Spiritiual Journey Part 2 (Kuala Lumpur-Singapore)

January 17, 2018

Menikmati sabtu malam yang merupakan malam yang panjang hingga minggu pagi menjelang di Kuala Lumpur International Airport (KLIA) 2 bukanlah hal yang sulit bagiku. Ketiga kalinya bermalam disana tentulah membuatku terbiasa dengan suasana malam bandara. Memasuki ruangan imigrasi, bertemu dengan para makcik dan pakcik yang akan memberikan cap stempel di paspor pun sudah biasa saja. Saat pertama kali ke Malaysia dulu mungkin masih khawatir jika paspor ditolak dan dipulangkan ke Indonesia.

Kuala Lumpur International Airport (KLIA) 2 sangat bersahabat kepada traveller apalagi yang berlibur ala backpacker dengan budget hemat. Menurutku bandara ini merupakan salah satu yang nyaman dan aman karena memang selalu ramai sehingga tidak begitu besar rasa ketakutan sebagai solo traveller yang bermalam disana. Di bandara ini ada beberapa tempat khusus yang memang disediakan untuk para traveller beristirahat sejenak, meluruskan body dan kaki yang lelah selama penerbangan sebelumnya.

Apakah kamu sudah tau tempat bermalam di Kuala Lumpur International Airport (KLIA) 2 atau masih sering browsing mencari tau tempat tidur di bandara KLIA?. Yeah, ada banyak traveller yang mencari tau terlebih dahulu posisi dari tempat tidur di bandara KLIA 2 tersebut karena memang sangat berguna bagi kita yang mengambil penerbangan malam dari Medan menuju Kuala Lumpur maupun penerbangan lainnya yang memang bisa melakukan penghematan satu malam tanpa perlu memesan hotel.



Morning Flight to Singapore

Setelah bermalam bareng cowok bule ( padahal tidur di antara puluhan orang juga,haha), aku memilih bangun lebih awal untuk menuju kamar mandi membersihkan diri. Penerbangan selanjutnya pukul 09.25, aku gak mau ketinggalan pesawat so aku bersiap-siap lebih awal.



Menunggu di ruang tunggu dekat area check in, aku mencari counter Jet Star dan ternyata masih tutup,mungkin aku kepagian karena sudah datang ke ruangan itu sekitar pukul 06.00 pagi (niat sekali kan).




Ternyata counter dibuka pukul 07.00 so aku menunggu sekitar sejam. Mengantri dengan beberapa orang asing yang memang seluruhnya belum kukenal sebelumnya. Backpack yang terlalu berat harus membayar bagasi senilai 140 RM (hikshiksss rasanya ngenes cintt,hitung aja berapa duit itu kalo dirupiahkan,haduh). Bagaimana cara pembayaran bagasi untuk maskapai Jetstar

Selesai segala urusan di bandara, aku langsung memasuki ruang tunggu bersama beberapa penumpang lainnya menunggu saatnya boarding. Aku tidak mengenal satu pun orang-orang yang berada disini. Seketika muncul perasaan ngiri ketika melihat pasangan suami istri bule yang mesra di hadapanku, mereka saling berciuman (oh my God, ini uda di luar negeri makanya yah boleh aja ya kan) apalagi ketika suaminya belai-belai rambut istrinya (mungkin mereka berfikir yah biasa aja, gak ada orang lain mungkin dipikirnya,aahaha). Padahal ada aku di belakang yang uda baperan,wkkwkwk (lupakan lah cerita itu karena aku sedang belajar untuk membuka pikiran tentang banyak hal agar tidak terlalu menjadi manusia yang kaku).

Tiba di Changi International Airport Singapore

Yeay, finally aku menginjakkan kaki juga di bandara yang katanya salah satu termewah di dunia apalagi bandara ini memang di sebuah negara yang juga merupakan salah satu negara termahal di dunia. Ini memang pertama kalinya aku berada di Changi International Airport Singapore. Aku pun mulai keluar dari pesawat menuju ruang pemeriksaan dan imigrasi. Ada rasa deg-deg an juga karena ini pertama kali ke Singapore yang mana kata orang-orang sih cukup ketat pengawasan disini dan bisa loh dipulangkan kembali ke Indonesia.

