facebook twitter instagram linkedin
  • Home
  • Travel
    • Wisata Indonesia
    • Wisata Asia Tenggara
    • Wisata Turki
  • LifeStyle
    • Beauty
    • Healthy
  • About Me
  • Kontak Informasi

Melalak Cantik- Travel Blog Ririn Wandes

Char kway teow yang terkesan sederhana, hanya kumpulan mie yang dimasak dengan rempah wangi disiram kecap berwarna gelap ternyata punya kesan tersendiri. Selalu memberikan kenangan rasa yang selalu tertinggal dan terus ingin diulang.

Saya selalu berjalan kaki di George Town, Penang, Malaysia ketika sore menjelang malam, satu aroma khas pasti langsung menyambutmu: aroma asap wajan panas, sedikit manis, gurih, pedas, dan bau laut yang menggoda.




Menelusuri setiap Lebuh di Penang memang ada kesan tersendiri, Saya pun teringat masa dimana lebih sering solo traveling berkeliling di George Town. Bahkan saaat kembali lagi terakhir kali bersama suami, makanan pertama yang dicari adalah char kway teow.

Itu bukan sekadar makanan, mungkin akan biasa saja bagi yang tidak suka tapi siapapun pasti mencarinya saat ke Penang. Begitulah char kway teow, ikon street food Penang yang membuat siapa pun jatuh cinta begitu pertama kali mencobanya.

Saya tiba di Penang Sabtu malam pada trip terakhir ke sana, lapar setelah perjalanan yang meskipun singkat dari Medan tapi cukup lama berangkat dari rumah hingga tiba di bandara. Saya sengaja menunggu sampai jam makan malam, karena banyak warga lokal bilang: “Char kway teow terbaik baru muncul setelah matahari turun.”

Dan benar saja, begitu Saya mendekati deretan warung di pinggir jalan, aroma itu langsung menusuk hidung. Itulah yang dialami pada trip awal ke Penang hingga sebelumnya saat solo traveling. Tapi kali ini, ada kekecewaan karena tiba begitu larut malam sehingga tidak menemukan lagi penjualnya terutama yang halal.

Apa Itu Char Kway Teow?


Btw, apa sih char kway teow itu? Kenapa sih banyak yang sebut ini salah satu menu enak dan murah cocok dibeli selama di Malaysia khususnya Penang? Well, char kway teow secara harfiah berarti “kwetiau goreng”. Tapi jangan disamakan dengan kwetiau goreng biasa yang kamu temui di kota asalmu deh.

Versi Penang adalah sebuah seni dimana campuran kwetiau nasi pipih, udang segar, telur, tauge, daun kucai, dan bumbu yang digoreng cepat di dalam wajan sangat panas hingga menghasilkan wok hei yaitu aroma asap khas dari api besar yang menyentuh mie. Ini memberikan rasa gurih, sedikit manis, dan smoky yang tak tergantikan apalagi dicampur dengan kerang atau oyster, uhh makin bertambah goyangan lidah.

Biasanya versi tradisionalnya juga menggunakan lemak babi (lard) dan bahkan lap cheong (daging babi kering), tetapi di Penang kamu bisa menemukan versi halal yang mengganti bahan-bahan terlarang namun tetap mempertahankan cita rasa uniknya. 

char kway teow malaysia


Pengalaman Pertamaku dengan Wok Hei & Tekstur yang Sempurna


Saya masih ingat jelas saat pertama kali suapan itu memasuki mulut: tekstur kwetiau yang lembut tapi tidak lembek, dengan lapisan bumbu yang melekat di setiap lekukan mie. Udangnya masih terasa segar, sedikit manis dari laut, dipadu dengan tauge yang masih renyah.

Bagian terbaiknya? aroma asap dari wajan panas, yang disebut wok hei oleh para chef lokal, ini semacam “nafas dari wajan” yang tak bisa ditiru kalau kamu memasak di rumah sih. Itulah pertama beli di sekitar Lebuh Chulia, ada penjual yang membawa gerobak sepeda dan katanya halal.

Ada sesuatu yang sangat memuaskan tentang melihat chef beraksi: mereka akan mengangkat wajan besar di atas api, membalik-balik mie dengan lincah sambil menambahkan saus, telur, sayuran, dan udang dalam waktu kurang dari semenit. Aksinya seperti sebuah tarian, cepat, penuh tenaga, dan berujung pada sepiring mie yang sempurna.

Apa Sih yang Membuat Char Kway Teow Begitu Favorit?


