facebook twitter instagram linkedin
  • Home
  • Travel
    • Wisata Indonesia
    • Wisata Asia Tenggara
    • Wisata Turki
  • LifeStyle
    • Beauty
    • Healthy
  • About Me
  • Kontak Informasi

Melalak Cantik- Travel Blog Ririn Wandes

Kalau cuma punya 24 jam di Hat Yai, apa bisa puas jalan-jalan tanpa bikin dompet nangis?Pertanyaan yang muncul dari dalam diri sendiri sebelum mencoba langsung ngetrip sebagai solo traveler di Hat Yai. Perjalanan yang tidak mudah tapi ternyata seru ketika sudah dicoba hingga akhirnya selesai dalam trip saat itu.

Sebenarnya jika harus jujur sih awalnya pun juga sempat ragu tapi setelah nyobain sendiri, ternyata satu hari di sekitar Lee Garden Walking Street itu cukup buat ngerasain semuanya, mulai dari penginapan murah, aneka kuliner, sampai belanja lucu-lucu yang bikin kalap.




Cerita 24 Jam di Lee Garden Walking Street Hat Yai

Berhubung banyak yang penasaran gimana rasanya jika ambil trip singkat misalnya hanya weekend getaway ke Penang dan Hat Yai, tentu harus bisa membagi waktunya, nah ini cerita 24 jam versi Melalak Cantik di Hat Yai.

Trip Dari Penang ke Hat Yai

Biasanya untuk berlibur ke Hat Yai, Saya selalu ambil kereta api pagi atau naik van yang paling lama sih sekitar pukul 1 siang saja. Berhubung perjalanan tidak dekat tapi juga bukan terlalu jauh yang mana paling sekitar 4-5 jam saja, disesuaikan waktunya agar tetap bisa relax nikmati malam di Hat Yai.

Nah, kita langsung saja ngebahas ketika sudah sampai di Hat Yai khususnya kawasan Lee Garden Walking Street karena kalau naik van bisa request untuk diturunkan di sekitar daerah ini atau bahkan depan hotel langsung yang berada di kawasan tersebut.

Tiba di Hat Yai, Check in Hotel


Ketika mau check-in hotel di Hat Yai pastikan sudah book terlebih dahulu agar ketika penuh pun tidak repot harus berkeliling lagi. Carilah yang murah, nyaman dan lokasi terdekat menjadi kunci, terutama bagi solo traveler pasti cari yang bisa membuat aman pula.

Hal pertama yang biasanya Saya lakukan begitu sampai di Hat Yai memang check-in hotel agar tidak rempong bawa barang untuk berkeliling sekitarnya. Tips paling penting memang pilih hotel yang dekat dengan area Lee Garden aja.

Kenapa begitu? Karena hampir semua aktivitas bisa kamu lakukan dengan jalan kaki doank. Ini membuat hemat budget khususnya para backpacker yang masih punya rencana trip lainnya. Saya pun mendapatkan penginapan sejenis dormitory yang murah hanya 150 ribuan dengan fasilitas sudah ada pendingin ruangan, kamar mandi dan sarapan pagi di dapur dan paling penting eggak perlu ribet naik transport lagi, hemat tenaga, hemat waktu karena jalan doank ke jalur belakang hostel.

Makan Murah Meriah, Tapi Rasanya Wah


Perut mulai lapar karena sudah gerak sejak pagi dari Penang maka ini saatnya eksplor kuliner. Saya jalan santai ke sekitar Hat Yai Plaza Market dan langsung disambut aroma makanan yang menggoda banget. Sepanjang jalan sudah tampak para penjual jalanan a.k.a street food seller dengan beragam pilihan makanan baik yang pedas, segar, asam dan manis.

Paling suka banget dengan Hat Yai ini karena pilihan makanannya banyak dan harganya ramah di kantong. Sebagai solo traveler yang akan menghabiskan semua sendiri tentu cari yang hemat tapi buat kenyang.

Saya pun tidak melewatkan kwetiau untuk mengenyangkan seketika, tampak penjual yang berhijab pun banyak di sekitar Lee Garden Walking Street sehingga engga terlalu sulit cari makanan halal. Setelah itu, tentu tidak akan pernah melewatkan beli mango sticky rice saat di Thailand, serta nikmati minum thai tea segar.




Ssstt, ternyata enggak cukup cuma jajan itu karena semua penjual seperti memanggil untuk dibeli jualannya. Saya pun beli es krim kelapa, aneka buah potong yang tidak boleh tertinggal juga serta roti pisang coklat yang yummy.

Total pengeluaran? Nggak sampai 100 ribu rupiah kok dan jujur, ini salah satu momen yang bikin mikir, “Kenapa di sini bisa semurah ini tapi seenak ini?” Pantesan aja banyak traveler suka berlibur ke Thailand khususnya kota kecil gini.

Perut Kenyang Waktunya Belanja


Setelah kenyang, Saya coba masuk ke Lee Gardens Plaza Shopping Mall Hat Yai buat cari suasana yang lebih adem, sekedar lihat doank atau mau belanja boleh aja. Mall ini memang biasa saja sih tapi bisa lihat ada produk fashion seperti baju, tas maupun sepatu.

Jika mau yang lebih besar dan modern, tapi tetap punya sentuhan lokal bisa juga ke Central Festival Hat Yai tapi tentu gak berada di kawasan Lee Garden Walking Street. Btw, di sini kamu bisa temukan outfit ala Thailand yang chic dan affordable.

