facebook twitter instagram linkedin
  • Home
  • Travel
    • Wisata Indonesia
    • Wisata Asia Tenggara
    • Wisata Turki
  • LifeStyle
    • Beauty
    • Healthy
  • About Me
  • Kontak Informasi

Melalak Cantik- Travel Blog Ririn Wandes

Seketika ingin flashback menuju masa pertama kali menginjakkan kaki ke Bangkok sekitar tahun 2017. Dulu, tentu saja bukan kota ini menjadi tujuan utama ketika ke Thailand, sempat melewati Hat Yai namun belum terlalu banyak lakukan penjelajahan.




Beda Rasa Bangkok vs Hat Yai


Jika boleh jujur, Saya sempat berfikir bahwa semua kota di Thailand itu bakal punya vibe yang mirip, chaotic tapi charming, penuh street food enak, dan super aesthetic buat foto. Tapi semua asumsi itu langsung runtuh begitu menginjakkan kaki di Bangkok dan beberapa bulan kemudian penjelajahan lanjut ke Hat Yai.

Dua kota ini? Beda banget. Bahkan bisa bikin kamu mikir, “Ini masih satu negara, kan? Kok bisa beda banget yak"




Kesan Pertama Bikin Kaget


Di Bangkok, Saya langsung disambut dengan kota metropolitan yang super hidup. Gedung tinggi, mall besar, transportasi modern, rasanya kayak perpaduan Jakarta dan Seoul. Tapi begitu sampai di Hat Yai, suasananya berubah drastis. Lebih santai, lebih “lokal”, dan jauh dari kesan kota besar sih.

Shock pertama? Saya merasa kayak pindah dunia. Kalau Bangkok itu sibuk dan cepat, Hat Yai itu tenang dan sederhana. Wajah yang terlalu familiar didominasi dengan warga lokal, bahkan turis pun tidak tampak ramai seperti di Bangkok.

Transportasi: Modern vs Manual


Di Bangkok, Saya dimanjakan dengan Bangkok BTS yang super praktis, mau bepergian sekitar dalam kota bisa langsung tap kartu, naik, dan sampai tujuan tanpa drama macet. Memang tetap harus sabar menunggu kedatangan BTS dan terkadang harus siap pula untuk berdiri jika terlalu penuh penumpangnya.

Bagaimana dengan transportasi di Hat Yai? Jangan harap ada kereta modern seperti itu. Transportasi lebih banyak pakai tuk-tuk atau kendaraan lokal. Awalnya terasa ribet, tapi justru di situlah pengalaman uniknya sih.

Tapi, berhubung keseringan solo traveling dan mau praktis tanpa bertanya tentang tuk-tuk yang menuju ke tujuan maka naik ojek online lebih praktis sih. Ini salah satu momen di mana Saya harus lebih fleksibel sebagai traveler, harus bisa menyesuaikan transportasi yang mau digunakan selama ngetrip.

Kuliner: Surga Street Food vs Hidden Local Gems


Bangkok itu surganya street food modern mulai dari yang viral sampai yang Michelin star pun ada. Semua terlihat cantik, tertata, dan Instagramable. Tapi Hat Yai? Lebih “jujur”, makanannya mungkin nggak selalu estetik, tapi rasanya? Gila sih, autentik banget. Bahkan beberapa makanan lokal di sana rasanya lebih “ngena” dibanding yang dicoba di Bangkok.

Shock berikutnya adalah tentu jangan nilai makanan dari tampilannya aja, terkadang estetik doank tapi rasanya masih biasa sih. Tapi, ketika mengunjungi Bangkok dan Hat Yai memang tetap lebih banyak hunting makanan lokal yang tentu saja cari ada label halal.

Bahasa & Interaksi: Lebih Mudah vs Lebih Menantang


Di Bangkok, ada banyak orang yang sudah terbiasa dengan turis. Bahasa Inggris cukup membantu walaupun masih tetap harus menelaah lebih dalam untuk aksen yang digunakan oleh warga lokal. Di Hat Yai, Saya sempat struggle terutama jika mau bertanya tentang lokasi karena eggak semua fasih berbahasa Inggris, jadi harus lebih banyak pakai gesture atau Google Translate.