Ada beberapa alasan kenapa char kway teow bukan hanya sekadar makanan, tapi menjadi favorit banyak orang:

1. Rasa Kompleks dalam Satu Suapan


Perpaduan manis, asin, gurih, pedas, dan smoky membuat setiap suapan penuh karakter. Tidak seperti banyak makanan lain yang dominan satu rasa, char kway teow menawarkan “perjalanan rasa” dalam satu gigitan. 

2. Tekstur yang Dinamis


Kwetiau yang lembut berbaur dengan tauge renyah, udang juicy, dan telur yang sedikit lembut, semua bercampur jadi harmoni tekstur yang sangat memuaskan untuk setiap orang yang menyukainya.

3. Koneksi Budaya dan Cerita di Balik Masakan


Char kway teow bukan hanya makanan, ini adalah bagian dari warisan kuliner Penang. Dengan akar dari imigran Cina Teochew yang memadukan bahan lokal laut dengan teknik memasak cepat, hidangan ini telah berevolusi jadi simbol keramahan dan kreativitas jalanan Penang. 

4.  Pengalaman Street Food yang Autentik


Ini bukan hanya soal makanan di piring,ini soal suasana. Duduk di bangku plastik di foodcourt atau gerobak pinggir jalan, menikmati keriuhan suara spatula, hiruk pikuk penjual, dan komunitas warga lokal yang santai sambil makan. Semua itu membuat pengalaman makan jadi lebih dari sekadar santapan.

Pilihan Char Kway Teow Halal di Penang


Bagi wisatawan Muslim atau siapa pun yang mencari versi halal dari hidangan legendaris ini, Penang juga punya pilihan yang ramah dan lezat tanpa kompromi pada cita rasa:

1. Man Char Kuey Teow Wet Style Penang


Tempat ini dikenal dengan versi char kway teow yang sedikit ‘wet’ atau berkuah ringan, tapi tetap dengan aroma wok heiyang kuat. Banyak pengunjung memuji tekstur mie yang juicy dan rasa udang yang terasa segar, cocok buat makan malam santai setelah berkeliling kota.

2. Yan Char Kuey Teow (Halal)


Salah satu warung halal yang menyajikan char kway teow tanpa babi/lard, menggunakan ayam dan seafood sebagai ganti, namun tetap mempertahankan cita rasa khas Penang yang smoky. Tempat ini populer di food court Pengkalan Weld — lokasi yang strategis buat kamu yang sambil wisata kuliner. 

3. Bee Hwa Café — Muslim-Friendly Char Kway Teow


Kafe ini cukup terkenal karena menjadi salah satu tempat yang menyajikan char kway teow versi tanpa daging babi sejak tahun 1992. Banyak traveler Muslim merekomendasikannya sebagai spot yang aman dan tetap lezat. 

Selain itu ada juga beberapa pilihan lain di area Bayan Baru yang juga dikenal dengan versi halal dan cita rasa lokal yang otentik. Biasanya saat ada bazaar juga bisa kita temukan para penjual char kwey teow, Saya pun mencoba di pinggir jalan sekitar Chew Jetty. 

Awalnya tidak yakin dengan rasanya karena belum pernah coba sebelumnya serta melihat sekitar yang sepi. Namun, ketika mencobanya bisa buat nyaman dan kenyang, seporsi banyak pun bisa habis. Tentu saja itu juga karena sudah rindu mau makan char kway teow di Penang setelah setahun tidak berkunjung ke Malaysia.




















Bepergian ke Jakarta untuk ke sekian kalinya namun baru kali ini akhirnya bisa pergi sendiri dari Medan. Sebenarnya bukan terkhusus tujuan wisata namun ada banyak hal yang pengen dijelajahi selagi ada waktunya.

naik mrt jakarta sendirian



Teringat awal ke Jakarta itu sekitar tahun 2011 yang mana masih berstatus mahasiswa dan bepergian pun masih bersama teman-teman satu organisasi. Kali kedua masih sendirian dan selanjutnya ada bepergian lagi bersama rekan di komunitas.

Nah, momen perjalanan terakhir ini ke Jakarta dilalui seorang diri sehingga semua harus diurus tanpa orang lain pula. Demi menghemat budget dan menambah pengalaman maka Saya pun mencoba naik MRT dari bandara menuju hotel.