Mau cari snack khas Thailand buat oleh-oleh bisa kok di pinggir jalan juga, banyak toko yang menjual dengan harga miring kalau bisa tawar menawar. Cari skincare dan kosmetik lokal yang lagi viral dengan harga murah meriah pun ada, masuk ke Watsons atau Guardian jangan ragu karena biasa juga banyak promo atau diskonan.

Disini sih rasanya kayak lagi di Bangkok, seketika Saya teringat liburan beberapa tahun lalu di sana tapi versi lebih santai dan nggak terlalu ramai aja. Serta tentu saja wajahnya didominasi warga lokal sih dan tetap mudah mencari makanan lokal yang halal.

 Malam Puncaknya: Lee Garden Walking Street


Nah, ini bagian yang paling ditunggu begitu malam tiba, area Lee Garden Walking Street berubah jadi super hidup. Lampu warna-warni, musik jalanan, dan deretan street food bikin suasana jadi magical banget.

Saya berjalan pelan, menikmati setiap sudut kawasannya kemudian bisa belanja dari penjual lokal yang menjajakan barang dagangan terutama mau beli celana murah meriah atau baju serta souvenir sih.

Di sini kamu bisa jajan seafood bakar, beli dessert unik, hunting aksesoris lucu dengan harga miring, nonton street performance yang seru dan yang paling disukai itu suasananya friendly banget, bahkan buat yang jalan sendiri seperti Saya. Rasanya kayak lagi di tempat asing, tapi tetap nyaman.

Tengah malam pun masih ramai, biasanya di beberapa kota, jam hampir tengah malam tuh udah mulai sepi. Tapi di Hat Yai? Tentu tidak deh makanya nikmati saja dulu momen disitu sampai puas.

Coba Thai Massage di Penginapan

Berhubung penginapan murah meriah sejenis dormitory yang berada di lantai 2, nah untuk lantai 1 terdapat masssage ala Thai. Pemiliknya juga masih sama dengan penginapan sehingga bisa mendapatkan potongan harga.




Saya pun tidak mau melewatkan kusuk-kusuk ala Thailand setelah itu refleksi kaki, rasanya nikmati sekali dan budget yang dikeluarkan pun paling sekitar 100-200 ribuan doank. Kamu akan mudah temukan Thai massage ini di sekitar kawasan Lee Garden Walking Street kok.

Setelah kusuk manja tentu lanjut tidur donk, enaknya berada di satu tempat begini. Sudah langsung bisa beristirahat dari perjalanan panjang dan kusuk pun tidak sia-sia. Di Hat Yai ini, banyak pernjual maupun massage begini buka sampai jelang pukul 2 pagi bahkan mungkin ada yang 24 jam ya makanya nikmati saja deh.

Pagi yang Tenang, Penutup yang Bikin Kangen


Setelah semalam penuh keramaian, nikmati pagi di Hat Yai terasa jauh lebih pelan. Saya tetap keluar hotel di pagi hari, jalan santai menuju pasar terdekat, dan cari sarapan sederhana. Secangkir kopi dan roti hangat jadi penutup yang sempurna sebelum check-out.

Eh, ternyata memasuki pasar tradisional di Hat Yai sangat seru, bahkan cukup jalan kaki dari penginapan sih. Terdapat aneka penjual makanan aneka kue tradisional dan tentu saja banyak buah-buah juga. Jadilah bisa sarapan enak dan kenyang sesuai selera nih.




Setelah selesai, lalu muncul dan tersadar di momen ini bahwa Hat Yai bukan cuma soal murah atau dekat dari Indonesia maupun Penang. Tapi soal pengalaman sederhana yang terasa lengkap dengan waktu singkat.

So, worth it enggak 24 jam di Hat Yai? Jawabannya tentu worth it banget lah. Dalam waktu singkat, Saya bisa istirahat nyaman tanpa mahal, makan enak tanpa over budget, belanja senang tanpa rasa bersalah dan tetap punya pengalaman travel yang berkesan bersama warga lokal.

Kalau kamu lagi cari destinasi luar negeri yang hemat, dekat, tapi tetap seru tentu Hatyai wajib masuk list kamu. Dan siapa tahu, 24 jam kamu di sini justru bikin pengen balik lagi kayak Saya. Yuk ah, save artikel ini buat itinerary kamu nanti, ya! Kalau kamu punya versi 24 jam di Hat Yai, share juga ya di kolom komentar karena Saya pun penasaran.
Ngobrolin tentang traveling memang enggak ada habisnya, selalu ada hal menarik dan penuh kesan. Kali ini mau ngebahas tentang kalau traveling itu sebenarnya memang bukan cuma untuk orang kaya. Kalau kawan melalak cantik sering baca atau tonton video perjalanan banyak cerita yang dibagikan paling berkesan justru datang dari mereka yang berangkat dengan budget terbatas. 



Traveling Bukan Cuma Untuk Orang Kaya


Memang ini sempat pula menjadi bahan pemikiran setiap kali melihat foto liburan orang lain yang terlihat “sempurna”. Hotel estetik, outfit cantik, itinerary rapi, kok kesannya memang yang orang kaya aja bisa nikmati sih.

Rasanya seperti ada standar tak tertulis bahwa kalau belum bisa seperti itu, berarti belum layak traveling. Tapi setelah benar-benar mencoba, Saya sadar satu hal yang cukup menampar, traveling itu bukan tentang siapa yang paling kaya, tapi siapa yang paling berani mulai. Dan dari situlah perspektif mulai berubah dan makin semangat ngetrip ke berbagai tempat lainnya.

Traveling Itu Mahal? Atau Kita yang Salah Melihat?


