambil lari mencari tempat berteduh maupun foto blur karena tangan gemetar di kendaraan.

Semua itu punya cerita dan cerita jauh lebih berharga daripada feed Instagram yang terlalu sempurna. Sekarang setiap kali bepergian, aku tidak lagi terlalu sibuk mengejar itinerary sempurna. Aku lebih suka menikmati momen kecil yang tidak bisa diulang. Obrolan random dengan orang asing di transportasi umum, makan makanan aneh yang ternyata enak, atau momen panik karena baterai HP tinggal 2% di negara orang.

Semua itu terasa menyebalkan saat terjadi, tapi selalu jadi bahan tawa setelah perjalanan selesai. Mungkin itu alasan kenapa banyak orang ketagihan traveling. Bukan hanya karena tempatnya indah, tapi karena perjalanan selalu memberi cerita baru tentang diri kita sendiri.

Tentang bagaimana kita bisa panik, malu, bingung, lalu tertawa dalam waktu bersamaan dan pada akhirnya, traveling bukan soal terlihat paling sempurna di foto. Tapi soal pulang dengan hati yang lebih penuh, pikiran lebih luas, dan cerita lucu yang akan terus dikenang bertahun-tahun kemudian.


You May Also Like

0 Comments

Hai, Kawan Melalak Cantik. Berbagi Cerita Disini,yhaa.