Saya pun mencari informasi seputar stasiun terdekat menuju hotel yang dituju, dari beragam sumber yang diperoleh maka diputuskan untuk turun di Stasiun Dukuh Atas BNI City. Sebuah pengalaman dimana harus bawa koper besar dengan cara hemat naik turun MRT.

stasiun mrt bni city



Rasa Senang Naik MRT Jakarta Pertama Kali


Pertama kali naik MRT sendirian di Jakarta adalah pengalaman yang campur aduk antara deg-degan dan excited. Sebagai seseorang yang biasanya mengandalkan ojek online atau transportasi pribadi, mencoba MRT Jakarta terasa seperti membuka bab baru dalam cara menikmati ibu kota.

Semua bermula dari keinginan sederhana: ingin merasakan sendiri bagaimana rasanya menjadi “anak kota” yang naik transportasi umum dengan praktis dan modern. Sejak tahu ada MRT di Jakarta langsung teringat momen perjalanan saat naik MRT di negeri jiran.

Siang itu, Saya memulai perjalanan dari bandara Soekarno Hatta, mencari informasi terlebih dahulu jalur mana yang dilalui untuk tiba di stasiun bandara. Begitu tiba di area stasiun, kesan pertamaku adalah bersih, tertata, dan terasa aman.

Banyak para pengguna transportasi umum yang memenuhi stasiun sambil menunggu, tentu saja harus naik train pindah terminal terlebih dahulu sebelum tiba di stasiun untuk naik MRT. Petunjuk arah jelas, petugas berjaga juga membantu, dan suasananya nyaman bahkan untuk seseorang yang pertama kali datang sendirian.

Cara Beli Tiket MRT Jakarta


Karena ini pengalaman pertama, Saya pun memutuskan membeli tiket langsung di mesin tiket otomatis. Di area stasiun, tersedia mesin pembelian kartu jelajah (single trip). Awalnya tentu saja bertanya ke petugas agar tidak terjadi kesalahan. Cara untuk pemesanan pun cukup mudah dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Pilih tujuan stasiun.
2. Layar akan menampilkan tarif.
3. Masukkan uang tunai atau gunakan pembayaran non-tunai.
4. Ambil kartu yang keluar dari mesin.

Untuk perjalanan ini, Saya memilih tujuan ke BNI City karena lebih dekat naik taksi online dari stasiun tersebut sehingga bisa menghemat budget. Tarif perjalanan ini tentu saja masih sangat terjangkau dibandingkan langsung naik taksi online dari bandara.

Tarif perjalanan lainnya pun masih termasuk terjangkau lho bahkan ada sekitar belasan ribu rupiah tergantung jarak. Selain membeli kartu single trip, sebenarnya kita juga bisa menggunakan kartu e-money seperti Flazz, e-Money Mandiri, atau Brizzi. Bahkan sekarang bisa juga memakai aplikasi pembayaran digital tertentu. Tapi karena ini pengalaman pertama, rasanya lebih seru pegang kartu fisiknya.

Setelah mendapatkan kartu, aku menempelkannya di gate masuk. Bunyi “bip” kecil terdengar, dan pintu otomatis terbuka. Rasanya seperti masuk ke dunia baru. Walaupun sudah pernah coba terlebih dahulu MRT di Malaysia, Singapura, Thailand bahkan hingga Turki.

Seterusnya selama di Jakarta, Saya pun naik MRT meskipun ada juga beberapa kali bersama teman-teman lainnya. Tentu saja menjadi pengalaman saat sendiri maupun bersama orang lain. Paling utama momennya yang terkenang di dalam pikiran.

Menunggu dan Naik Kereta


Area peron terasa nyaman dan ber-AC (untuk stasiun bawah tanah). Garis kuning pembatas jelas terlihat, dan ada pengumuman berkala yang mengingatkan penumpang untuk berdiri di belakang garis aman. Di papan informasi digital, terlihat estimasi waktu kedatangan kereta, hanya beberapa menit saja, cepat dan efisien.

Ketika kereta datang, pintu terbuka dengan rapi, para penumpang yang turun dipersilakan keluar terlebih dahulu, lalu kami yang menunggu masuk secara bergantian. Saya berdiri sambil berpegangan pada hand strap. Di dalamnya bersih, terang, dan terasa modern. Pendingin ruangan bekerja dengan baik, membuat perjalanan nyaman meski Jakarta sedang panas.

Sepanjang perjalanan, Saya memperhatikan pemandangan kota dari jalur layang. Gedung-gedung tinggi, jalan raya yang padat, dan langit Jakarta yang siang itu sedang hujan terasa berbeda dilihat dari balik jendela MRT. Ada rasa bangga juga, melihat bahwa Indonesia punya transportasi publik se-modern ini.

