facebook twitter instagram linkedin
  • Home
  • Travel
    • Wisata Indonesia
    • Wisata Asia Tenggara
    • Wisata Turki
  • LifeStyle
    • Beauty
    • Healthy
  • About Me
  • Kontak Informasi

Melalak Cantik- Travel Blog Ririn Wandes

Kawan melalak cantik pasti sudah tidak asing melihat orang Indonesia berlibur ke Malaysia bahkan bisa sebulan sekali atau mungkin bisa dalam sebulan berkali-kali. Well, ketika mendengar nama Kuala Lumpur, kebanyakan wisatawan langsung teringat pada Petronas Twin Towers atau kawasan Bukit Bintang.

Apakah kawan melalak cantik juga seperti itu? Padahal, ada satu kawasan di Kuala Lumpur yang menyimpan banyak cerita sejarah, kuliner legendaris, spot foto estetik, hingga tempat nongkrong kekinian yang cocok untuk traveler dengan budget terbatas lho. Apa nama kawasannnya itu? Namanya adalah Chinatown Kuala Lumpur, mungkin pernah dengar yha.




Well, biasanya pun para pelancong yang bepergian ke Chinatown lebih sering hanya melewati Petaling Street. Tentu saja bisa melihat aneka produk bermerk tapi fake dengan harga lebih terjangkau dan harus pula disertai dengan ilmu tawar menawar.

Dimana Sih Chinatown?


Terletak di jantung kota atau pusat Kuala Lumpur, kawasan ini menjadi perpaduan menarik antara budaya Tionghoa, Melayu, dan modernitas Malaysia yang berkembang pesat. Kawasan ini menawarkan perpaduan unik antara budaya Tionghoa, bangunan bersejarah, kuliner legendaris, hingga berbagai spot foto yang menarik untuk mengisi feed Instagram. Tidak heran jika Petaling Street Kuala Lumpur selalu menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan lokal maupun mancanegara.

Ngapain di Chinatown?

Jika berbicara tentang apa yang bisa dilakukan di Chinatown tentu saja beragam sih, namun kebanyakan mulai dari penelusuran di Petaling Street. Well, ini beberapa aktifitas lainnya yang bisa kawan-kawan melalak cantik lakukan kalo lagi traveling di Chinatown:

1. Menyusuri Petaling Street yang Ikonik


Kenapa tetap Saya masukkan ke poin nomor 1 karena memang rasanya ridak lengkap membahas wisata Kuala Lumpur murah tanpa menyebut Petaling Street. Kawasan ini merupakan jantung dari Chinatown dan menjadi tempat pertama yang biasanya dikunjungi wisatawan.

Gerbang merah besar yang berdiri megah menjadi penanda bahwa kamu telah memasuki kawasan Chinatown. Di sepanjang jalan, terdapat berbagai kios yang menjual pakaian, souvenir, tas, aksesori, hingga oleh-oleh khas Malaysia dengan harga yang cukup terjangkau.

Salah satu keseruan berbelanja di sini adalah kesempatan untuk menawar harga. Bagi wisatawan Indonesia, pengalaman ini tentu tidak jauh berbeda dengan berburu barang di pasar tradisional. Tampak barang-barang branded terlihat mewah padahal itu adalah fake alias kw ala ala lah.



2. Mengunjungi Central Market


Hanya beberapa menit berjalan kaki dari Chinatown, terdapat Central Market yang menjadi salah satu pusat seni dan budaya Malaysia. Biasanya memang disebut pasar seni untuk central market ini karena banyak dijual produk-produk unik bernilai seni tinggi.

Di dalam bangunan bersejarah ini, pengunjung dapat menemukan berbagai produk lokal seperti Batik Malaysia, kerajinan tangan, lukisan karya seniman lokal, produk UMKM dan souvenir khas Malaysia. Tempat ini sangat cocok bagi wisatawan yang ingin membawa pulang oleh-oleh unik dan berbeda.

Selain itu, terdapat pula food court di lantai paling atas, pengunjung yang sudah lelah berkeliling beli oleh-oleh, bisa jajan tentunya beli makanan dan minuman menyegarkan baik yang khas lokal maupun dari daerah lainnya.

3. Berjalan Kaki ke Masjid Jamek


Tidak jauh dari Chinatown terdapat Masjid Jamek yang merupakan salah satu masjid tertua di Kuala Lumpur. Sejak pertama kali main ke Kuala Lumpur, Saya sudah memasukkan Masjid Jamek ini ke dalam itinerary.

Lokasinya yang berada di pertemuan Sungai Klang dan Sungai Gombak menjadikannya bagian penting dalam sejarah perkembangan kota Kuala Lumpur. Selain memiliki nilai sejarah yang tinggi, arsitekturnya juga sangat indah untuk dijadikan objek fotografi.

Ada banyak wisatawan baik lokal maupun mancanegara yang datang ke masjid ini bahkan sekedar untuk ambil gambar di halaman depan masjid. Ketika melihat bagian depan seperti ada payung-payung di masjid Madinah, tampak instagramable untuk berfoto.

4. Berfoto di Kwai Chai Hong yang Instagramable


Salah satu hidden gem yang semakin populer di Chinatown adalah Kwai Chai Hong. Sejak melihat postingan para travel kreator di media sosial, Saya pun berniat mencari tahu kawasan ini namun belum juga berkesempatan hingga liburan pada Agustus 2024 lalu.




Apa sih Kwai Chai Hong ini? Well, ini merupakan lorong kecil yang dipenuhi mural interaktif menggambarkan kehidupan masyarakat Tionghoa di Kuala Lumpur pada masa lalu. Setiap sudutnya memiliki cerita unik yang menarik untuk diabadikan dalam foto maupun video.

Bagi konten kreator dan travel blogger, tempat ini bisa menjadi lokasi sempurna untuk membuat konten Instagram Reels atau TikTok. Itulah mengapa semakin ramai saja yang masuk ke Kwai Chai Hong, uda gratis dan cantik semakin ramai pastinya yang datang.