Media sosial punya peran besar dalam membentuk persepsi kita dimana sudah terlalu terbiasa melihat perjalanan dalam versi terbaiknya, yang sudah dipilih, diedit, dan dipoles sedemikian rupa. Tanpa kita sadari, ada pola pikir mulai menyamakan “traveling” dengan “kemewahan” padahal kenyataannya jauh lebih luas dari itu.

Traveling bukan selalu tentang naik pesawat kelas bisnis atau menginap di hotel bintang lima. Traveling bisa sesederhana naik kereta ke kota sebelah, menjelajah tempat baru, mencoba makanan lokal, dan pulang dengan cerita yang berbeda. Inilah bisa dikatakan bahwa masalahnya bukan pada biaya, tapi pada ekspektasi yang terlalu tinggi sejak awal.

Mindset yang Harus Diubah Sebelum Traveling


Sebelum bicara tentang budget, ada satu hal penting yang sering dilupakan oleh para pejalan yang mau melakukan trip yaitu tentang mindset, beberapa jebakan pola pikir seperti ini:

1. “Aku harus punya banyak uang dulu”: Tidak selalu benar

Banyak orang menunda traveling sampai merasa “cukup kaya”. Padahal, semakin lama menunggu, biasanya justru semakin banyak alasan baru muncul. Traveling tidak harus menunggu sempurna.

2. “Traveling harus kelihatan keren”: Ini jebakan terbesar

Kalau tujuan utamamu adalah terlihat keren di media sosial, maka traveling akan terasa mahal. Tapi kalau tujuanmu adalah pengalaman, kamu akan lebih fleksibel.

3. “Semua tempat harus dikunjungi”: Tidak realistis

Satu perjalanan tidak harus mencakup semuanya. Justru dengan memilih beberapa hal saja, kamu bisa menikmati lebih dalam tanpa harus menguras budget.

Cara Traveling Hemat Tanpa Mengorbankan Pengalaman


Saya belajar banyak dari perjalanan dengan budget terbatas sejak awal memulai solo trip yang ternyata, ada banyak cara untuk tetap menikmati tanpa harus boros. Beberapa poin yang perlu dipersiapkan benar untuk bisa hemat diantaranya yaitu:

1. Transportasi: Fleksibel adalah kunci

Tiket pesawat memang cepat, tapi bukan satu-satunya pilihan. Bus, kereta, bahkan travel lokal sering jauh lebih murah. Kalau ingin tetap naik pesawat, cobalah untuk booking sejak jauh hari, pilih jam penerbangan yang tidak populer, gunakan promo atau poin. Dengan adanya sedikit strategi bisa menghemat banyak budget tentu saja.

2. Penginapan: Nyaman tidak harus mewah

Banyak orang berpikir harus menginap di hotel bagus agar perjalanan terasa “worth it”. Padahal, sekarang ada banyak alternatif untuk bisa mendapatkan tempat tinggal selama ngetrip seperti hostel dimana biayanya bisa lebih murah & bisa ketemu teman baru, guesthouse lokal, homestay atau bahkan coba couchsurfing deh.

Untuk penginapan ini yang penting bersih, aman, dan sesuai kebutuhan saja. Karena jujur, sebagian besar waktu kita justru dihabiskan di luar, bukan di kamar doank. Kita hanya beristirahat dari perjalanan panjang seharian.

3. Makanan: Justru di sinilah pengalaman terbaik

Kalau kamu ingin benar-benar merasakan suatu tempat, jangan hanya makan di restoran mahal. Coba makanan lokal, biasanya street food seringkali lebih murah, lebih autentik dan lebih memorable. Saya pribadi justru lebih ingat rasa makanan kaki lima dibanding menu mahal di restoran fancy. Tapi bukan berarti tidak pernah beli makanan di restoran negara lainnya ya.

4. Destinasi: Tidak harus viral

Tempat viral memang menarik, tapi biasanya lebih mahal, lebih ramai dan dibuat sekedar lebih untuk foto. Cobalah mulai eksplor tempat yang kurang populer dimana terkadang justru di situlah kamu menemukan pengalaman yang lebih personal dan tenang.

Traveling Hemat Justru Membuatmu Lebih “Hidup”

Hah?Apa pula maksudnya nih? Ada satu hal yang jarang dibahas yaitu traveling dengan budget terbatas seringkali terasa lebih “hidup”. Kenapa? Karena lebih terlibat dalam setiap keputusan, kamu lebih banyak berinteraksi dengan orang lokal dan lebih menghargai setiap pengalaman kecil.

Berbeda dengan perjalanan mewah yang serba nyaman, traveling hemat membuatmu belajar untuk beradaptasi, mengatur prioritas, menghargai proses dan dari situlah cerita-cerita terbaik lahir.

Soal Uang: Realistis Tapi Tetap Bisa Jalan


Memang tidak bisa dipungkiri, traveling tetap butuh uang donk tapi bukan berarti harus banyak sekaligus. Beberapa cara yang bisa dicoba seperti menyisihkan sedikit demi sedikit, kurangi pengeluaran yang tidak terlalu penting. Bisa pula cari tambahan income kecil dari freelance, jualan, dan lain sebagainya.

Hal yang terpenting bukan jumlahnya besar, tapi konsistensi untuk mengumpulkannya. Traveling itu bukan soal “punya uang banyak sekarang”, tapi soal “bagaimana kamu mengelola yang ada”.

Traveling Bukan Tentang Lari, Tapi Menemukan


Banyak orang mengira traveling adalah bentuk pelarian. Tapi buat Saya, traveling justru cara untuk menemukan dimana ada versi diri yang lebih berani, bisa menemukan perspektif baru tentang hidup. Dan kadang, menemukan bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari hal-hal mahal.