Setiap stasiun diumumkan dengan jelas dalam dua bahasa. Jadi untuk yang baru pertama kali pun tidak perlu takut tersasar. Saya pun turun di Stasiun BNI City, salah satu stasiun bawah tanah yang terhubung langsung dengan pusat kota.
.

Refleksi Naik MRT Sendirian


Pengalaman pertama naik MRT Jakarta sendirian memberi Saya perspektif baru tentang kemandirian dan keberanian mencoba hal sederhana. Terkadang, kita hanya perlu satu langkah kecil untuk keluar dari zona nyaman.

Selain hemat, MRT juga memberi pengalaman berbeda dalam menikmati kota. Saya merasa lebih terhubung dengan ritme Jakarta, melihat berbagai latar belakang orang dalam satu gerbong, dari pekerja kantoran hingga pelajar.

Jika kamu belum pernah mencoba naik MRT sendirian, mungkin ini saatnya. Siapkan kartu pembayaran, tentukan tujuan, dan nikmati perjalanan. Siapa tahu, seperti Saya, kamu akan menemukan bahwa perjalanan singkat di dalam kereta bisa menjadi cerita yang tak terlupakan.


Menikmati senja bersama tersayang akan selalu berbeda rasanya, momennya dan kenikmatan tersendiri cuma diri sendiri yang pahami. Jika dulu harus duduk seorang diri melihat pemandangan indah senja di Chew Jetty Penang, kali ini dengan nuansa baru bersama suami.




Menghabiskan waktu bersama tentu begitu bahagia, meskipun ada alokasi dana tambahan yang harus dikeluarkan saat menjadi suami dan istri. Ketika menikah ini, budget liburan menjadi bertambah, sebelumnya mungkin untuk keperluan diri namun kini harus menyiapkan anggaran berdua.

Setelah kami melakukan perjalanan panjang beberapa hari di Penang, tentu Saya tidak ingin melewatkan momen bisa duduk di tepi laut. Melihat beragam orang yang juga menikmati masa bersama keluarga tersayang.

Suasana Indah Chew Jetty

Suasana sore Chew Jetty membuat Saya sungguh paham bahwa menikmati perjalanan tak selalu harus mahal. Terletak di kawasan Weld Quay, bagian dari area bersejarah George Town, tempat ini adalah perkampungan tradisional Tionghoa di atas laut yang masih dihuni warga lokal.

Rumah-rumah kayu berdiri di atas tiang, lorongnya memanjang ke arah air, dan suasananya terasa hangat sekaligus autentik. Kanan dan kiri tampak para penjual yang menjajakan barang dagangan di teras rumah. Aneka hal pun dijual mulai souvenir, goodie bag, kaos hingga makanan dan minuman yang unik dan bisa menghilangkan dahaga.

Waktu Tepat ke Jetty


Datanglah sekitar pukul 17.30 agar bisa menikmati perubahan warna langit secara perlahan. Saat matahari mulai turun, cahaya keemasan memantul di permukaan laut, menciptakan siluet rumah-rumah panggung yang cantik untuk difoto.

Duduk santai di ujung dermaga adalah aktivitas paling sederhana sekaligus paling berkesan. Tidak ada tiket masuk untuk berjalan di area utama jetty, jadi kita bisa menikmati suasana tanpa biaya. Ini termasuk cara liburan hemat juga, bisa bepergian jauh dari rumah tetapi tetap murah.

Kenapa Harus ke Chew Jetty?

Beberapa kawan melalak cantik menanyakan alasan kenapa harus menginjakkan kaki ke Chew Jetty saat ke Penang? Saya pun memberikan beberapa alasan berikut ini:

1. Menikmati Sunset Tanpa Biaya


Hal pertama yang wajib dilakukan tentu saja berburu senja. Cari spot duduk yang tidak mengganggu aktivitas warga. Biasanya ada bangku kayu atau ruang terbuka di ujung jetty. Berhubung untuk menghemat budget maka bisa membawa minuman sendiri.

Saya dan suami sudah menyiapkan tumbler berisi air dan ketika habis pun akan membeli saja dari minimarket sekitar agar lebih hemat. Jika membeli di area jetty, harga minuman dingin rata-rata sekitar RM5–RM8. Dengan kurang dari RM10, kamu sudah bisa duduk tenang menikmati golden hour lho.

Bagi pecinta fotografi, momen ini adalah waktu terbaik untuk mengambil gambar dengan cahaya alami yang lembut. Siluet perahu nelayan dan warna langit yang dramatis akan membuat hasil foto terlihat estetik tanpa perlu filter berlebihan.