5. Berburu Kuliner Khas Malaysia yang Menggugah Selera


Bagi pecinta kuliner, Chinatown Kuala Lumpur adalah surga yang wajib dijelajahi. Banyak makanan legendaris yang telah bertahan puluhan tahun dan menjadi favorit wisatawan. Beberapa menu yang patut dicoba antara lain: Wantan Mee, Hokkien Mee, Chicken Rice, Roast Duck, Char Kway Teow, Cendol Durian dan Teh Tarik. Harga makanan di kawasan ini juga relatif ramah di kantong sehingga cocok bagi traveler yang ingin menikmati liburan hemat di Kuala Lumpur. 

6. Mencari Cafe Hidden Gem yang Estetik


Dalam beberapa tahun terakhir, Chinatown berkembang menjadi salah satu kawasan favorit pecinta kopi. Banyak bangunan tua yang disulap menjadi kafe modern dengan konsep industrial, vintage, hingga minimalis. Tidak sedikit wisatawan yang datang hanya untuk menikmati secangkir kopi sambil mengagumi arsitektur heritage yang unik. Bagi solo traveler, suasana santai di kawasan ini sangat cocok untuk beristirahat setelah seharian berjalan kaki menjelajahi Kuala Lumpur.

7. Menikmati Suasana Malam yang Berbeda


Jika memungkinkan, jangan terburu-buru meninggalkan Chinatown saat sore hari. Ketika malam tiba, kawasan ini berubah menjadi lebih hidup. Lampion merah mulai menyala, pedagang kaki lima semakin ramai, dan aroma makanan memenuhi udara. Suasana malam di Chinatown memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan siang hari. Inilah waktu terbaik untuk menikmati kuliner jalanan sambil mengamati aktivitas masyarakat lokal.

Chinatown Kuala Lumpur membuktikan bahwa destinasi terbaik tidak selalu harus mahal atau mewah. Di balik keramaian Petaling Street, tersimpan berbagai cerita sejarah, budaya, dan pengalaman lokal yang membuat perjalanan terasa lebih berkesan.

Jika suatu hari kamu kembali mengunjungi Malaysia, sempatkanlah menghabiskan setidaknya setengah hari di kawasan ini. Siapa tahu, justru dari lorong-lorong kecil Chinatown itulah kamu menemukan sisi Kuala Lumpur yang paling menarik dan membuatmu ingin kembali lagi.

Kalau biasanya wisatawan Indonesia datang ke Kuala Lumpur untuk melihat menara kembar, belanja di Bukit Bintang, atau berburu foto di sekitar Petronas, sekarang ada satu kawasan yang mulai viral di media sosial dan menarik perhatian para traveler yaitu Chow Kit.



Hidden Gem Viral: Chow Kit


Jika melihat para konten kreator traveling di media sosial khususnya TikTok dan Instagram maka akan menemukan begitu banyak wisatawan yang mengunjungi tempat tersebut. Masyarakat Indonesia yang sedang berlibur ke Malaysia tidak melewatkan berfoto di kawasan Chow Kit.

Awalnya Saya juga tidak terlalu mengenal kawasan ini, hanya saja dulu pada tahun 2017 an kawan suka cerita kalo ia sering belanja di Pasar Chow Kit bahkan suka ambil penginapan di lokasi tersebut. Nah, setelah beberapa kali melihat video TikTok tentang hidden gem Kuala Lumpur dengan suasana klasik dengan banyaknya cafe estetik barulah tau kalo ini bagian Chow Kit.

Ternyata di sekitar sini itu ada pasar lokal yang penuh warna, akhirnya memutuskan untuk datang sendiri ke Chow Kit biar lebih tahu sih. Dan ternyata, kawasan ini punya vibe yang berbeda dibanding tempat wisata mainstream lainnya di Malaysia.

Chow Kit terasa seperti sisi lain Kuala Lumpur yang lebih hidup, lebih lokal, dan lebih autentik. Sekitar tahun 2023 akhir mengambil liburan 2 minggu di Malaysia dan tidak menyangka akhirnya bisa dapat apartemen di sekitar Chow Kit.

Berawal dari kenalan dengan dua orang teman warga Turki yang sedang berlibur juga, mereka menginap di apartemen sekitar Chow Kit. Kemudian, salah seorang merekomendasikan untuk pindah di apartemen sekitar situ saja karena ada yang sharing dan juga harga lebih terjangkau.

Finally, setiap berlibur ke Kuala Lumpur akan tetap ambil penginapan di Chow Kit terutama jika sedang solo traveling. Nah, terakhir tahun 2024 pun menginap di apartemen yang sama sehingga memudahkan mau jalan atau sekedar cari coffee shop di sekitarnya.




Kawasan Menjadi Viral Kembali


Chow Kit merupakan salah satu kawasan legendaris di Kuala Lumpur yang sudah terkenal sejak lama sebagai area perdagangan dan pasar tradisional terbesar di kota ini. Lokasinya cukup strategis dan mudah dijangkau menggunakan monorail Kuala Lumpur. Begitu turun di stasiun Chow Kit, suasana kota langsung terasa berbeda.

Di sini, gedung modern berdampingan dengan bangunan lama. Cafe modern berdiri tidak jauh dari pasar tradisional yang ramai sejak pagi. Jalanannya terasa sibuk, tetapi justru di situlah daya tariknya. Banyak wisatawan Indonesia mulai datang ke Chow Kit karena kawasan ini sering muncul di konten travel TikTok dan Instagram. Suasana urban klasiknya cocok untuk foto aesthetic, video cinematic, maupun sekadar menikmati sisi lokal Kuala Lumpur yang jarang diperlihatkan di brosur wisata.

Salah satu aktivitas paling menarik di Chow Kit tentu saja mengunjungi Pasar Chow Kit. Pasar ini terkenal sangat besar dan menjual hampir semua kebutuhan masyarakat lokal. Buat pecinta street photography atau travel photography, tempat ini benar-benar menarik. Banyak sudut yang terasa sangat “Malaysia”.

Bahkan hanya berjalan kaki sambil memperhatikan aktivitas warga lokal saja sudah menjadi pengalaman tersendiri. Kadang saat traveling, justru tempat seperti ini yang membuat perjalanan terasa lebih berkesan dibanding destinasi wisata mewah.

