Perjalanan hari kedua di Pontianak dengan pengalaman dan kisah baru. Bangun pagi sudah menjadi aktivitas rutin yang saya lakukan meskipun sedang tidak bisa shalat. Saya melihat teman sekamar juga sudah bangun dan bersiap-siap untuk meninggalkan kamar. Saya pun segera membereskan ruangan tempat saya tidur kemudian pergi mencari sarapan.

Bertanya kepada staf hotel mengenai tempat makan terdekat namun tidak ada yang sesuai selera. Saya memutuskan untuk menikmati sarapan bubur ikan yang terkenal di Pontianak. Informasi didapatkan dari mesin pencari dan ternyata bisa menggunakan ojek online untuk menuju tempat tersebut. Bubur ikan Ahian begitu menggoda dan ternyata memang ramai dipenuhi oleh warga lokal yang ingin menyantap sarapan pagi.

Saya tidak ingin menghabiskan banyak waktu, selesai makan langsung memesan ojek online menuju destinasi wisata yang dituju yaitu Rumah Betang Pontianak. Yeah, awalnya mengira hanya ada satu yang tradisional namun ternyata sudah ada bangunan baru yang lebih besar. Abang ojek online yang memberitahukan kepada saya bahwa untuk Rumah Betang yang saya pesan itu adalah yang lama. Syukurnya si abang mau mengantarkan lagi ke Rumah Radakng yang baru bahkan ia membantu memotret ketika di Rumah Betang yang pertama.

Oh yeah, si abang ojek online juga punya alat komunikasi yang kece untuk memudahkan ketika harus berbicara kepada penumpang. Alatnya seperti microphone yang dipasangkan pada helm penumpang dan pengemudi sehingga bisa saling mendengar dan bisa berkomunikasi. Wah, ini baru pertama kali saya temui, si abang pun bertanya apakah pernah bertemu ojek seperti itu sebelumnya. Ia juga ramah mau memberitahukan informasi wisata lokal yang ada di Pontianak. Btw, cerita hari pertama berada di Pontianak bisa dibaca di 3 hari 2 malam di Pontianak, ngapain aja sis? (part 1).

Malunya Ketika Salah Mengikuti Orang di Rumah Radakng

Nah, ini adalah pengalaman yang buat malu sendiri sih ketika salah menyapa dan mengikuti orang di rumah radakng. Awalnya saya janjian dengan seorang warga lokal yang dikenal melalui couchsurfing. Pertama kalinya bertemu dengan Dwi sehingga belum tahu pasti wajahnya. Saya menunggu Dwi datang karena kami akan pergi ke destinasi berikutnya yaitu Tugu Khatulistiwa.



Nah, saya yang sudah menunggu tentunya terus memperhatikan setiap orang yang datang ke rumah radakng. Ketika ada seorang perempuan yang memasuki halaman dengan mengendarai sepeda motor maka saya langsung mendekatinya. Si perempuan tersebut pun menegur saya dengan bahasa tubuh seolah-olah sudah mengenal saya. Saya berpikir bahwa dia adalah si Dwi sehingga saya pun mengikutinya berjalan hingga memasuki rumah radakng. Eh, tiba-tiba si perempuan tersebut langsung terheran-heran ketika saya mengikuti di belakangnya. Lalu, ia pun mengatakan bahwa ia tak mengenal saya, oalah malunya diliatin sama beberapa lelaki yang tadinya sempat ngobrol dengan saya dan pengunjung lainnya.

Keramahan Warga Lokal

Well, sebelum kejadian salah mengikuti orang tadi, saya tuh berfoto sendiri sambil menggunakan properti seadanya di sekitar rumah radakng. Finally, saat sungguh ingin punya foto yang bagus dengan tampak seluruh body maka saya meminta tolong beberapa orang lelaki yang sedang berkumpul disitu. Beruntungnya, saat saya bertemu dengan salah seorang pegawai di Pontianak yang juga pernah menjadi fotografer. So, saya berada di tangan yang tepat deh,hahhaah. Si abang itu pun mengarahkan gaya kepada saya seolah-olah memang fotografer profesional. Hasil jepretannya pun tida mengecewakan kok, saya merasa senang akhirnya punya foto yang bagus di rumah radakng tersebut.