2. Mencicipi Jajanan Lokal yang Terjangkau


Di sepanjang jalan masuk Chew Jetty, terdapat kios kecil yang menjual camilan dan minuman ringan. Jika berminat bisa saja mencoba es krim lokal, jus buah segar, atau snack tradisional dengan harga rata-rata RM5–RM15.

Mau makan lebih kenyang dengan harga tetap ramah kantong? Bisa donk berjalan kaki sekitar 5–10 menit menuju area kuliner di sekitar George Town. Saya dan suami pun sempat membeli char kway teow yang murah di sekitar pintu luar jetty.

Penang terkenal dengan street food yang lezat dan murah. Dengan budget sekitar RM15–RM25 per orang, sebagai pelancong tentu sudah bisa menikmati nasi kandar, char kway teow, atau laksa Penang di kedai lokal. Makan sederhana setelah menikmati senja terasa jauh lebih bermakna dibandingkan makan di restoran mahal sih.

3. Berburu Foto dan Konten Estetik


Bagi traveler yang juga content creator, Chew Jetty adalah lokasi yang sangat instagrammable. Rumah kayu berwarna-warni, jembatan panjang, dan latar laut menciptakan komposisi visual yang unik. Selain itu, tidak jauh dari sini kamu bisa berjalan kaki menyusuri mural dan street art khas George Town yang sudah mendunia.

Banyak spot foto di area ini gratis. Cukup manfaatkan pencahayaan alami senja. Jika ingin hasil maksimal, gunakan outfit dengan warna netral agar kontras dengan langit jingga. Tanpa perlu biaya tambahan, kamu bisa mendapatkan banyak konten untuk media sosial.

Saya pun bersyukur liburan kali ini bersama suami sehingga bisa meminta untuk abadikan momen berkali-kali. Beberapa titik spot menjadi incaran yang memang ramai ditunggu para pelancong untuk mengantri. Harus ikut sabar nunggu orang lain foto jika mau ikutan eksis dan dapat konten estetik tapi jika tidak hobi, ya bisa saja tetap nikmati senja saja.

4. Naik Perahu Singkat 


Jika ingin pengalaman berbeda dan memiliki sedikit tambahan budget, terkadang ada warga lokal yang menawarkan perjalanan singkat dengan perahu kecil di sekitar perairan jetty. Biayanya berkisar RM20–RM30 per orang untuk durasi pendek.

Kami pun melihat ada banyak pengunjung yang mencoba naik perahu tersebut, cukuplah untuk berkeliling singkat. Dari atas perahu, bisa melihat garis pantai George Town dan suasana pelabuhan saat matahari terbenam. Meski opsional, pengalaman ini cukup berkesan sih sepertinya, mungkin saat kunjungan berikutnya, akan dicoba bersama suami.

Cara Hemat Menuju Chew Jetty


Untuk menuju Chew Jetty dari pusat kota, kamu bisa berjalan kaki jika menginap di area George Town. Alternatif lainnya adalah menggunakan bus Rapid Penang dengan tarif sekitar RM1–RM4 tergantung jarak. Transportasi online juga relatif terjangkau jika bepergian bersama teman atau pasangan.

Berhubung Saya dan suami memang sedang berjalan-jalan dan baru saja turun dari kapal ferry maka kami langsung jalan kaki saja menuju jetty. Kemudian, pulang ke hotel dengan berjalan kaki saja, meskipun melelahkan namun buat bahagia karena bersama pasangan yang disayang.

Chew Jetty bukan tentang atraksi modern atau hiburan mewah. Tempat ini menawarkan ketenangan, sentuhan sejarah, dan suasana lokal yang autentik. Duduk santai menyaksikan matahari tenggelam, berbagi camilan sederhana, lalu berjalan menyusuri jalanan heritage George Town adalah kombinasi yang sempurna untuk sore yang berkesan.

Kadang, perjalanan terbaik bukan yang paling mahal, melainkan yang memberi ruang untuk berhenti sejenak dan benar-benar menikmati waktu. Dan di Chew Jetty, senja selalu tahu cara membuat kita ingin tinggal sedikit lebih lama.

Saya dan suami pun akhirnya kembali ke hotel ketika sudah mulai gelap dikarenakan tubuh juga lelah setelah berkeliling seharian ke banyak spot asik di Penang. Kawan melalak cantik bisa baca aneka artikel lainnya seputar Penang di blog ini, ya.

Cara ke Penang Hill tentu saja banyak cara terutama jika memang punya budget besar. Namun bagaimana para pelancong hemat yang mau mengalokasikan budget agar bisa liburan sesuai keinginan? Tentu penghematan bisa dimulai dari biaya transportasi.