Cafe Estetik dan Hidden Gem Buat Nongki


Selain pasar tradisional, Chow Kit sekarang juga dikenal dengan banyak cafe estetik dan hotel boutique yang artsy. Kawasan ini mulai berkembang menjadi tempat nongkrong favorit anak muda dan konten kreator. Inilah yang menjadi kawasan utama penuh pengunjung yang sedang hunting konten agar mendapat foto maupun video estetik.




Saya sempat mampir ke beberapa coffee shop kecil dengan interior minimalis vintage yang nyaman banget untuk istirahat setelah jalan kaki keliling area Chow Kit. Banyak cafe di sini punya konsep modern tetapi tetap mempertahankan nuansa klasik Kuala Lumpur. Artikel tentang cafe shop yang lucu dan estetik pun sudah ada direview di blog melalak cantik ini.

Buat yang suka bikin konten Instagram atau reels, kawasan ini cocok banget. Hampir setiap sudut cafe punya pencahayaan dan dekorasi yang aesthetic. Paling Saya suka adalah kontras suasananya dimana di satu sisi ada pasar tradisional yang ramai dan penuh aktivitas, tetapi beberapa langkah kemudian langsung bertemu cafe modern dengan suasana tenang dan lagu jazz pelan. Perpaduan ini membuat Chow Kit terasa unik dan berbeda.

Surga Konten Cinematic Buat Kreator


Menjelang sore hingga malam, suasana Chow Kit berubah semakin menarik. Lampu toko mulai menyala, jalanan menjadi lebih ramai, dan vibe urban klasik Kuala Lumpur semakin terasa. Banyak kreator datang ke sini untuk membuat video cinematic karena area ini punya nuansa yang mirip kota-kota lama di Asia. Bangunan tua, papan toko klasik, lampu jalan, dan suasana malamnya terasa sangat fotogenik.




Bahkan menurutku, Chow Kit adalah salah satu hidden gem Kuala Lumpur yang paling cocok untuk traveler yang bosan dengan tempat wisata mainstream. Dulu pertama kali kesini memang belum viral sehingga terasa masih sepi dan takut berjalan sendirian.

Chow Kit membuat sadar kalau Kuala Lumpur bukan cuma tentang gedung tinggi dan pusat perbelanjaan modern. Ada sisi lain kota ini yang lebih hangat, lebih nyata, dan penuh cerita. Kawasan ini cocok untuk traveler yang suka eksplor tempat lokal, berburu suasana autentik, mencoba kuliner sederhana, dan mencari spot konten yang aesthetic.

Kalau suatu hari kawan melalak cantik kembali ke Kuala Lumpur, mungkin sesekali cobalah keluar dari itinerary mainstream dan berjalan kaki di Chow Kit. Siapa tahu, justru di tempat seperti inilah kamu menemukan pengalaman traveling yang paling berkesan.

Anyway, siapa nih yang sudah sering melipir ke Kawasan Chow Kit? Apa sih kesan yang kalian dapatkan? Sekedar ramai dan viral atau sudah temukan tempat nyaman yang damai?

























Setiap menuliskan momen perjalan di Kuala Lumpur memang selalu menyenangkan, ada saja kenangan baru meskipun sudah berkali-kali kesana. alau lagi jalan-jalan ke Kuala Lumpur, biasanya orang langsung kepikiran ke menara kembar, mall besar, atau wisata kuliner.

Review Berkunjung ke BookXcess Rex KL


Tapi di antara semua hiruk pikuk kota ini, ternyata ada satu tempat yang diam-diam jadi favorit para traveler dan content creator: sebuah toko buku yang vibes-nya bikin kamu lupa waktu. Namanya adalah BookXcess dan jujur, ini bukan toko buku biasa sih.

toko buku bookxcess rexkl



Saya sudah mengunjungi BookXcess di Kuala Lumpur dan Penang, ternyata memang semua punya keunikan tersendiri. Untuk cabang toko buku ini tentu lebih banyak di KL tetapi kawan melalak cantik enggak perlu khawatir karena yang di Penang tidak kalah menarik.

First Impression


Sejak pertama kali masuk ke BookXcess, rasanya seperti masuk ke dunia lain. Dari luar mungkin terlihat sederhana, tapi begitu melangkah ke dalam, kamu langsung disambut rak buku tinggi menjulang, lorong-lorong unik, dan pencahayaan hangat yang bikin suasana terasa tenang sekaligus magis.




Pengalaman mengunjungi BookXcess Penang pertama kali, bisa kamu baca di artikel Toko Buku Unik Ternyaman di Penang Cocok Buat Traveler yang Hobi Baca.

Well, mari kita lanjut bahwa bahkan beberapa sudut di BookXcess itu terasa seperti setting film, asda sedikit “Harry Potter vibes” yang bikin siapa pun betah berlama-lama. Hal yang menjadikan BookXcess viral bukan cuma karena tampilannya yang estetik.

Sebenarnya lebih dari itu, tempat ini menawarkan pengalaman yang jarang ditemukan di toko buku biasa. Buku-buku di sini ditata dengan menarik dari lantai hingga hampir menyentuh langit-langit, menciptakan kesan megah sekaligus artistik. Setiap langkah seolah mengajak kita untuk terus menjelajah, menemukan buku-buku yang bahkan sebelumnya tidak dicari.

Salah satu cabang paling populer memang berada di RexKL, sebuah bangunan bekas bioskop yang diubah menjadi ruang kreatif dengan sentuhan seni modern. Begitu masuk, Saya pun bisa merasakan langsung seperti berada di ruang seni yang hidup. Tangga-tangga besar, instalasi unik, dan susunan buku yang tidak biasa membuat tempat ini bukan hanya destinasi belanja, tapi juga pengalaman visual yang kuat.

Spot Berburu Konten


Jika mengingat tahu tempat ini pertama kali itu justru sejak awal banyak muncul di media sosial dan berkeinginan mengunjungi sejak 2023 akhir. Punya waktu liburan sampai 10 hari lebih ternyata tidak menjadikan langkah kaki sampai ke RexKL ini.