Finally Ketemu Dwi, Kami Mengunjungi Tugu Khatulistiwa

Akhirnya Dwi sebenarnya pun datang setelah drama salah mengikuti orang di rumah radakng. Ketika Dwi sudah tiba, kami langsung berangkat menuju tugu khatulistiwa. Perjalanan dengan sepeda motor bisa menghabiskan waktu hingga 30 menit dengan kondisi cuaca Pontianak yang sangat panas dan debu yang berterbangan. Tapi kondisi ini tidak menyurutkan semangat untuk melakukan penjelajahan agar kaki bisa menginjak garis equator.



Areal tugu khatulistiwa tampak sedang melakukan pembenahan pada bagian pintu masuk. Ketika ingin memasuki tugu khatulistiwa tidak dikenakan biaya sepeser pun bahkan nantinya kawan melalak cantik juga akan mendapatkan sertifikat bahwa sudah sampai di garis equator. Bangunan dari luar sudah terlihat bentuk tugu khatulistiwa namun untuk yang aslinya ada di dalam gedung.



Siang itu matahari terik tidak menyurutkan langkah kaki para pengunjung, kebanyakan dari luar kota yang datang. Kami pun berkeliling di dalam gedung, membaca informasi-informasi yang tertera hingga mencoba eksperimen telur yang diletakkan tepat di titik equator. Ada seorang petugas yang memberikan informasi melalui pengeras suara saat pengunjung berada di dalam bahkan ia tidak segan untuk memotret pengunjung agar tepat fotonya di tugu khatulistiwa. Oh yeah, kawan melalak cantik juga bisa membeli aneka souvenir berbentuk tugu khatulistwa yang menurutku harganya masih terjangkau loh, mulai 50 ribuan hingga jutaan.

Berhubung Dwi ingin melakukan penelitian siang ini di laboratorium kampus maka kami segera beranjak dari tugu. Setelah mengabadikan momen, segera sepeda motor melaju ke kampus tempat Dwi melakukan penelitian. Btw, saya mengenalnya juga dari couchsurfing, ia cukup aktif membawa tamu dari dalam maupun luar negeri untuk mengenal Pontianak lebih dekat.

Menikmati Sore Sambil Duduk Lesehan di Taman Catur Kampus Universitas Tanjung Pura (UNTAN)

Saya memilih untuk duduk santai di taman sambil melihat kehidupan mahasiswa yang ada di sekitarnya. Taman catur menjadi pilihan sore itu karena tempatnya yang instagrammable menurut saya. Ada banyak informasi sejarah juga yang dicetak pada kaca yang menjadi properti di sekitar taman. Beberapa tempat wisata diberikan informasi sejarahnya di kaca tersebut yang membentuk seperti plakat dalam ukuran besar.

Anak-anak juga banyak yang bermain di taman bersama orang tua,pohon-pohon yang rindang membuat suasana lebih adem. Kondisi cuaca Pontianak yang panas tentunya sangat membantu dengan kehadiran pohon tersebut. Penjual minuman dan makanan juga ada sehingga mahasiswa yang santai dan lapar bisa menyantap bakso, batagor dan aneka penjaja makanan lainnya. Beberapa jam duduk disini bisa membuat saya menambah pengetahuan tentang gaya bicara warga lokal dan cara mereka bercanda satu sama lain. Saya melihat pasangan pemuda-pemudi yang bercanda tawa sambil asik mengerjakan tugas kampus bersama.

Kesegaran Es Krim Angi yang Bersejarah di Depan Sekolah Petrus

Aktivitas yang padat seharian ini ditutup dengan menikmati es krim Angi yang berada di depan sekolah Petrus. Awalnya sempat khawatir sudah kehabisan karena waktu sudah terlalu sore. Es krim disini sangat terkenal sehingga sudah pasti cepat habis dan bisa tidak kebagian rasa favorit. Saat siang hari sudah pasti sangat sesak dipenuhi pengunjung apalagi posisinya di depan sekolah sudah pasti ramai siswa-siswi yang juga suka nongkrong disini.