Saya pernah duduk di tempat sederhana, tanpa fasilitas mewah, tanpa sinyal internet yang stabil, nikmati pinggiran pantai tapi merasa jauh lebih tenang dibanding hari-hari biasa. Dan saat itu tersadar bahwa mungkin yang kita cari selama ini bukan tempat yang mahal, tapi momen yang jujur.
 
Jadi, Siapa Bilang Traveling Cuma Untuk Orang Kaya? Kalau kamu masih merasa traveling itu “bukan untukmu”, coba tanya lagi ke diri sendiri, apakah benar karena tidak mampu, atau karena belum mencoba dengan cara yang berbeda?

Kamu tidak harus langsung ke luar negeri kok, tidak harus punya itinerary sempurna serta tdak harus terlihat seperti travel influencer karena penting untuk mulai dari yang sederhana karena dunia ini terlalu luas untuk hanya dilihat dari satu tempat. Dan percaya deh, traveling bukan milik orang kaya tetapi milik siapa saja yang berani melangkah, termasuk kamu.  Gimana? Sudah mulai ada ide untuk penjelajahan?
Seketika ingin flashback menuju masa pertama kali menginjakkan kaki ke Bangkok sekitar tahun 2017. Dulu, tentu saja bukan kota ini menjadi tujuan utama ketika ke Thailand, sempat melewati Hat Yai namun belum terlalu banyak lakukan penjelajahan.




Beda Rasa Bangkok vs Hat Yai


Jika boleh jujur, Saya sempat berfikir bahwa semua kota di Thailand itu bakal punya vibe yang mirip, chaotic tapi charming, penuh street food enak, dan super aesthetic buat foto. Tapi semua asumsi itu langsung runtuh begitu menginjakkan kaki di Bangkok dan beberapa bulan kemudian penjelajahan lanjut ke Hat Yai.

Dua kota ini? Beda banget. Bahkan bisa bikin kamu mikir, “Ini masih satu negara, kan? Kok bisa beda banget yak"




Kesan Pertama Bikin Kaget


Di Bangkok, Saya langsung disambut dengan kota metropolitan yang super hidup. Gedung tinggi, mall besar, transportasi modern, rasanya kayak perpaduan Jakarta dan Seoul. Tapi begitu sampai di Hat Yai, suasananya berubah drastis. Lebih santai, lebih “lokal”, dan jauh dari kesan kota besar sih.

Shock pertama? Saya merasa kayak pindah dunia. Kalau Bangkok itu sibuk dan cepat, Hat Yai itu tenang dan sederhana. Wajah yang terlalu familiar didominasi dengan warga lokal, bahkan turis pun tidak tampak ramai seperti di Bangkok.

Transportasi: Modern vs Manual


Di Bangkok, Saya dimanjakan dengan Bangkok BTS yang super praktis, mau bepergian sekitar dalam kota bisa langsung tap kartu, naik, dan sampai tujuan tanpa drama macet. Memang tetap harus sabar menunggu kedatangan BTS dan terkadang harus siap pula untuk berdiri jika terlalu penuh penumpangnya.

Bagaimana dengan transportasi di Hat Yai? Jangan harap ada kereta modern seperti itu. Transportasi lebih banyak pakai tuk-tuk atau kendaraan lokal. Awalnya terasa ribet, tapi justru di situlah pengalaman uniknya sih.

Tapi, berhubung keseringan solo traveling dan mau praktis tanpa bertanya tentang tuk-tuk yang menuju ke tujuan maka naik ojek online lebih praktis sih. Ini salah satu momen di mana Saya harus lebih fleksibel sebagai traveler, harus bisa menyesuaikan transportasi yang mau digunakan selama ngetrip.

Kuliner: Surga Street Food vs Hidden Local Gems


Bangkok itu surganya street food modern mulai dari yang viral sampai yang Michelin star pun ada. Semua terlihat cantik, tertata, dan Instagramable. Tapi Hat Yai? Lebih “jujur”, makanannya mungkin nggak selalu estetik, tapi rasanya? Gila sih, autentik banget. Bahkan beberapa makanan lokal di sana rasanya lebih “ngena” dibanding yang dicoba di Bangkok.

Shock berikutnya adalah tentu jangan nilai makanan dari tampilannya aja, terkadang estetik doank tapi rasanya masih biasa sih. Tapi, ketika mengunjungi Bangkok dan Hat Yai memang tetap lebih banyak hunting makanan lokal yang tentu saja cari ada label halal.

Bahasa & Interaksi: Lebih Mudah vs Lebih Menantang


Di Bangkok, ada banyak orang yang sudah terbiasa dengan turis. Bahasa Inggris cukup membantu walaupun masih tetap harus menelaah lebih dalam untuk aksen yang digunakan oleh warga lokal. Di Hat Yai, Saya sempat struggle terutama jika mau bertanya tentang lokasi karena eggak semua fasih berbahasa Inggris, jadi harus lebih banyak pakai gesture atau Google Translate.

Tapi justru di situ lebih merasa interaksinya lebih hangat, lebih genuine meskipun harus bersabar untuk bisa punya komunikasi berlanjut. Ketika menanyakan harga juga sebenarnya lebih asik kalau tahu bahasa lokal agar mudah untuk tawar menawar.

Biaya: Bangkok Menguras, Hat Yai Bersahabat


Ini bagian yang paling terasa bagi solo traveler yang mode liburan hemat alias ala backpacker. Masa pertama kali ngetrip ke Bangkok tuh memang masih awal memulai sehingga masih penuh perhitungan untuk segala budget yang dikeluarkan.