Ternyata baru bisa berfoto langsung saat honey moon bersama suami pada akhir tahun 2025 lalu. Bisa dikatakan selain untuk membaca atau sekadar menikmati suasana, BookXcess juga jadi spot favorit untuk berburu konten.

Hampir setiap sudutnya Instagramable lho, rak buku tinggi, lorong simetris, hingga area duduk yang cozy bisa jadi latar foto yang estetik. Tidak heran kalau banyak traveler dan kreator datang ke sini bukan hanya untuk membeli buku, tapi juga untuk mengabadikan momen.

Hal lain yang tidak kalah menarik adalah harga buku yang jauh lebih terjangkau. BookXcess dikenal dengan koleksi buku impor yang dijual dengan diskon besar. Dari novel, buku self-development, hingga coffee table book dengan visual cantik, semuanya bisa ditemukan di sini. Tapi hati-hati, karena sangat mungkin kamu datang tanpa rencana belanja, tapi pulang dengan tas penuh buku.

Kalau kamu berencana berkunjung, ada beberapa tips yang bisa kamu coba. Datanglah di pagi hari atau saat weekday untuk menghindari keramaian, terutama di cabang yang populer. Pilih outfit dengan warna netral jika kamu ingin foto yang lebih aesthetic. Dan yang paling penting, siapkan budget ekstra karena godaan buku murah di sini benar-benar sulit ditolak apalagi masih harus memikirkan bagasi yang terbatas.

What To Do di BookXcess RexKL?

Mau traveling sendirian atau sama teman bahkan bareng family juga bisa kok, ada banyak beragam tipe traveler yang mengunjungi BookXcess ini. Buat kawan melalak cantik yang merasa bingung mau ngapain sih disana selain berfoto doank. Well, berikut ini beberapa kegiatan yang bisa dilakukan:

1. “Treasure Hunting” Buku Random


Salah satu hal paling seru di BookXcess adalah menemukan buku secara tidak sengaja karena susunannya yang unik dan tidak selalu berdasarkan kategori konvensional, kamu akan sering menemukan buku yang sebelumnya tidak kamu cari tapi justru jadi yang paling menarik. Nah, inilah rasanya seperti berburu harta karun versi literasi.

2. Naik Tangga Ikonik & Jelajah Rak Tinggi


Di beberapa cabang BookXcess seperti RexKL, kamu bisa naik tangga besar yang mengarah ke rak buku super tinggi. Dari atas, pemandangan deretan buku yang tertata rapi terlihat seperti instalasi seni. Ini bukan cuma aktivitas biasa, bisa dinamakan pengalaman visual yang bikin merasa kecil di tengah “lautan ilmu”.

3. Me-Time & Slow Reading di Sudut Tersembunyi



BookXcess punya banyak spot duduk tersembunyi yang cozy. Kamu bisa ambil satu buku, duduk di sudut yang tenang, dan benar-benar menikmati waktu tanpa distraksi. Buat traveler yang capek dengan itinerary padat, ini jadi momen recharge yang priceless.

4. Foto Aesthetic ala Book Lover


Setiap sudut di sini bisa jadi konten, itulah kebanyakan tujuan awal para pendatang, karena mulai dari lorong simetris, rak buku menjulang, sampai tangga artistik itu semuanya photogenic. Banyak pengunjung bahkan sengaja memakai outfit-an khusus untuk foto di sini. Tipsnya: manfaatkan lighting alami dan ambil angle dari bawah untuk efek dramatis.

5. Ngonten Reels / TikTok Cinematic


Kalau kamu kreator, BookXcess adalah surga konten karena bisa bikin video transisi dari “masuk dunia nyata” ke “masuk dunia buku”, atau shoot slow motion jalan di antara rak. Bahkan, banyak yang bikin konten POV seperti “tersesat di toko buku terbesar”. Pastikan siapkan gadget maupun gear terbaikmu deh agar hasil konten lebih maksimal.

6. Cari Inspirasi & Ide Kreatif


Buat penulis, guru, atau kreator, tempat ini bisa jadi sumber inspirasi tanpa batas. Melihat ribuan buku dengan berbagai tema bisa memicu ide baru baik untuk konten, tulisan, atau bahkan refleksi diri. Itulah mengapa Saya sering mengunjungi banyak BookXcess selama di Malaysia karena hampir semua yang dikunjungi bisa dijadikan konten untuk direview.

7. Belanja Buku Impor Harga Murah

Ini bagian yang paling berbahaya untuk kantong terutama traveler yang masih harus mikirin bagasi. Buku-buku di sini bisa jauh lebih murah dibanding toko biasa. Kamu bisa menemukan novel best seller, buku self improvement, sampai coffee table book dengan visual cantik dengan harga miring. Banyak pengunjung akhirnya “kalap” karena terlalu banyak pilihan menarik. Itulah yang sering Saya pikirkan saat mau borong karena bawaan menjadi berat dan bagasi yang tidak murah.



BookXcess KL, Malaysia

Alamat: Jalan Sultan, City Centre, 50000 Wilayah Persekutuan, Wilayah Persekutuan Kuala Lumpur, Malaysia

Opening Hours: Setiap Hari: 10.00 s/d 22.00



































Kalau cuma punya 24 jam di Hat Yai, apa bisa puas jalan-jalan tanpa bikin dompet nangis?Pertanyaan yang muncul dari dalam diri sendiri sebelum mencoba langsung ngetrip sebagai solo traveler di Hat Yai. Perjalanan yang tidak mudah tapi ternyata seru ketika sudah dicoba hingga akhirnya selesai dalam trip saat itu.

Sebenarnya jika harus jujur sih awalnya pun juga sempat ragu tapi setelah nyobain sendiri, ternyata satu hari di sekitar Lee Garden Walking Street itu cukup buat ngerasain semuanya, mulai dari penginapan murah, aneka kuliner, sampai belanja lucu-lucu yang bikin kalap.




Cerita 24 Jam di Lee Garden Walking Street Hat Yai

Berhubung banyak yang penasaran gimana rasanya jika ambil trip singkat misalnya hanya weekend getaway ke Penang dan Hat Yai, tentu harus bisa membagi waktunya, nah ini cerita 24 jam versi Melalak Cantik di Hat Yai.

