Pagi ini tepat tanggal 6 Juli 2019, hari terakhir di Pontianak. Ingin rasanya menghabiskan waktu lebih lama disini, hanya saja masih ada banyak hal yang harus diselesaikan di Kuala Lumpur. Bangun tidur tidak semangat karena tubuh pun terasa lelah. Sekitar pukul 08.00 pagi baru bangun dari tempat tidur dan sekitar pukul 09.00 baru selesai merapikan semua perlengkapan. Setelah bersiap, saya langsung turun ke bawah menuju resepsionis dan melakukan check out.



Ada rasa sedikit sedih meskipun baru beberapa hari karena memang nyaman saat berada di The Colour Hostel. Staf yang ramah dan suasana penginapan yang nyaman serta tenang. Barang bawaan saya tinggalkan di resepsionis. Saya pun pergi mencari sarapan pagi ini dan kemudian berkeliling untuk melanjutkan beberapa destinasi yang sudah masuk daftar untuk dikunjungi. Ayam penyet menjadi pilihan pagi ini, rasa makanan ternyata tidak sesuai ekspektasi, Finally, makanan pun tidak habis dan saya langsung pergi menuju kampung warna-warni di Gang Kuantan Pontianak.

Kampung Warna-warni yang Kurang Berwarna

Entah kenapa,saya sangat menyukai hal-hal yang penuh warna karena hidup ini seperti masih kurang berwarna tanpa kamu, eakkkkkk. Setelah sarapan pagi, saya memutuskan untuk memesan ojek online menuju kampung warna-warni di Gang Kuantan, lokasinya berada di pinggiran sungai. Saat saya menginjakkan kaki kesana suasana tampak sepi, seperti kurang berwarna nuansanya. Masyarakat juga tidak terlalu kelihatan berlalu lalang, hanya tampak beberapa anak-anak yang bermain.




Cuaca Pontianak yang panas membuat kulit semakin eksotis namun semangat untuk menjelajahi kampung warna-warni tidak surut. Saya melihat aktivitas warga di pinggiran sungai, ada yang mencuci kereta, ada yang menjajakan jualan dan aneka aktivitas lainnya. Siang itu, saya bertemu beberapa anak perempuan yang sedang berjalan, kami pun mengobrol sedikit tentang kampung warna-warni tersebut. Mereka juga membantu saya untuk memotret momen saat berada disana.



Bertemu Permaisuri Keraton Kadariah

Ojek online siang itu mengantarkan saya hingga pintu masuk keraton kadariah. Saya melihat ada banyak kendaraan yang parkir, itu artinya sedang banyak juga pengunjung yang sedang berada di dalam keraton. Ketika memasuki bangunan keraton, tampak khas melayu berwarna kuning yang mendominasi. Saya melihat banyak juga mahasiswa mengenakan almamater yang sedang membuat video sepertinya sedang ada tugas kuliah.

Keraton ini sendiri buka setiap hari namun jika ada hari besar atau kemalangan dari pihak keluarga keraton maka akan ditutup. Memasuki keraton tidak memerlukan biaya karena bisa gratis untuk masuk kesini, hanya saja jangan lupa siapkan sumbangan terbaik untuk membantu petugas kebersihan dan penjaga keamanan. Di keraton ini juga ada cermin 1000 bayangan loh yang mana saat kita berfoto di depan kaca maka akan tembus tampak ada banyak kaca di belakang kita.



Saat memasuki keraton, saya disambut oleh wanita separuh baya yang mengenakan pakaian gamis dengan warna kuning lengkap dengan hijabnya. Ia pun ramah menanyakan asal dan keperluan apa ke Pontianak. Saya menjawab dengan ramah dan mengobrol sedikit tentang keraton. Melihat foto-foto yang dipajang sempat tidak sadar bahwa ternyata yang berbicara dengan saya itu adalah permaisuri keraton. Ramah dan baik dalam menghadapi pengunjung, menjelaskan sedikit banyaknya sejarah di keraton menjadi nilai plus bagi seorang permaisuri bahkan mau diajak foto bersama.

Awalnya saya mengira bahwa ibu itu bukan permaisuri karena ia hanya berdiri di dekat pintu apalagi dengan senyuman ramah kepada para pengunjung. Ia menceritakan bahwa suaminya sudah mangkat sehingga posisi digantikan oleh anaknya yang menjadi raja. Tampak kehidupan di keraton sudah tidak seperti dahulu masa kerajaan. Saat ini sudah pasti jauh lebih modern, para keluarga keraton juga sudah tidak tinggal disana namun sudah ada rumah sendiri.

Belanja Souvenir Khas Pontianak di Kawasan Jalan Patimura

Meninggalkan Pontianak tanpa membawa sesuatu yang menarik sebagai kenangan rasanya masih kurang puas. Saat mengunjungi suatu kota baru biasanya saya mencari sesuatu yang unik dan khas baik dalam bentuk pakaian maupun makanan. Kali ini saya memilih untuk membeli pakaian khas dengan desain ukiran Pontianak. Selain itu, aksesoris seperti kalung juga menjadi favorit maka tidak ketinggalan untuk membeli sebuah dari sana seharga 40 ribuan. Sebenarnya ingin membeli yang berbatuan tapi harganya ampun deh untuk merogoh kantong.

Setelah Wisata Budaya, Lanjut Ngemall ke Ayani Mall Pontianak

Sambil menunggu kedatangan Linda yang juga saya kenal melalui couchsurfing maka mall adalah pilihan yang tepat untuk menghindar dari teriknya panas matahari kota Pontianak. Saya pun berkeliling sambil melihat aktivitas masyarakat lokal saat berada di mall. Mayoritas memang tidak berbeda jauh dengan yang biasa dilakukan masyarakat Medan. Ayani Mall ini cukup besar dan banyak juga barang-barang bermerk namun masih belum komplit seperti di kota-kota besar lainnya.

Memandangi Kemegahan Masjid Raya Mujahidin 

Masjid raya ini baru saja diresmikan oleh pak presiden Joko Widodo pada tahun 2015 lalu. Kemegahannya sungguh memanjakan mata untuk teruse memandanginya. Ada getaran kenyamanan saat berada disana, sayangnya tidak bisa shalat pada saat itu karena rutinitas bulanan. Saya memutuskan untuk menjepret beberapa spot yang menarik sambil terburu-buru karena harus ke bandara sore ini untuk melanjutkan perjalanan ke Kuala Lumpur.

Mengakhiri Perjalanan di Pontianak

Setelah selesai petualangan melalak cantik selama 3 hari ini maka inilah waktunya pulang. Saya harus kembali ke Kuala Lumpur dan mengakhiri liburan singkat di Pontianak. Linda mengantarkan saya kembali ke hostel namun ternyata ia pun menawarkan diri untuk lanjut sampai bandara. Wah, merasa beruntung sekali saat bertemu dengan orang-orang baik selama perjalanan, saya pun memeluknya dan tak lupa mengabadikan momen foto berdua.



Saat sudah terburu-buru menuju bandara ternyata penerbangan delay hingga pukul 9 malam, sudah pasti tiba di Kuala Lumpur akan sangat kemalaman. Syukurnya sudah dipesankan hotel selama dua malam disana. Saya sempat sedikit kesal harus menunggu tapi syukurnya membawa laptop sehingga bisa tetap kerja saat di bandara. Ah, penuh kenangan pokoknya perjalanan ini dan tak sabar untuk melakukan rencana perjalanan lainnya. Selesai sudah 3 hari 2 malam di Pontianak, nantinya akan ada cerita perjalanan baru dari kota yang berbeda.








0 Komentar