Bangkok bisa jadi cukup mahal, apalagi kalau kamu kalap belanja atau nongkrong di cafe aesthetic. Pilihan toko fashion banyak, mall mewah berebut mencuri perhatian makanya duit bisa habis kalau tidak mengontrol diri. Sementara Hat Yai jauh lebih ramah di kantong, pilihan mall pun tidak beragam.

Mulai dari makanan, transportasi, sampai penginapan, semuanya terasa lebih ringan di Hat Yai. Sebagai solo traveler tentu masih mencari dormitory sehingga bisa sharing kamar dengan traveler lainnya. Biaya yang dikeluarkan tentu saja bisa lebih hemat.

Aesthetic & Spot Foto: Kota Instagram vs Kota Cerita


Kalau kamu tipe traveler yang cari konten cantik, Bangkok jelas juaranya donk,hampir setiap sudut bisa jadi spot foto bahkan terus bertambah aneka atraksi wisata disana. Hat Yai? Tentu saja enggak sebanyak itu. Tapi justru di sana kamu dapat “cerita”, bukan sekadar foto saja.

Dan sebagai konten kreator, aku belajar bahwa enggak semua tempat harus aesthetic untuk bisa jadi menarik. Awal pertama ngetrip ke Hat Yai hanya lakukan penjelajahan di sekitar kota tapi ketika berkesempatan bersama teman-teman maka kami sewa transportasi lokal untuk jelajah beragam kawasan lainnya sehingga dapat spot foto yang menarik pula.

Tips Tetap Cantik Saat Traveling di Dua Kota Ini


Percaya deh, cuaca Thailand itu bisa bikin makeup luntur dalam hitungan jam. Jadi ini beberapa trik andalan agar bisa tetap tampil on point berfoto di depan spot wisata. Pertama, tentu saja harus gunakan sunscreen karena ini menjadi hal wajib terutama di Bangkok yang panasnya lebih “menusuk”.

Kedua, pilih makeup ringan dan tahan lama, pastikan pula selalu bawa face mist biar tetap fresh. Berhubung di Hat Yai lebih santai, Saya malah lebih sering tampil natural dan surprisingly, itu justru bikin lebih nyaman saat berkeliling tempat wisata. Cantik itu bukan soal full makeup, tapi soal feeling good selama perjalanan. So, pilihlah yang sesuai dengan kenyamana diri aja ya.

So, Pilih Bangkok atau Hat Yai?


Kalau kamu suka city vibes, modern lifestyle, dan konten aesthetic, tentu saja Bangkok adalah jawabannya. Tapi kalau kamu pengen pengalaman yang lebih lokal, santai, dan hemat maka Hat Yai bisa jadi pilihan yang lebih “kena di hati”.

Buat Saya pribadi?Tetap butuh keduanya karena ternyata, traveling itu bukan cuma soal destinasi, tapi tentang bagaimana setiap tempat bisa kasih rasa yang berbeda dan kadang, rasa itu datang dari hal-hal yang enggak kita duga sebelumnya.

Dan melalui trip ke Bangkok hingga ke Hat Yai, Saya belajar beragam hal diantaranya jangan pernah berekspektasi terlalu sempit pada sebuah tempat karena bisa jadi, justru perbedaan itulah yang bikin perjalanan kamu jadi cerita yang nggak terlupakan. Kalian gimana? Adakah punya cerita seru selama ngetrip di Bangkok dan Hat Yai, gaes?
Katanya kalau mau traveling itu harus siap ‘kucel' dengan kulit kusam, rambut seadanya, dan outfit yang penting nyaman aja gitu Tapi entah kenapa, Saya nggak pernah benar-benar percaya dengan anggapan itu karena meskipun berlibur tetap harus on point.

cara tetap glow up saat traveling



Kalimat seperti itu sempat terlintas di kepala saat pertama kali memutuskan untuk solo trip dengan budget terbatas pada tahun 2017 akhir. Waktu itu, Saya terlalu fokus menekan pengeluaran sampai lupa satu hal penting: perasaan nyaman dengan diri sendiri.

Hasilnya? Memang hemat, tapi setiap bercermin rasanya kurang percaya diri apalagi blog ini sejak awal dibangun punya citra melalak cantik yang mana saat traveling harus tetap terlihat on point. Di sisi lain, pernah juga terlalu sibuk ingin terlihat “sempurna” saat traveling tapi tentu saja ujung-ujungnya dompet yang menjerit pelan.

Dari dua pengalaman yang bertolak belakang itu, Saya akhirnya belajar satu hal sederhana: traveling itu bukan soal memilih antara hemat atau tetap cantik. Keduanya bisa berjalan beriringan, asal tahu caranya sih.

Buat Saya sekarang, definisi “cantik saat traveling” sudah berubah yang mana bukan lagi tentang makeup lengkap atau outfit yang selalu on point, tapi lebih ke bagaimana bisa tetap merasa segar, rapi, dan nyaman di setiap langkah perjalanan. Cantik versi ini terasa lebih ringan, lebih jujur, dan justru lebih memancarkan percaya diri serta tentu saja budget lebih bersahabat.

Gimana Cantik Saat Traveling?


Salah satu kunci utamanya ternyata ada di cara kita packing. Dulu Saya sering membawa terlalu banyak produk, dengan alasan “jaga-jaga”. Padahal kenyataannya, setengah dari isi tas itu tidak terpakai. Bahkan pernah kelebihan bagasi sehingga harus membayar lebih hanya untuk barang bawaan saja.

Sekarang, Saya lebih memilih membawa skincare ukuran travel size dengan fungsi dasar: pembersih wajah, pelembap, dan sunscreen. Sesederhana itu, tapi efeknya luar biasa. Kulit tetap terjaga, tas lebih ringan, dan nggak perlu repot setiap kali harus pindah tempat.