Trip Dari Penang ke Hat Yai

Biasanya untuk berlibur ke Hat Yai, Saya selalu ambil kereta api pagi atau naik van yang paling lama sih sekitar pukul 1 siang saja. Berhubung perjalanan tidak dekat tapi juga bukan terlalu jauh yang mana paling sekitar 4-5 jam saja, disesuaikan waktunya agar tetap bisa relax nikmati malam di Hat Yai.

Nah, kita langsung saja ngebahas ketika sudah sampai di Hat Yai khususnya kawasan Lee Garden Walking Street karena kalau naik van bisa request untuk diturunkan di sekitar daerah ini atau bahkan depan hotel langsung yang berada di kawasan tersebut.

Tiba di Hat Yai, Check in Hotel


Ketika mau check-in hotel di Hat Yai pastikan sudah book terlebih dahulu agar ketika penuh pun tidak repot harus berkeliling lagi. Carilah yang murah, nyaman dan lokasi terdekat menjadi kunci, terutama bagi solo traveler pasti cari yang bisa membuat aman pula.

Hal pertama yang biasanya Saya lakukan begitu sampai di Hat Yai memang check-in hotel agar tidak rempong bawa barang untuk berkeliling sekitarnya. Tips paling penting memang pilih hotel yang dekat dengan area Lee Garden aja.

Kenapa begitu? Karena hampir semua aktivitas bisa kamu lakukan dengan jalan kaki doank. Ini membuat hemat budget khususnya para backpacker yang masih punya rencana trip lainnya. Saya pun mendapatkan penginapan sejenis dormitory yang murah hanya 150 ribuan dengan fasilitas sudah ada pendingin ruangan, kamar mandi dan sarapan pagi di dapur dan paling penting eggak perlu ribet naik transport lagi, hemat tenaga, hemat waktu karena jalan doank ke jalur belakang hostel.

Makan Murah Meriah, Tapi Rasanya Wah


Perut mulai lapar karena sudah gerak sejak pagi dari Penang maka ini saatnya eksplor kuliner. Saya jalan santai ke sekitar Hat Yai Plaza Market dan langsung disambut aroma makanan yang menggoda banget. Sepanjang jalan sudah tampak para penjual jalanan a.k.a street food seller dengan beragam pilihan makanan baik yang pedas, segar, asam dan manis.

Paling suka banget dengan Hat Yai ini karena pilihan makanannya banyak dan harganya ramah di kantong. Sebagai solo traveler yang akan menghabiskan semua sendiri tentu cari yang hemat tapi buat kenyang.

Saya pun tidak melewatkan kwetiau untuk mengenyangkan seketika, tampak penjual yang berhijab pun banyak di sekitar Lee Garden Walking Street sehingga engga terlalu sulit cari makanan halal. Setelah itu, tentu tidak akan pernah melewatkan beli mango sticky rice saat di Thailand, serta nikmati minum thai tea segar.




Ssstt, ternyata enggak cukup cuma jajan itu karena semua penjual seperti memanggil untuk dibeli jualannya. Saya pun beli es krim kelapa, aneka buah potong yang tidak boleh tertinggal juga serta roti pisang coklat yang yummy.

Total pengeluaran? Nggak sampai 100 ribu rupiah kok dan jujur, ini salah satu momen yang bikin mikir, “Kenapa di sini bisa semurah ini tapi seenak ini?” Pantesan aja banyak traveler suka berlibur ke Thailand khususnya kota kecil gini.

Perut Kenyang Waktunya Belanja


Setelah kenyang, Saya coba masuk ke Lee Gardens Plaza Shopping Mall Hat Yai buat cari suasana yang lebih adem, sekedar lihat doank atau mau belanja boleh aja. Mall ini memang biasa saja sih tapi bisa lihat ada produk fashion seperti baju, tas maupun sepatu.

Jika mau yang lebih besar dan modern, tapi tetap punya sentuhan lokal bisa juga ke Central Festival Hat Yai tapi tentu gak berada di kawasan Lee Garden Walking Street. Btw, di sini kamu bisa temukan outfit ala Thailand yang chic dan affordable.

Mau cari snack khas Thailand buat oleh-oleh bisa kok di pinggir jalan juga, banyak toko yang menjual dengan harga miring kalau bisa tawar menawar. Cari skincare dan kosmetik lokal yang lagi viral dengan harga murah meriah pun ada, masuk ke Watsons atau Guardian jangan ragu karena biasa juga banyak promo atau diskonan.

Disini sih rasanya kayak lagi di Bangkok, seketika Saya teringat liburan beberapa tahun lalu di sana tapi versi lebih santai dan nggak terlalu ramai aja. Serta tentu saja wajahnya didominasi warga lokal sih dan tetap mudah mencari makanan lokal yang halal.

 Malam Puncaknya: Lee Garden Walking Street


Nah, ini bagian yang paling ditunggu begitu malam tiba, area Lee Garden Walking Street berubah jadi super hidup. Lampu warna-warni, musik jalanan, dan deretan street food bikin suasana jadi magical banget.

Saya berjalan pelan, menikmati setiap sudut kawasannya kemudian bisa belanja dari penjual lokal yang menjajakan barang dagangan terutama mau beli celana murah meriah atau baju serta souvenir sih.

Di sini kamu bisa jajan seafood bakar, beli dessert unik, hunting aksesoris lucu dengan harga miring, nonton street performance yang seru dan yang paling disukai itu suasananya friendly banget, bahkan buat yang jalan sendiri seperti Saya. Rasanya kayak lagi di tempat asing, tapi tetap nyaman.

Tengah malam pun masih ramai, biasanya di beberapa kota, jam hampir tengah malam tuh udah mulai sepi. Tapi di Hat Yai? Tentu tidak deh makanya nikmati saja dulu momen disitu sampai puas.

Coba Thai Massage di Penginapan

Berhubung penginapan murah meriah sejenis dormitory yang berada di lantai 2, nah untuk lantai 1 terdapat masssage ala Thai. Pemiliknya juga masih sama dengan penginapan sehingga bisa mendapatkan potongan harga.