Sejak awal mengelilingi Penang pertama kali memang sudah mencoba bus yaitu Rapid Penang. Biaya yang murah menjadi pilihan utama meskipun harus siap dengan perjalanan lebih lama. Dari kawasan George Town menuju Penang Hill memang tidak dekat makanya akan dikenakan biaya mahal untuk naik taksi online.



Sebagai traveler yang menhemat budget, tentu naik bus sangat membantu apalagi tidak terlalu terburu-buru dalam liburan ini. Meskipun pertama kali tahun 2016 lalu, Saya pergi ke Penang Hill naik taksi online bersama seorang rekan perempuan.

Terakhir pada Desember 2025 lalu, Saya bepergian menuju Penang Hill bersama suami dan tentu saja kami memilih naik bus rapid. Bukankah memakan waktu lama? Memang sih tetapi itulah yang kami cari, ingin ada sensasi momen di perjalanan berduaan.

Oh ya, tentu saja kawan melalak cantik bisa mengmbil dua destinasi sekaligus lho, kok gitu? Yah, saat berkeinginan pergi ke Penang Hill, jangan lewatkan Kek Lok Si Temple juga karena masih searah dan mudah ditemukan lokasinya.

Awal Cara Naik Bus Rapid

Saya akan menceritakan berdasarkan pengalaman terlebih dahulu, perjalanan dimulai dari kawasan George Town lebih tepatnya Lebuh Chulia. Ada banyak pilihan bus dengan destinasi beragam namun kami memilih nomor 201. 

Oh ya, tidak perlu merasa kesulitan menemukan nomor bus karena sistemnya di Penang sudah sangat rapi. Cukup cari di Google Maps saja, ketik destinasi dan titik awal keberangkatan. Nantinya akan ada beragam pilihan nomor bus yang ditampilkan dan pilihlah sesuai tujuan.

Jika kawan-kawan melalak cantik tinggal di daerah lain pun selama masih ada bus rapid maka bisa cek nomornya, bahkan bisa pula menyambung dengan naik beberapa bus. Tentu saja itu lebih repot donk tetapi  bagi traveler yang tinggal di kawasan George Town akan lebih mudah karena pilihan bus beragam.

Cara Bayar Ongkos Bus Rapid


Setelah menemukan nomor bus maka harus menunggu di bus stop atau perhentian bus yang ada di beberapa sudut jalan. Tidak semua menyediakan tempat duduk maka harus sabar menanti bus dengan berdiri.

Jika mau cari tempat duduk, bisa pula menemukan bus stop yang ada bangku tapi hendaklah jalan ke beberapa titik. Lagi pula, biasakan utamakan beri kepada ibu hamil maupun orang tua sehingga sebagai anak muda masih bisa berdiri saja.

Biasanya saat bus sudah datang dari kejauhan, orang-orang yang sudah menunggu akan langsung segera berdiri dan menghentikan bus tersebut dengan lambaian tangan. Penumpang pun akan dengan sabar antri untuk naik, pintu masuk dan keluar dipisahkan sehingga tidak terjadi tabrakan satu sama lain.

Ketika sudah di dalam bus, langsung sebutkan nama destinasi yang dituju kepada supir sehingga saat itu pula akan diberi tahu harga ongkosnya. Biasakan sedia uang recehan atau uang kecil karena tidak akan ada kembalian, supir akan menyebutkan nominal ongkos dan penumpang langsung masukkan uang ke baki yang tersedia.

Biaya sekali jalan untuk menuju Penang Hill pun hanya sekitar lebih kurang RM3 tetapi berhubung kami mengawali perjalanan ke Kek Lok Si Temple maka biaya menjadi double. Ongkos awal sekitar RM2 lebih dan dari Kek Lok Si hanya sekitar RM1 lebih saja.

Oh ya, jika kalian malas naik bus dari Kek Lok Si bisa pula naik taksi online kok dan harga juga tidak semahal dari kawasan George Town karena lingkungan lokasinya masih sama di Air Itam. Tetapi bagi penikmat pengalaman naik bus maka lebih seru aja sih.

Cara Henti di Destinasi


Saat sudah tiba di tujuan, mungkin akan kebingungan cara meminta supir menghentikan bus. Tetapi jangan sampai terburu-buru berteriak karena ada tombol yang siap ditekan di sekitar bangku bus maupun di tiang pegangan dalam bus.