Hal yang sama juga berlaku untuk makeup. Sekarang lebih mulai mengandalkan produk multifungsi saja seperti lip tint yang bisa dipakai untuk bibir sekaligus blush on. Praktis, hemat tempat, dan tetap bikin wajah terlihat fresh untuk foto-foto kecil yang seringkali jadi kenangan paling berharga.

Lalu soal outfit, ini bagian yang dulu cukup tricky apalagi sudah punya branding si paling kece gaya saat liburan. Ingin terlihat stylish, tapi juga nggak mau over budget lagi deh terutama sayang untuk bayar bagasi pulang dan pergi.

Solusinya ternyata sederhana: pilih warna-warna netral dan model yang mudah dipadupadankan. Dengan beberapa potong pakaian saja, bisa menciptakan berbagai look yang berbeda. Selain itu, outfit yang nyaman juga memberi efek besar pada aura kita. Karena jujur saja, rasa percaya diri itu seringkali datang dari kenyamanan serta terkadang beli aja di kota yang dituju sehingga pergi ringan tapi pulang bisa bawa pakaian dari tempat berbeda.

Rahasia Cantik Dari Dalam


Selain penampilan luar, Saya juga mulai lebih memperhatikan self-care kecil selama perjalanan. Minum air putih yang cukup, istirahat yang terjaga, dan memberi waktu untuk diri sendiri meskipun hanya duduk santai di sudut kafe atau menikmati pemandangan tanpa terburu-buru. Hal-hal sederhana seperti ini ternyata sangat berpengaruh pada bagaimana kita terlihat dan merasa.

Seketika kembali memori ke satu momen saat duduk di sebuah kafe kecil setelah seharian berjalan kaki. Wajah Saya mungkin tidak sempurna, jilbab sudah tidak terlalu on point karena angin, tapi ada rasa tenang yang sulit dijelaskan. Di sekeliling, banyak orang dengan gaya mereka masing-masing, simple, santai, tapi tetap menarik dengan cara yang unik. Di situlah Saya sadar, cantik itu bukan tentang seberapa banyak usaha yang terlihat, tapi tentang bagaimana kita membawa diri.







































Pernah nggak sih, kamu booking penginapan cuma karena “yang penting murah dan strategis” tapi ternyata malah jadi salah satu bagian paling berkesan dari perjalananmu? Well, itu persis seperti yang Saya rasakan bersama suami waktu pertama kali menginap di Swing & Pillows Georgetown Penang.

review swing and pillows penang


Review Swing and Pillows Penang


Ini merupakan sebuah hostel yang diam-diam punya cara sendiri untuk bikin tamunya jatuh hati sih. Awalnya, kami nggak berekspektasi banyak karena saat berlibur di akhir tahun tidak mudah menemukan penginapan murah dan nyaman.

Sebagai pejalan yang lebih suka menghabiskan budget untuk kuliner dan eksplorasi kota, penginapan buat Saya tentu saja sekadar tempat untuk istirahat setelah seharian lakukan penjelajahan. Sebelum menikah pun lebih sering menginap di apartemen yang sudah lengkap fasilitas dengan harga terjangkau tapi lokasi memang kebanyakan di Bayan Lepas, cukup jauh ke kawasan wisata di George Town.

Hal yang paling penting lainnya juga tidak menyeramkan karena tidak sedikit hostel di Penang yang haunted. Bagi Saya untuk cari hostel yang penting bersih, aman, nyaman dan lokasinya strategis sih. Tapi begitu sampai di kawasan George Town, semua terasa sedikit berbeda. Jalanan yang penuh warna, mural di setiap sudut, dan aroma makanan yang menggoda seolah menyambut perjalanan ini dengan hangat.

First Impression Hostel Murah Gak Murahan


Kesan pertama menginjakkan kaki di Swing and Pillows sempat kebingungan karena ternyata ada dua hostel dengan nama yang sama di lorong yang sama pula. Saya pun memastikan kembali bahwa yang kami tuju sudah tepat meskipun tampak sepi dan seperti tak nampak ada kehidupan dari luar.




Memang sejak awal sudah tahu bahwa proses check-in dilakukan sendiri, hanya perlu menghubungi via WhatssApp ke admin. Kemudian, akan diberikan kode untuk bisa masuk ke pintu utama dan kamar. Tentu saja semuanya sudah disiapkan oleh pihak hostel termasuk kamar dan kebutuhan lainnya.

Proses check-in di hostel ini terbilang cepat dan tanpa ribet. Nggak ada kesan mewah memang, tapi justru itu yang bikin suasananya terasa santai. Interiornya minimalis dengan dominasi warna netral, dipadukan dengan pencahayaan hangat yang bikin suasana terasa nyaman. Bukan tipe tempat yang langsung bikin “wow” di awal, tapi perlahan bikin betah sih.




Begitu masuk ke ruangan utama tampak memang kesedarhanaan itu, tapi ketika naik ke lantai atas mulai terlihat interior yang memiliki nilai seni. Syukur saja tidak merasakan horor walaupun lampu remang-remang sedikit menakutkan karena memang suasana sangat sepi.

Ketika masuk ke kamar, kesan pertama yang muncul adalah: simple, tapi cukup buat berdua bersama suami. Tempat tidurnya empuk, sprei bersih, dan yang paling penting ada AC-nya dingin (trust me, ini penyelamat di Penang yang cuacanya bisa cukup terik).

Apa yang Buat Betah di Swing and Pillows?