Saya pun tidak mau melewatkan kusuk-kusuk ala Thailand setelah itu refleksi kaki, rasanya nikmati sekali dan budget yang dikeluarkan pun paling sekitar 100-200 ribuan doank. Kamu akan mudah temukan Thai massage ini di sekitar kawasan Lee Garden Walking Street kok.

Setelah kusuk manja tentu lanjut tidur donk, enaknya berada di satu tempat begini. Sudah langsung bisa beristirahat dari perjalanan panjang dan kusuk pun tidak sia-sia. Di Hat Yai ini, banyak pernjual maupun massage begini buka sampai jelang pukul 2 pagi bahkan mungkin ada yang 24 jam ya makanya nikmati saja deh.

Pagi yang Tenang, Penutup yang Bikin Kangen


Setelah semalam penuh keramaian, nikmati pagi di Hat Yai terasa jauh lebih pelan. Saya tetap keluar hotel di pagi hari, jalan santai menuju pasar terdekat, dan cari sarapan sederhana. Secangkir kopi dan roti hangat jadi penutup yang sempurna sebelum check-out.

Eh, ternyata memasuki pasar tradisional di Hat Yai sangat seru, bahkan cukup jalan kaki dari penginapan sih. Terdapat aneka penjual makanan aneka kue tradisional dan tentu saja banyak buah-buah juga. Jadilah bisa sarapan enak dan kenyang sesuai selera nih.




Setelah selesai, lalu muncul dan tersadar di momen ini bahwa Hat Yai bukan cuma soal murah atau dekat dari Indonesia maupun Penang. Tapi soal pengalaman sederhana yang terasa lengkap dengan waktu singkat.

So, worth it enggak 24 jam di Hat Yai? Jawabannya tentu worth it banget lah. Dalam waktu singkat, Saya bisa istirahat nyaman tanpa mahal, makan enak tanpa over budget, belanja senang tanpa rasa bersalah dan tetap punya pengalaman travel yang berkesan bersama warga lokal.

Kalau kamu lagi cari destinasi luar negeri yang hemat, dekat, tapi tetap seru tentu Hatyai wajib masuk list kamu. Dan siapa tahu, 24 jam kamu di sini justru bikin pengen balik lagi kayak Saya. Yuk ah, save artikel ini buat itinerary kamu nanti, ya! Kalau kamu punya versi 24 jam di Hat Yai, share juga ya di kolom komentar karena Saya pun penasaran.
Seketika ingin flashback menuju masa pertama kali menginjakkan kaki ke Bangkok sekitar tahun 2017. Dulu, tentu saja bukan kota ini menjadi tujuan utama ketika ke Thailand, sempat melewati Hat Yai namun belum terlalu banyak lakukan penjelajahan.




Beda Rasa Bangkok vs Hat Yai


Jika boleh jujur, Saya sempat berfikir bahwa semua kota di Thailand itu bakal punya vibe yang mirip, chaotic tapi charming, penuh street food enak, dan super aesthetic buat foto. Tapi semua asumsi itu langsung runtuh begitu menginjakkan kaki di Bangkok dan beberapa bulan kemudian penjelajahan lanjut ke Hat Yai.

Dua kota ini? Beda banget. Bahkan bisa bikin kamu mikir, “Ini masih satu negara, kan? Kok bisa beda banget yak"




Kesan Pertama Bikin Kaget


Di Bangkok, Saya langsung disambut dengan kota metropolitan yang super hidup. Gedung tinggi, mall besar, transportasi modern, rasanya kayak perpaduan Jakarta dan Seoul. Tapi begitu sampai di Hat Yai, suasananya berubah drastis. Lebih santai, lebih “lokal”, dan jauh dari kesan kota besar sih.

Shock pertama? Saya merasa kayak pindah dunia. Kalau Bangkok itu sibuk dan cepat, Hat Yai itu tenang dan sederhana. Wajah yang terlalu familiar didominasi dengan warga lokal, bahkan turis pun tidak tampak ramai seperti di Bangkok.

Transportasi: Modern vs Manual


Di Bangkok, Saya dimanjakan dengan Bangkok BTS yang super praktis, mau bepergian sekitar dalam kota bisa langsung tap kartu, naik, dan sampai tujuan tanpa drama macet. Memang tetap harus sabar menunggu kedatangan BTS dan terkadang harus siap pula untuk berdiri jika terlalu penuh penumpangnya.

Bagaimana dengan transportasi di Hat Yai? Jangan harap ada kereta modern seperti itu. Transportasi lebih banyak pakai tuk-tuk atau kendaraan lokal. Awalnya terasa ribet, tapi justru di situlah pengalaman uniknya sih.

Tapi, berhubung keseringan solo traveling dan mau praktis tanpa bertanya tentang tuk-tuk yang menuju ke tujuan maka naik ojek online lebih praktis sih. Ini salah satu momen di mana Saya harus lebih fleksibel sebagai traveler, harus bisa menyesuaikan transportasi yang mau digunakan selama ngetrip.

Kuliner: Surga Street Food vs Hidden Local Gems


Bangkok itu surganya street food modern mulai dari yang viral sampai yang Michelin star pun ada. Semua terlihat cantik, tertata, dan Instagramable. Tapi Hat Yai? Lebih “jujur”, makanannya mungkin nggak selalu estetik, tapi rasanya? Gila sih, autentik banget. Bahkan beberapa makanan lokal di sana rasanya lebih “ngena” dibanding yang dicoba di Bangkok.

Shock berikutnya adalah tentu jangan nilai makanan dari tampilannya aja, terkadang estetik doank tapi rasanya masih biasa sih. Tapi, ketika mengunjungi Bangkok dan Hat Yai memang tetap lebih banyak hunting makanan lokal yang tentu saja cari ada label halal.

Bahasa & Interaksi: Lebih Mudah vs Lebih Menantang


Di Bangkok, ada banyak orang yang sudah terbiasa dengan turis. Bahasa Inggris cukup membantu walaupun masih tetap harus menelaah lebih dalam untuk aksen yang digunakan oleh warga lokal. Di Hat Yai, Saya sempat struggle terutama jika mau bertanya tentang lokasi karena eggak semua fasih berbahasa Inggris, jadi harus lebih banyak pakai gesture atau Google Translate.