Aku mulai masuk dan mengikuti segala aturan, petugas pemeriksaan body protector nya memang tidak terlalu ramah namun juga tidak kejam, ekspresi mereka cukup datar saja. Pemeriksaan selesai dan aku melanjutkan menuju ruang imigrasi dan mengambil bagasi. Di ruang imigrasi inilah yang paling deg-deg jika baru pertama kali masuk Singapore karena pasti ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab dengan baik dan benar. Aku pun bisa menjawab segala pertanyaan serta bisa mendapatkan cop passport dari imigrasi Singapore (yeayy, heboh kali bah)

Well, setelah selesai urusan imigrasi ya kan, aku pun melanjutkan perjalanan untuk mengambil bagasi serta mencari paket sim card. Huhuhu, aku kecewa sekali ketika melihat tas backpack Eiger ku yang terbaru dan memang baru dibeli ini rusak, ikatan tas untuk di pinggangnya rusak dan tidak ada sehingga tidak bisa dijahit kembali nantinya di Indonesia. Aku pun malas memperpanjang maka langsung mencari ruang santai untuk menikmati bandara mewah ini sejenak.




Bertemu Orang Lokal

Pencarian SIM Card dan Kartu Ezlink kulakukan di bandara, aku mencari beberapa counter yang ada disana. Aku pikir bisa semurah di KLIA 2 Malaysia sehingga aku pun mencari counter yang menjual SIM Card karena memang mau menghubungi seorang teman yang kukenal melalui website couchsurfing. Ia menawarkan diri untuk menemaniku berkeliling di Singapore karena ia sudah cukup lama tinggal di Singapore. Aku sempat bingung untuk mencari rental wifi keluar negeri namun ternyata di Singapore cukup beli SIM Card saja sudah bisa. Teman-temanku yang berlibur ke Jepang maupun negara Eropa sering mencari sewa modem wifi di negara tersebut maupun selama masih di Indonesia. Aku pun nantinya berfikir seperti itu ketika berkunjung kesana karena internet disana cukup mahal sehingga sewa modem wifi keluar negeri menjadi pilihan tepat.

SIM Card dan Ezlink sudah mengoyak uang saku ku (huhuhu, harganya mehong sekali) namun aku pikir memang membutuhkan keduanya untuk berlibur di Singapore. Kenalan baruku itu pun memesankan taxi UBER sehingga aku dijemput dari Changi International Airport menuju apartemen nya di seputaran Beauty Center Singapore. Sejak pertama kali kenal dan ia menawarkan untuk membantu, aku sudah tidak mau karena aku ingin berusaha sendiri. Hanya saja ia terus berusaha dan aku memikirkan membawa barang yang berat sehingga menerima tawarannya memesankan taxi UBER untuk menuju tempatnya berada.

Driver taxi UBER nya juga cerdas, kami membicarakan banyak hal seputaran negara, politik, pekerjaan hingga percintaan (sstt...uda bapak-bapak yoo, jangan mikir anak lajang,hahha). Perjalanan ini menghabiskan waktu sekitar 20 menit an, driver nya banyak menjelaskan hal-hal mengenai Singapore dan lokasi-lokasi yang kami lewati selama perjalanan. Kegiatan seperti ini yang aku suka, berbicara dan mengenal banyak hal baru dari warga lokal dari suatu tempat yang kudatangi.

And finally, aku tiba di apartemen temenku itu, aku akan menceritakan tentang sosoknya nanti khusus di artikel terpisah yah karena aku bertemu dan berkenalan dengan banyak lelaki selama perjalanan sehingga ada space artikel khusus untuk mereka. Driver memujiku bahwa aku manis dan cerdas di hadapan teman baruku, aku pun tersipu malu karena ternyata memang teman baruku ini sangat ganteng (aku tidak menemukan wajah seperti dia di kota ku). Kita lanjutin lagi di artikel berikutnya yah, masih buanyak kisah perjalananku.

































You Might Also Like

3 komentar

  1. jadi kek modal nekat gitu ya kak, bagi tips dong kak biar bisa jadi traveler gitu, soalnyakan banyak yang bilang kalau pergi jauh gitu kadang banyak orang jahat, terus jugakan cara komunikasi kita yang kadang gatau, hehe

    ReplyDelete
  2. waaahhh.. kalau aku lebih seneng di bandara singaporenya mbak :) lebih modern kalo menurutku. dan banyak hal yang bisa dilakuin kalau di changi

    ReplyDelete
  3. Jangankan Mbak Ririn, aku aja pasti baper kalo duduk di belakang bule yang lagi ciuman itu. Bedanya itu kan ya. Orang bule lebih gampang mengungkapkan perasaan sayangnya di depan publik

    Jadi inget video viral, seorang Kakek yang jemput istrinya di stasiun / bandara. Bawa bunga terus kasih ciuman mesra pas Nenek itu keluar. So sweet banget

    ReplyDelete

Hai, silahkan tinggalkan kesan saat berkunjung ke melalak cantik.