Ada banyak hal yang buat betah di hostel murah tapi gak murahan ini bahkan Kami yang awalnya hanya 3 malam bisa extend 2 malam lagi lho.  Buat kamu yang seperti Saya, yang kadang masih harus update blog atau upload konten selama traveling, koneksi WiFi di sini juga cukup stabil. Jadi nggak perlu drama cari sinyal ke sana-sini deh, mau di kamar atau ruang komunal bahkan dapur tetap bisa kok.

Yang aku suka dari Swing & Pillows adalah konsepnya yang “nggak berlebihan, tapi ngena” banget. Mereka tahu kebutuhan traveler masa kini: tempat istirahat yang nyaman, lokasi strategis, dan harga yang bersahabat. Nggak ada fasilitas super fancy, tapi semua yang ada terasa cukup dan fungsional sih.

Traveler yang menghemat juga cocok disini, bayangin aja Penang dengan cuaca panas itu tentu butuh minum air putih yang banyak. Jika selalu beli air di supermarket tentu bisa menghabiskan banyak anggaran donk. Bersyukur deh bisa isi air dingin, mau air hangat juga bisa di dapur sehingga tiap keluar bisa penuhi semua botol minum terlebih dahulu sebelum keluar untuk jalan-jalan.

Fasilitas lainnya tentu saja bisa cuci kain karena ada jemuran kecil, tempat menggantungkan baju di kamar seperti lemari kecil, ada pula meja kecil dan bangku untuk kerja serta lampu kamar yang bisa diganti-ganti warna sehingga suasana makin romantis bersama suami.

Dan soal lokasi, ini salah satu nilai plus terbesar sih. Dari hostel, Saya dan suami bisa jalan kaki ke berbagai spot menarik di George Town. Mau cari street art ikonik? Tinggal jalan santai. Mau kulineran? Pilihannya banyak banget, dari makanan kaki lima sampai hidden gem yang sering direkomendasikan warga lokal. Rasanya seperti tinggal di tengah cerita, bukan sekadar jadi turis yang lewat gitu aja.

Momen Menarik Untuk Diingat

Ada satu momen yang cukup buat Saya mengingatnya dimana saat pagi hari Saya dan suami keluar hostel untuk mencari sarapan masih sekitar pukul 7 pagi. Udara masih segar, jalanan belum terlalu ramai, dan suasana kota terasa lebih “hidup” dengan cara yang tenang. 




Rasanya memang ini dinamakan slow living sih, kenyamanan yang hadir membuat hubungan makin romantis. Di momen itu, Saya pun sadar bahwa pengalaman menginap bukan cuma soal tempat tidur, tapi juga bagaimana sebuah tempat bisa membuat kita merasa lebih dekat dengan kota yang kita kunjungi.

Swing & Pillows juga cocok banget untuk berbagai tipe traveler sih. Seketika kepikiran juga kenapa dulu belum menemukan hostel ini saat masih suka liburan sendirian. Buat solo traveler, tempat ini terasa aman dan nyaman.

Buat backpacker, jelas ramah di kantong. Bahkan buat content creator yang butuh spot estetik sederhana, beberapa sudut di hostel ini masih cukup “Instagramable” dengan gaya minimalisnya. Saya pun melihat ada banyak wisatawan mancanegara yang menginap disini, terlihat saat mereka berkumpul di ruang komunal maupun ketika makan di dapur.




So, menurut Saya dan sudah bertanya pula ke suami bahwa tempat ini direkomendasikan deh untuk yang cari penginapan murah tapi gak murahan. Ada yang sudah punya pengalaman menginap disini? Yuk berbagi ceritanya di kolom komentar.
Pertama kali Saya jalani solo trip di Indonesia, rasanya deg-degan tapi masih ‘aman’ yang dalam artian bisa dilalui dengan hati sedikit tenang. Tentu ada hal berbeda saat pertama kali keluar negeri sendirian, semuanya berubah mulai dari cara pesan makanan sampai cara percaya diri ngomong sama orang asing.

Mengingat perjalanan solo di dalam negeri itu dilakukan pertama kali saat mengikuti kegiatan Model United Nation (MUN) di Universitas Diponegoro tahun 2012. Akhirnya malah ngetrip keliling Pulau Jawa karena pengen ngerasain pindah antar provinsi naik kereta api.

Sejak sudah senang mencoba liburan sendiri di Indonesia, rasa penasaran bertambah hingga mau solo trip ke luar negeri. Itulah dimulai pada tahun 2017 setelah liburan ke luar negeri pertama bersama kawan-kawan pada tahun sebelumnya.

Apa Sih Serunya Liburan Sendiri?

Tentu saja ini belum tentu cocok bagi semua orang, bepergian sendirian membutuhkan mental yang kuat dan keberanian yang tidak biasa. Jika kebanyakan orang lebih memilih ngetrip dengan travel agent atau bersama teman-teman tapi Saya lebih prefer untuk solo trip saja.




Keseruan yang dirasakan berbeda dan ada pengalaman tersendiri yang tidak biasa. Bisa berinteraksi dengan orang baru dimulai dari komunikasi yang disampaikan dari pertemuan singkat. Menantang diri untuk mencari destinasi yang mau dituju sambil lihat peta dan bertanya ke warga sekitar.

Setelah perjalanan sendiri ini ada kenangan yang membuat diri menjadi semakin kuat menghadapi tantangan kehidupan. Bisa bertahan sendiri di negeri orang yang tentu saja harus bisa mengatur keuangan dan kemampuan diri untuk beradaptasi.