Tapi justru di situ lebih merasa interaksinya lebih hangat, lebih genuine meskipun harus bersabar untuk bisa punya komunikasi berlanjut. Ketika menanyakan harga juga sebenarnya lebih asik kalau tahu bahasa lokal agar mudah untuk tawar menawar.

Biaya: Bangkok Menguras, Hat Yai Bersahabat


Ini bagian yang paling terasa bagi solo traveler yang mode liburan hemat alias ala backpacker. Masa pertama kali ngetrip ke Bangkok tuh memang masih awal memulai sehingga masih penuh perhitungan untuk segala budget yang dikeluarkan.

Bangkok bisa jadi cukup mahal, apalagi kalau kamu kalap belanja atau nongkrong di cafe aesthetic. Pilihan toko fashion banyak, mall mewah berebut mencuri perhatian makanya duit bisa habis kalau tidak mengontrol diri. Sementara Hat Yai jauh lebih ramah di kantong, pilihan mall pun tidak beragam.

Mulai dari makanan, transportasi, sampai penginapan, semuanya terasa lebih ringan di Hat Yai. Sebagai solo traveler tentu masih mencari dormitory sehingga bisa sharing kamar dengan traveler lainnya. Biaya yang dikeluarkan tentu saja bisa lebih hemat.

Aesthetic & Spot Foto: Kota Instagram vs Kota Cerita


Kalau kamu tipe traveler yang cari konten cantik, Bangkok jelas juaranya donk,hampir setiap sudut bisa jadi spot foto bahkan terus bertambah aneka atraksi wisata disana. Hat Yai? Tentu saja enggak sebanyak itu. Tapi justru di sana kamu dapat “cerita”, bukan sekadar foto saja.

Dan sebagai konten kreator, aku belajar bahwa enggak semua tempat harus aesthetic untuk bisa jadi menarik. Awal pertama ngetrip ke Hat Yai hanya lakukan penjelajahan di sekitar kota tapi ketika berkesempatan bersama teman-teman maka kami sewa transportasi lokal untuk jelajah beragam kawasan lainnya sehingga dapat spot foto yang menarik pula.

Tips Tetap Cantik Saat Traveling di Dua Kota Ini


Percaya deh, cuaca Thailand itu bisa bikin makeup luntur dalam hitungan jam. Jadi ini beberapa trik andalan agar bisa tetap tampil on point berfoto di depan spot wisata. Pertama, tentu saja harus gunakan sunscreen karena ini menjadi hal wajib terutama di Bangkok yang panasnya lebih “menusuk”.

Kedua, pilih makeup ringan dan tahan lama, pastikan pula selalu bawa face mist biar tetap fresh. Berhubung di Hat Yai lebih santai, Saya malah lebih sering tampil natural dan surprisingly, itu justru bikin lebih nyaman saat berkeliling tempat wisata. Cantik itu bukan soal full makeup, tapi soal feeling good selama perjalanan. So, pilihlah yang sesuai dengan kenyamana diri aja ya.

So, Pilih Bangkok atau Hat Yai?


Kalau kamu suka city vibes, modern lifestyle, dan konten aesthetic, tentu saja Bangkok adalah jawabannya. Tapi kalau kamu pengen pengalaman yang lebih lokal, santai, dan hemat maka Hat Yai bisa jadi pilihan yang lebih “kena di hati”.

Buat Saya pribadi?Tetap butuh keduanya karena ternyata, traveling itu bukan cuma soal destinasi, tapi tentang bagaimana setiap tempat bisa kasih rasa yang berbeda dan kadang, rasa itu datang dari hal-hal yang enggak kita duga sebelumnya.

Dan melalui trip ke Bangkok hingga ke Hat Yai, Saya belajar beragam hal diantaranya jangan pernah berekspektasi terlalu sempit pada sebuah tempat karena bisa jadi, justru perbedaan itulah yang bikin perjalanan kamu jadi cerita yang nggak terlupakan. Kalian gimana? Adakah punya cerita seru selama ngetrip di Bangkok dan Hat Yai, gaes?
Berlibur ke KL bukan lagi hal istimewa terutama bagi warga Medan karena bisa saja melakukan trip setiap bulan.  Pertanyaan mengenai cara dari bandara KLIA (Kuala Lumpur International Airport) ke pusat kota khususnya KL Sentral begitu sering muncul.

cara dari bandara ke kl sentral



Jika kamu baru mendarat di Kuala Lumpur International Airport baik terminal 1 maupun 2, pertanyaan pertama yang sering muncul adalah: bagaimana cara paling mudah dan termurah menuju KL Sentral? Tenang, Kuala Lumpur dikenal memiliki sistem transportasi yang rapi, modern, dan ramah wisatawan. Bahkan untuk first timer sekalipun, perjalanan dari bandara ke pusat kota bisa terasa sangat simpel.

Cara Dari Bandara KLIA ke KL Sentral


Ada beberapa pilihan transportasi yang bisa kamu gunakan, mulai dari yang tercepat hingga yang paling hemat. Jika kamu mencari cara dari KLIA ke KL Sentral yang paling mudah dan cepat, maka KLIA Ekspres adalah jawabannya. Nah, ini merupakan salah satu transportasi yang memang tercepat namun bukan yang termurah.

Kereta ini merupakan layanan non-stop yang langsung menghubungkan bandara dengan KL Sentral hanya dalam waktu sekitar 28 menit. Cocok banget untuk kamu yang tidak ingin ribet, apalagi setelah penerbangan panjang. Selain itu, jadwal keberangkatannya juga cukup sering, jadi kawan melalak cantik tidak perlu menunggu lama.

Saya pernah menuliskan khusus untuk transportasi menggunakan KLIA Ekspres ini, bisa dibaca pada artikel tentang

Opsi Transportasi Lebih Murah


Namun, jika kamu ingin opsi yang lebih ramah di kantong, kamu bisa memilih KLIA Transit. Kereta ini sebenarnya memiliki rute yang sama, tetapi berhenti di beberapa stasiun sebelum sampai ke KL Sentral. Waktu tempuhnya sekitar 35 hingga 40 menit, sedikit lebih lama dibanding KLIA Ekspres.