Tapi justru di situ lebih merasa interaksinya lebih hangat, lebih genuine meskipun harus bersabar untuk bisa punya komunikasi berlanjut. Ketika menanyakan harga juga sebenarnya lebih asik kalau tahu bahasa lokal agar mudah untuk tawar menawar.

Biaya: Bangkok Menguras, Hat Yai Bersahabat


Ini bagian yang paling terasa bagi solo traveler yang mode liburan hemat alias ala backpacker. Masa pertama kali ngetrip ke Bangkok tuh memang masih awal memulai sehingga masih penuh perhitungan untuk segala budget yang dikeluarkan.

Bangkok bisa jadi cukup mahal, apalagi kalau kamu kalap belanja atau nongkrong di cafe aesthetic. Pilihan toko fashion banyak, mall mewah berebut mencuri perhatian makanya duit bisa habis kalau tidak mengontrol diri. Sementara Hat Yai jauh lebih ramah di kantong, pilihan mall pun tidak beragam.

Mulai dari makanan, transportasi, sampai penginapan, semuanya terasa lebih ringan di Hat Yai. Sebagai solo traveler tentu masih mencari dormitory sehingga bisa sharing kamar dengan traveler lainnya. Biaya yang dikeluarkan tentu saja bisa lebih hemat.

Aesthetic & Spot Foto: Kota Instagram vs Kota Cerita


Kalau kamu tipe traveler yang cari konten cantik, Bangkok jelas juaranya donk,hampir setiap sudut bisa jadi spot foto bahkan terus bertambah aneka atraksi wisata disana. Hat Yai? Tentu saja enggak sebanyak itu. Tapi justru di sana kamu dapat “cerita”, bukan sekadar foto saja.

Dan sebagai konten kreator, aku belajar bahwa enggak semua tempat harus aesthetic untuk bisa jadi menarik. Awal pertama ngetrip ke Hat Yai hanya lakukan penjelajahan di sekitar kota tapi ketika berkesempatan bersama teman-teman maka kami sewa transportasi lokal untuk jelajah beragam kawasan lainnya sehingga dapat spot foto yang menarik pula.

Tips Tetap Cantik Saat Traveling di Dua Kota Ini


Percaya deh, cuaca Thailand itu bisa bikin makeup luntur dalam hitungan jam. Jadi ini beberapa trik andalan agar bisa tetap tampil on point berfoto di depan spot wisata. Pertama, tentu saja harus gunakan sunscreen karena ini menjadi hal wajib terutama di Bangkok yang panasnya lebih “menusuk”.

Kedua, pilih makeup ringan dan tahan lama, pastikan pula selalu bawa face mist biar tetap fresh. Berhubung di Hat Yai lebih santai, Saya malah lebih sering tampil natural dan surprisingly, itu justru bikin lebih nyaman saat berkeliling tempat wisata. Cantik itu bukan soal full makeup, tapi soal feeling good selama perjalanan. So, pilihlah yang sesuai dengan kenyamana diri aja ya.

So, Pilih Bangkok atau Hat Yai?


Kalau kamu suka city vibes, modern lifestyle, dan konten aesthetic, tentu saja Bangkok adalah jawabannya. Tapi kalau kamu pengen pengalaman yang lebih lokal, santai, dan hemat maka Hat Yai bisa jadi pilihan yang lebih “kena di hati”.

Buat Saya pribadi?Tetap butuh keduanya karena ternyata, traveling itu bukan cuma soal destinasi, tapi tentang bagaimana setiap tempat bisa kasih rasa yang berbeda dan kadang, rasa itu datang dari hal-hal yang enggak kita duga sebelumnya.

Dan melalui trip ke Bangkok hingga ke Hat Yai, Saya belajar beragam hal diantaranya jangan pernah berekspektasi terlalu sempit pada sebuah tempat karena bisa jadi, justru perbedaan itulah yang bikin perjalanan kamu jadi cerita yang nggak terlupakan. Kalian gimana? Adakah punya cerita seru selama ngetrip di Bangkok dan Hat Yai, gaes?
Katanya kalau mau traveling itu harus siap ‘kucel' dengan kulit kusam, rambut seadanya, dan outfit yang penting nyaman aja gitu Tapi entah kenapa, Saya nggak pernah benar-benar percaya dengan anggapan itu karena meskipun berlibur tetap harus on point.

cara tetap glow up saat traveling



Kalimat seperti itu sempat terlintas di kepala saat pertama kali memutuskan untuk solo trip dengan budget terbatas pada tahun 2017 akhir. Waktu itu, Saya terlalu fokus menekan pengeluaran sampai lupa satu hal penting: perasaan nyaman dengan diri sendiri.