Ririn Wandes mulai dikenal dengan melalak cantik sejak awal suka menulis artikel perjalanan dan membagikan foto maupun video di media sosial mengenai hang out maupun info cafe serta wisata terbaru. Kemudian sejak lakukan solo trip ke luar negeri makin dikenal dan banyak mendapat tawaran job serta diundang jadi pembicara.

Kenapa Akhirnya Mau Solo Trip?

Pertanyaan yang tidak sedikit ditanyakan oleh teman maupun para pembaca serta pengikut di media sosial. Berhubung pada masa itu belum terlalu banyak perempuan yang melakukan perjalanan sendirian. Apalagi memang informasi pun tidak begitu mudah didapatkan seperti saat ini.

Jika dulu hanya sedikit wanita yang mau lakukan solo trip, sekarang tentu saja semakin meningkat terutama untuk trip keliling ASEAN. Postingan yang dibagikan melalui konten foto dan video di media sosial semakin berserakan, dengan mudah bisa ditonton dan dapatkan informasinya.




Akhirnya mau solo trip ini memang ternyata lebih fleksibel saja sih, bisa dilakukan tanpa menunggu jadwal liburan yang sama dengan orang lain. Jika harus nunggu bisa bersamaan tentu tidak sesuai dengan keinginan.

Perrnah janjian mau liburan, jadwal libur kerja berbeda. Sekalinya bisa libur tapi duit yang terkumpul tidak sama. Saya pun harus menyesuaikan jadwal bisa cuti dari tempat kerja dengan uang simpanan yang dimiliki. Itulah sebabnya memang akhirnya memutuskan mau solo trip saja dan ternyata seru hingga keberlanjutan.

Apa Sih Perbedaan Solo Trip di Indonesia dan Luar Negeri?

Berani bepergian sendirian di Indonesia dan luar negeri tentu saja ada perbedaan yang dirasakan dari perjalanan di lingkungan yang berbeda. Jika kawan melalak cantik bertanya apa sih perbedaannya, mari simak selengkapnya di bawah ini:

1. Rasa Aman dan Nyaman

Di Indonesia, Saya sih masih bisa ‘nekat’ karena tahu kalau tersesat pun masih bisa nanya dengan nyaman. Aura warganya masih sedikit dikenali apalagi bisa pakai bahasa yang satu sama lain masih saling ngerti. Tapi di luar negeri, harus bisa belajar lebih prepare, mulai dari save map offline sampai catat alamat hotel karena khawatir tersesat dan tidak mudah bertanya jika tidak semua bisa berbahasa Inggris.

2. Bahasa dan Komunikasi

Bisa saja dari bahasa yang berbeda dan gaya komunikasi menimbulkan kesalahpahaman. Jika di dalam negeri bisa gunakan bahasa sama pun tetap perhatikan intonasi. Begitu pula di luar negeri, harus bisa cari yang punya pemahaman Bahasa Inggris. Kejadian saat di Turki, tidak sedikit pula yang kesulitan dalam menggunakan bahasa Inggris sehingga sulit mau bertanya tentang informasi tertentu.

3. Budget dan Pengelolaan Uang

Berlibur di dalam negeri tidak khawatir nilai tukar mata uang berubah, pembayaran bisa lebih fleksibel dan tidak berubah. Cukup gunakan mata uang yang sama, bisa transaksi tunai dan non tunai dengan lebih mudah pula. Sedangkan saat di luar negeri harus prepare bawa duit tunai yang sudah ditukar tapi juga perlu siapkan kartu yang bisa digunakan untuk pembayaran di luar negeri.

Itulah perbedaan yang perlu dipahami dan dilakukan saat bepergian seorang diri baik di dalam dan luar negeri. Perlu diketahui agar tidak kebingungan nantinya ketika mua coba solo trip pertama kali.





























Older Posts

Total Tayangan Halaman

HELLO, THERE!


Hello, There!
Hello, There!
My name is Ririn Famur Wandes Rahayu Lubis. I am from Medan, North Sumatera, Indonesia.

Find More



LET̢۪S BE FRIENDS


recent posts

Labels

Blogger Medan Cafe Medan English Article Lifestyle Blogger Review Cafe Solo Backpacker Tips Melalak Cantik Tips Traveling Wisata Asia Tenggara Wisata Indonesia

Blog Archive

Postingan Populer

  • T-Garden Medan,Resort and Ranch Instagramable ala Bali
    T-Garden Medan Resort and Ranch menambah daftar tempat wisata baru yang santai dengan konsep nuansa kekinian ala Bali yang instagram...
  • Pengalaman Pertama Nge-Grab ke Kualanamu International Airport
    Rasa bahagia dan syukur tak terhingga dihaturkan kepada Sang Pencipta sejak membaca sebuah email pengumuman yang menyatakan bahwa aku te...
  • Asian Make Up with PIXY TWC Cover Smooth and PIXY Lip Cream
    Setiap wanita selalu ingin tampil cantik dan mempesona. Definisi cantik dari setiap wanita pun berbeda-beda,begitu juga kaum lelaki y...
  • Menikmati Wisata Seni 3D Art Magic Eye Museum Kawasan Bandara Kualanamu
    Menikmati wisata seni 3 dimensi di hari libur memang menyenangkan dan semakin seru apabila dinikmati bersama keluarga, para sahabat mau...
  • Imajinasi, Creativity, dan Teknologi Ciptakan Konten Kreatif Masa Kini
    Kehidupan manusia melalui banyak proses yang tidak sederhana. Manusia yang diciptakan juga berproses hingga akhirnya kembali lagi ke s...

Community

selebgram medan

Intellifluence Trusted Blogger


 

Created with by BeautyTemplates | Distributed by blogger templates