Meski begitu, harga tiketnya lebih terjangkau, sehingga menjadi pilihan yang pas bagi traveler yang ingin tetap nyaman tanpa harus mengeluarkan biaya besar. Saya sudah mencoba jalur KLIA Transit pada Januari 2026 lalu, namun bukan rute dari KLIA ke KL Sentral sih.

Saat itu, Saya coba jalur dari Selangor menuju KLIA dimana bisa ambil jalur menuju Putrajaya terlebih dahulu, setelah itu naik KLIA Transit dari Putrajaya menuju bandara KLIA. Memang jadi lebih lama sih tapi tentu saja budget lebih terjangkau.




Gimana Kalo Mau Paling Murah?


Bagi kamu yang benar-benar ingin menekan budget perjalanan, bus bandara adalah pilihan terbaik. Layanan seperti SkyBus atau Aerobus menawarkan tarif yang sangat murah dibandingkan kereta. Bus ini langsung berangkat dari KLIA menuju KL Sentral dengan waktu tempuh sekitar 1 jam, tergantung kondisi lalu lintas.

Walaupun lebih lama, fasilitas bus sudah cukup nyaman dengan pendingin udara dan kursi yang layak. Banyak backpacker memilih opsi ini karena bisa menghemat pengeluaran untuk dialihkan ke kebutuhan lain selama traveling. Cara pemesanan untuk bus ini juga mudah kok, bisa langsung turun aja ke lantai dasar nanti ada banyak pilihan counter untuk pesan tiketnya.

Bisa Lebih Personal Tapi Mahal


Selain pilihan yang sudah diinfokan sebelumnya, kawan melalak cantik juga bisa menggunakan taksi atau layanan transportasi online. Pilihan ini sangat cocok kalau bepergian dalam kelompok atau membawa banyak barang.

Kamu bisa langsung menuju tujuan tanpa perlu berpindah kendaraan. Namun, perlu diingat bahwa biaya yang dikeluarkan tentu lebih mahal dibandingkan opsi lainnya, terutama jika kamu bepergian sendirian. Nah, itulah kenapa kalo beramai-ramai masih cocok karena bisa bayar patungan donk.

Untuk membuat perjalananmu lebih efisien, ada beberapa tips yang bisa kamu terapkan. Pertama, sesuaikan pilihan transportasi dengan waktu kedatangan. Jika kamu tiba di malam hari, kereta seperti KLIA Ekspres bisa jadi pilihan terbaik karena lebih aman dan cepat.

Kedua, pertimbangkan jumlah barang bawaan. Jika kamu membawa koper besar, pilih transportasi yang lebih nyaman agar tidak kerepotan. Ketiga, cek promo tiket secara online karena seringkali ada diskon menarik untuk kereta bandara.

Menariknya, semua transportasi dari KLIA ke KL Sentral sudah terintegrasi dengan baik, sehingga kamu tidak perlu khawatir tersesat. Petunjuk arah di bandara juga sangat jelas, bahkan tersedia dalam berbagai bahasa. Hal ini membuat perjalananmu semakin mudah, bahkan jika ini adalah pengalaman pertama ke Malaysia.

So, Harus Pilih Mana?


Kesimpulannya, cara dari KLIA ke KL Sentral yang paling mudah adalah menggunakan KLIA Ekspres, sementara yang paling murah adalah bus bandara. Jika kamu ingin kombinasi antara harga dan kenyamanan, KLIA Transit bisa jadi pilihan terbaik. Semua kembali pada kebutuhan dan gaya traveling kamu. Dengan memilih transportasi yang tepat, perjalanan dari bandara menuju pusat kota Kuala Lumpur tidak hanya efisien, tetapi juga menyenangkan.

Jadi, sudah tahu mau pilih yang mana? Pastikan kamu merencanakan perjalanan dengan baik agar pengalaman liburanmu di Kuala Lumpur dimulai dengan lancar dan bebas stres. Ada rekomendasi lainnya? Silahkan tinggalkan komentarnya yha!
Older Posts

Total Tayangan Halaman

HELLO, THERE!


Hello, There!
Hello, There!
My name is Ririn Famur Wandes Rahayu Lubis. I am from Medan, North Sumatera, Indonesia.

Find More



LET̢۪S BE FRIENDS


recent posts

Labels

Blogger Medan Cafe Medan English Article Lifestyle Blogger Review Cafe Solo Backpacker Tips Melalak Cantik Tips Traveling Wisata Asia Tenggara Wisata Indonesia

Blog Archive

Postingan Populer

  • T-Garden Medan,Resort and Ranch Instagramable ala Bali
    T-Garden Medan Resort and Ranch menambah daftar tempat wisata baru yang santai dengan konsep nuansa kekinian ala Bali yang instagram...
  • Pengalaman Pertama Nge-Grab ke Kualanamu International Airport
    Rasa bahagia dan syukur tak terhingga dihaturkan kepada Sang Pencipta sejak membaca sebuah email pengumuman yang menyatakan bahwa aku te...
  • Asian Make Up with PIXY TWC Cover Smooth and PIXY Lip Cream
    Setiap wanita selalu ingin tampil cantik dan mempesona. Definisi cantik dari setiap wanita pun berbeda-beda,begitu juga kaum lelaki y...
  • Menikmati Wisata Seni 3D Art Magic Eye Museum Kawasan Bandara Kualanamu
    Menikmati wisata seni 3 dimensi di hari libur memang menyenangkan dan semakin seru apabila dinikmati bersama keluarga, para sahabat mau...
  • Imajinasi, Creativity, dan Teknologi Ciptakan Konten Kreatif Masa Kini
    Kehidupan manusia melalui banyak proses yang tidak sederhana. Manusia yang diciptakan juga berproses hingga akhirnya kembali lagi ke s...

Community

selebgram medan

Intellifluence Trusted Blogger


 

Created with by BeautyTemplates | Distributed by blogger templates