Jika kalian mendapatkan bangku untuk duduk maka bisa langsung pencet saja ketika bus sudah mau mendekat di perhentian bus. Biasanya sih untuk destinasi wisata, ada beberapa penumpang lain yang juga turun di tempat tersebut maka jarang sekali Saya pencet tombol untuk berhenti.

Pastikan turun ketika sudah terbuka pintunya dan segeralah turun apabila memang sudah sampai di bus stop. Jika tidak ada lagi yang turun maka pintu bus segera akan ditutup otomatis oleh driver. Pernah kejadian pada Saya yang masih ragu mau turun di bus stop yang mana sehingga harus turun di perhentian berikutnya karena pintu bus sudah ditutup.

Tiba di Penang Hill

 
Kawan-kawan yang ingin langsung mendapatkan dua destinasi bisa mulai perhentian di Kek Lok Si Temple dan lanjut naik bus ke Penang Hill. Jika sudah sampai di perhentian bus Penang Hill, bisa langsung turun dan tentu saja harus tetap jalan menuju pintu masuknya.




Ketika mau pulang pun, bisa cari gambar perhentian bus dan pilih tujuan ke kawasan George Town, pada saat itu, Saya dan suami berjalan ke depan sampai bus stop dan memang tidak begitu dekat tetapi sekalian olahraga tentu tidak ada salahnya deh.

Itulah cerita perjalanan cara menuju Penang Hill naik Bus Rapid sehingga biaya traveling bisa lebih hemat. Alokasi dana bisa untuk bayar penginapan maupun makan serta oleh-oleh. Tungguin cerita perjalanan melalak cantik lainnya selama liburan di Malaysia, ya.























Mengawali perjalanan singkat untuk mencoba lebih mendalami satu sama lain dalam sebuah liburan singkat sejak menjadi pasangan suami istri. Tidak ada rencana besar saat kami memutuskan pergi ke Penang ini, tentu juga tidak ada itinerary padat serta tanpa ekspektasi berlebihan untuk trip 10 hari bersama ini.

Tujuan utama kami hanya ingin berjalan berdua, menikmati trip pertama sebagai suami dan istri. Mengunjungi tempat yang santai dari hiruk pikuk keramaian dan ingin menikmati slow living ala warga Penang.

Armenian Street menjadi tempat kami melambat, trip bersama ini dimulai dari Penang. Jalan sempit dengan bangunan tua itu seolah mengajarkan satu hal sederhana: tidak semua perjalanan harus cepat untuk sampai ke tujuan.

menyusuri armenian street bareng suami

Dengan menyusuri jalanan dengan pemandangan bangunan tua di sekitar George Town menambah kehangatan jalan berduaan. Sepanjang jalan hanya ada canda gurau sambil memandang satu sama lain. Oh begini rasanya bisa liburan bersama pasangan yang sudah sah.

Langkah Pertama sebagai “Kita”


Sejak berangkat dari bandara Kualanamu Deli Serdang Sumatera Utara, tentu ada keterikatan penuh untuk saling menguatkan dalam perjalanan ini. Dimulai dari proses check in hingga proses keberangkatan lainnya, saling bantu segala hal adalah kunci untuk trip pertama ini.

Ketika sudah tiba di bandara Penang, tetap saling mengingatkan dan memberi tahu segala informasi agar lancar proses bisa masuk melalui imigrasi. Berhubung sudah larut malam, maka kami memutuskan untuk naik taksi online menuju kawasan George Town.

Saat tiba di malam hari, memang tidak langsung ke Armenian Street. Namun pagi itu, kami berjalan berdampingan di bawah matahari Penang yang belum terlalu terik. Suamiku menggenggam tanganku, sesekali menunjuk mural di dinding tua, seolah ingin memastikan aku melihat hal yang sama dengannya.

Aku sadar, ini bukan lagi perjalanan “aku”, tapi perjalanan “kita”.

Selama ini, aku mengingat sudah entah berapa kali bahkan tak terhitung melewati kawasan Armenian ini saat masih single. Tapi ada rasa berbeda ketika sudah berjalan dengan suami karena tangan digenggam dan ada seseorang yang siap membantu mengabadikan momen dalam jepretan.

Di Armenian Street, kami tidak buru-buru mencari spot viral. Kami berhenti di depan mural sepeda, tersenyum tanpa banyak kata. Kamera menyimpan gambar, tapi hatiku menyimpan rasa—rasa aman, rasa pulang, rasa berjalan dengan orang yang kini menjadi tempat berbagi doa.

