Bepergian ke Jakarta untuk ke sekian kalinya namun baru kali ini akhirnya bisa pergi sendiri dari Medan. Sebenarnya bukan terkhusus tujuan wisata namun ada banyak hal yang pengen dijelajahi selagi ada waktunya.
Teringat awal ke Jakarta itu sekitar tahun 2011 yang mana masih berstatus mahasiswa dan bepergian pun masih bersama teman-teman satu organisasi. Kali kedua masih sendirian dan selanjutnya ada bepergian lagi bersama rekan di komunitas.
Nah, momen perjalanan terakhir ini ke Jakarta dilalui seorang diri sehingga semua harus diurus tanpa orang lain pula. Demi menghemat budget dan menambah pengalaman maka Saya pun mencoba naik MRT dari bandara menuju hotel.
Saya pun mencari informasi seputar stasiun terdekat menuju hotel yang dituju, dari beragam sumber yang diperoleh maka diputuskan untuk turun di Stasiun Dukuh Atas BNI City. Sebuah pengalaman dimana harus bawa koper besar dengan cara hemat naik turun MRT.
Rasa Senang Naik MRT Jakarta Pertama Kali
Pertama kali naik MRT sendirian di Jakarta adalah pengalaman yang campur aduk antara deg-degan dan excited. Sebagai seseorang yang biasanya mengandalkan ojek online atau transportasi pribadi, mencoba MRT Jakarta terasa seperti membuka bab baru dalam cara menikmati ibu kota.
Semua bermula dari keinginan sederhana: ingin merasakan sendiri bagaimana rasanya menjadi “anak kota” yang naik transportasi umum dengan praktis dan modern. Sejak tahu ada MRT di Jakarta langsung teringat momen perjalanan saat naik MRT di negeri jiran.
Siang itu, Saya memulai perjalanan dari bandara Soekarno Hatta, mencari informasi terlebih dahulu jalur mana yang dilalui untuk tiba di stasiun bandara. Begitu tiba di area stasiun, kesan pertamaku adalah bersih, tertata, dan terasa aman.
Banyak para pengguna transportasi umum yang memenuhi stasiun sambil menunggu, tentu saja harus naik train pindah terminal terlebih dahulu sebelum tiba di stasiun untuk naik MRT. Petunjuk arah jelas, petugas berjaga juga membantu, dan suasananya nyaman bahkan untuk seseorang yang pertama kali datang sendirian.
Cara Beli Tiket MRT Jakarta
Karena ini pengalaman pertama, Saya pun memutuskan membeli tiket langsung di mesin tiket otomatis. Di area stasiun, tersedia mesin pembelian kartu jelajah (single trip). Awalnya tentu saja bertanya ke petugas agar tidak terjadi kesalahan. Cara untuk pemesanan pun cukup mudah dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Pilih tujuan stasiun.
2. Layar akan menampilkan tarif.
3. Masukkan uang tunai atau gunakan pembayaran non-tunai.
4. Ambil kartu yang keluar dari mesin.
Untuk perjalanan ini, Saya memilih tujuan ke BNI City karena lebih dekat naik taksi online dari stasiun tersebut sehingga bisa menghemat budget. Tarif perjalanan ini tentu saja masih sangat terjangkau dibandingkan langsung naik taksi online dari bandara.
Tarif perjalanan lainnya pun masih termasuk terjangkau lho bahkan ada sekitar belasan ribu rupiah tergantung jarak. Selain membeli kartu single trip, sebenarnya kita juga bisa menggunakan kartu e-money seperti Flazz, e-Money Mandiri, atau Brizzi. Bahkan sekarang bisa juga memakai aplikasi pembayaran digital tertentu. Tapi karena ini pengalaman pertama, rasanya lebih seru pegang kartu fisiknya.
Setelah mendapatkan kartu, aku menempelkannya di gate masuk. Bunyi “bip” kecil terdengar, dan pintu otomatis terbuka. Rasanya seperti masuk ke dunia baru. Walaupun sudah pernah coba terlebih dahulu MRT di Malaysia, Singapura, Thailand bahkan hingga Turki.
Seterusnya selama di Jakarta, Saya pun naik MRT meskipun ada juga beberapa kali bersama teman-teman lainnya. Tentu saja menjadi pengalaman saat sendiri maupun bersama orang lain. Paling utama momennya yang terkenang di dalam pikiran.
Menunggu dan Naik Kereta
Area peron terasa nyaman dan ber-AC (untuk stasiun bawah tanah). Garis kuning pembatas jelas terlihat, dan ada pengumuman berkala yang mengingatkan penumpang untuk berdiri di belakang garis aman. Di papan informasi digital, terlihat estimasi waktu kedatangan kereta, hanya beberapa menit saja, cepat dan efisien.
Ketika kereta datang, pintu terbuka dengan rapi, para penumpang yang turun dipersilakan keluar terlebih dahulu, lalu kami yang menunggu masuk secara bergantian. Saya berdiri sambil berpegangan pada hand strap. Di dalamnya bersih, terang, dan terasa modern. Pendingin ruangan bekerja dengan baik, membuat perjalanan nyaman meski Jakarta sedang panas.
Sepanjang perjalanan, Saya memperhatikan pemandangan kota dari jalur layang. Gedung-gedung tinggi, jalan raya yang padat, dan langit Jakarta yang siang itu sedang hujan terasa berbeda dilihat dari balik jendela MRT. Ada rasa bangga juga, melihat bahwa Indonesia punya transportasi publik se-modern ini.
Setiap stasiun diumumkan dengan jelas dalam dua bahasa. Jadi untuk yang baru pertama kali pun tidak perlu takut tersasar. Saya pun turun di Stasiun BNI City, salah satu stasiun bawah tanah yang terhubung langsung dengan pusat kota.
.
Refleksi Naik MRT Sendirian
Pengalaman pertama naik MRT Jakarta sendirian memberi Saya perspektif baru tentang kemandirian dan keberanian mencoba hal sederhana. Terkadang, kita hanya perlu satu langkah kecil untuk keluar dari zona nyaman.
Selain hemat, MRT juga memberi pengalaman berbeda dalam menikmati kota. Saya merasa lebih terhubung dengan ritme Jakarta, melihat berbagai latar belakang orang dalam satu gerbong, dari pekerja kantoran hingga pelajar.
Jika kamu belum pernah mencoba naik MRT sendirian, mungkin ini saatnya. Siapkan kartu pembayaran, tentukan tujuan, dan nikmati perjalanan. Siapa tahu, seperti Saya, kamu akan menemukan bahwa perjalanan singkat di dalam kereta bisa menjadi cerita yang tak terlupakan.