Saya memilih es krim dengan rasa nangka karena memang sudah tidak ada pilihan rasa lainnya. Berhubung sudah kesorean maka sudah habis untuk varian lainnya. Es krim yang diletakkan di atas batok kelapa menjadi pilihan sore itu karena lebih unik saja sih. Kelembutan es krim memang berbeda ternyata mereka memang memproduksi es krim sendiri. Yeah, ini adalah es krim rumahan yang rasanya lezat dan nikmat. Aroma nangka begitu menggoda di hidung saya, kacang merah pun menggoda untuk segera dinikmati bersama es krim. Satu porsi es krim nangka dalam batok kelapa bisa didapatkan dengan harga sekitar 23 ribuan. Nah, kawan melalak cantik yang ke Pontianak jangan lupa singgah di es krim Angi yah.

Melihat Keramaian Penutupan STQ Nasional 

Selama saya di Pontianak, ada berbeda-beda teman yang menemani perjalanan selama disana. Malam ini, sudah janjian dengan Ima yang saya kenal melalui perkumpulan pers mahasiswa. Sejak masih menjadi mahasiswa sudah saling kenal namun baru kesempatan bertemu di Pontianak. Ia menjemput saya di hostel sore hari setelah bersih-bersih sepulang dari jalan-jalan seharian. Lokasi yang kami kunjungi adalah penutupan STQ Nasional di alun-alun kapuas.



Malam itu, saya ingin naik kapal berkeliling kota menyusuri sungai kapuas. Dengan 12 ribuan saja sudah bisa menikmati kota Pontianak pada malam hari sambil melihat cahaya lampu dan bintang di langit. Kapal tidak terlalu modern namun masih terlihat lebih aman daripada yang biasa digunakan saat mengelilingi danau toba. Di kapal juga tersedia makanan dan minuman yang dijual sehingga selama perjalanan tidak perlu khawatir donk kalo kehausan dan kelaparan.




Berhubung ada penutupan STQ nasional maka sudah pasti tempat ini sangat padat dipenuhi warga lokal dan juga pendatang. Satu kapal dengan kami, ada rombongan ibu-ibu dengan dress code sentuhan kuning. Mereka tampak bahagia dengan musik dangdut yang diputar melalaui smartphone sambil berjoget bersama-sama. Namun, kapal tak kunjung jalan, mereka pun turun karena tak sabar ingin melihat pertunjukkan yang ada di penutupan STQ tersebut.

Makan Bubur Poddas Pertama Kali

Ima mengajak saya untuk makan malam menikmati bubur poddas khas Pontianak di Warung Pa'Ngah. Duh, selama di Medan pun tidak pernah makan bubur tersebut. Saya bukan penikmat masakan pedas namun tidak bisa juga jika masakan tanpa rasa. Ima merekomendasikan bubur poddas dengan tambahan daging, ia menyantap bubur dengan bakso. Selama ini kurang menyukai bubur pedas karena rasanya sudah pasti bervariasi.





Awalnya juga galau saat ingin menyantap bubur poddas, namun saya makan perlahan-lahan hingga akhirnya tidak tahan lagi dan tidak habis. Disini memang ramai bahkan driver dari ojek online saja banyak yang bolak balik melakukan pesanan dari pelanggan yang memesan via aplikasi. Ukuran teh manis dingin menjadi perhatian saya karena dengan harga yang murah bisa dapat ukuran jumbo. Bubur poddas juga masih terjangkau kok, dengan harga terjangkau saja sudah bisa nikmati seporsi bubur poddas Pa'Ngah.

Kembali ke Hostel, Berteman dengan Staf Hotel

Ada perasaan sedih ketika mengingat bahwa itulah malam terakhir di Pontianak. Saya tidak ingin melewatkan malam begitu saja apalagi malam ini tidur sendirian, teman sekamar sudah check out. Duduk di ruangan komunal bersama staf hotel menjadi pilihan, mereka sedang santai menonton film di lantai dasar. Saya pun bergabung bersama mereka ketika ditawarkan untuk duduk bersama-sama. Kami pun menonton film yang bisa dinikmati sambil bercerita juga untuk saling mengenal.

Ketika film sudah selesai, saya pun memutuskan untuk naik ke atas dan tidur. Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam, esok hari masih banyak lagi yang ingin dilakukan sebelum kembali ke Kuala Lumpur. Saya pun pamit masuk ke kamar dan salah satu staf juga sudah habis jam kerja dan mau pulang ke rumah. Well, kita lanjutin besok lagi cerita kelanjutan bagian terakhir dari cerita 3 hari 2 malam di Pontianak yah.














0 Komentar