Jalan Pendek, Percakapan Panjang


Kami duduk di sebuah kafe kecil, bangku kayu tua, kopi hangat di tangan. Tidak ada obrolan berat. Hanya cerita ringan, tawa kecil, dan rencana-rencana sederhana tentang masa depan. Aku berpikir, mungkin beginilah pernikahan: bukan selalu tentang destinasi jauh, tapi tentang menikmati jeda bersama. Armenian Street memberi kami ruang untuk itu.

Waktu Terasa Lebih Lambat

Berjalan melewati bangunan heritage, aku merasa seperti sedang membuka lembaran baru hidup. Dulu aku sering bepergian sendiri, menentukan arah, memutuskan segalanya seorang diri. Kini, setiap langkah melibatkan diskusi kecil—“mau ke sana dulu atau ngopi dulu?” Dan entah kenapa, itu terasa indah.

Itinerary Singkat: Menikmati Armenian Street dengan Hati yang Tenang


07.30 – 08.30
Sarapan sederhana di George Town
Kami memilih makan ringan, cukup untuk mengisi energi sebelum berjalan.

08.30 – 10.30
Menyusuri Armenian Street, Berfoto di street art, Masuk galeri seni kecil, Berjalan tanpa tujuan jelas
Ini bagian favorit kami—tidak ada jadwal, hanya mengikuti rasa.


11.30 – 12.30
Makan siang halal
Menutup perjalanan dengan makanan hangat dan obrolan santai.

Budget Perjalanan: Sederhana tapi Cukup


Kami tidak ingin perjalanan pertama ini terasa berat di kantong. Cukup tahu bahwa kebahagiaan bisa datang tanpa biaya besar. Total budget berdua: ± RM90–110 sudah termasuk makan, kopi, dan tiket masuk tempat wisata.

Armenian Street dan Makna Perjalanan Pertama


Di jalan ini, aku belajar satu hal penting: perjalanan pertama setelah menikah bukan tentang kemewahan, tapi tentang menyelaraskan langkah.

Tentang belajar berjalan bersama, meski kadang langkah tidak selalu seirama. Tentang menikmati hal-hal kecil, sambil percaya bahwa perjalanan hidup ke depan akan lebih panjang—dan semoga selalu bisa dinikmati dengan cara yang sama: pelan, sadar, dan penuh rasa syukur.

Jika suatu hari kami kembali ke Armenian Street, mungkin bukan lagi sebagai pasangan baru menikah. Tapi aku tahu, jalan ini akan selalu mengingatkan kami pada awal yang sederhana dan penuh harap. Selanjutnya punya impian bisa bepergian dengan suami serta anak sehingga lebih lengkap kebersamaan ini.
Newer Posts
Older Posts

Total Tayangan Halaman

HELLO, THERE!


Hello, There!
Hello, There!
My name is Ririn Famur Wandes Rahayu Lubis. I am from Medan, North Sumatera, Indonesia.

Find More



LET̢۪S BE FRIENDS


recent posts

Labels

Blogger Medan Cafe Medan English Article Lifestyle Blogger Review Cafe Solo Backpacker Tips Melalak Cantik Tips Traveling Wisata Asia Tenggara Wisata Indonesia

Blog Archive

Postingan Populer

  • T-Garden Medan,Resort and Ranch Instagramable ala Bali
    T-Garden Medan Resort and Ranch menambah daftar tempat wisata baru yang santai dengan konsep nuansa kekinian ala Bali yang instagram...
  • Pengalaman Pertama Nge-Grab ke Kualanamu International Airport
    Rasa bahagia dan syukur tak terhingga dihaturkan kepada Sang Pencipta sejak membaca sebuah email pengumuman yang menyatakan bahwa aku te...
  • Asian Make Up with PIXY TWC Cover Smooth and PIXY Lip Cream
    Setiap wanita selalu ingin tampil cantik dan mempesona. Definisi cantik dari setiap wanita pun berbeda-beda,begitu juga kaum lelaki y...
  • Menikmati Wisata Seni 3D Art Magic Eye Museum Kawasan Bandara Kualanamu
    Menikmati wisata seni 3 dimensi di hari libur memang menyenangkan dan semakin seru apabila dinikmati bersama keluarga, para sahabat mau...
  • Imajinasi, Creativity, dan Teknologi Ciptakan Konten Kreatif Masa Kini
    Kehidupan manusia melalui banyak proses yang tidak sederhana. Manusia yang diciptakan juga berproses hingga akhirnya kembali lagi ke s...

Community

selebgram medan

Intellifluence Trusted Blogger


 

Created with by BeautyTemplates | Distributed by blogger templates