Hasilnya? Memang hemat, tapi setiap bercermin rasanya kurang percaya diri apalagi blog ini sejak awal dibangun punya citra melalak cantik yang mana saat traveling harus tetap terlihat on point. Di sisi lain, pernah juga terlalu sibuk ingin terlihat “sempurna” saat traveling tapi tentu saja ujung-ujungnya dompet yang menjerit pelan.

Dari dua pengalaman yang bertolak belakang itu, Saya akhirnya belajar satu hal sederhana: traveling itu bukan soal memilih antara hemat atau tetap cantik. Keduanya bisa berjalan beriringan, asal tahu caranya sih.

Buat Saya sekarang, definisi “cantik saat traveling” sudah berubah yang mana bukan lagi tentang makeup lengkap atau outfit yang selalu on point, tapi lebih ke bagaimana bisa tetap merasa segar, rapi, dan nyaman di setiap langkah perjalanan. Cantik versi ini terasa lebih ringan, lebih jujur, dan justru lebih memancarkan percaya diri serta tentu saja budget lebih bersahabat.

Gimana Cantik Saat Traveling?


Salah satu kunci utamanya ternyata ada di cara kita packing. Dulu Saya sering membawa terlalu banyak produk, dengan alasan “jaga-jaga”. Padahal kenyataannya, setengah dari isi tas itu tidak terpakai. Bahkan pernah kelebihan bagasi sehingga harus membayar lebih hanya untuk barang bawaan saja.

Sekarang, Saya lebih memilih membawa skincare ukuran travel size dengan fungsi dasar: pembersih wajah, pelembap, dan sunscreen. Sesederhana itu, tapi efeknya luar biasa. Kulit tetap terjaga, tas lebih ringan, dan nggak perlu repot setiap kali harus pindah tempat.

Hal yang sama juga berlaku untuk makeup. Sekarang lebih mulai mengandalkan produk multifungsi saja seperti lip tint yang bisa dipakai untuk bibir sekaligus blush on. Praktis, hemat tempat, dan tetap bikin wajah terlihat fresh untuk foto-foto kecil yang seringkali jadi kenangan paling berharga.

Lalu soal outfit, ini bagian yang dulu cukup tricky apalagi sudah punya branding si paling kece gaya saat liburan. Ingin terlihat stylish, tapi juga nggak mau over budget lagi deh terutama sayang untuk bayar bagasi pulang dan pergi.

Solusinya ternyata sederhana: pilih warna-warna netral dan model yang mudah dipadupadankan. Dengan beberapa potong pakaian saja, bisa menciptakan berbagai look yang berbeda. Selain itu, outfit yang nyaman juga memberi efek besar pada aura kita. Karena jujur saja, rasa percaya diri itu seringkali datang dari kenyamanan serta terkadang beli aja di kota yang dituju sehingga pergi ringan tapi pulang bisa bawa pakaian dari tempat berbeda.

Rahasia Cantik Dari Dalam


Selain penampilan luar, Saya juga mulai lebih memperhatikan self-care kecil selama perjalanan. Minum air putih yang cukup, istirahat yang terjaga, dan memberi waktu untuk diri sendiri meskipun hanya duduk santai di sudut kafe atau menikmati pemandangan tanpa terburu-buru. Hal-hal sederhana seperti ini ternyata sangat berpengaruh pada bagaimana kita terlihat dan merasa.

Seketika kembali memori ke satu momen saat duduk di sebuah kafe kecil setelah seharian berjalan kaki. Wajah Saya mungkin tidak sempurna, jilbab sudah tidak terlalu on point karena angin, tapi ada rasa tenang yang sulit dijelaskan. Di sekeliling, banyak orang dengan gaya mereka masing-masing, simple, santai, tapi tetap menarik dengan cara yang unik. Di situlah Saya sadar, cantik itu bukan tentang seberapa banyak usaha yang terlihat, tapi tentang bagaimana kita membawa diri.







































Pernah nggak sih, kamu booking penginapan cuma karena “yang penting murah dan strategis” tapi ternyata malah jadi salah satu bagian paling berkesan dari perjalananmu? Well, itu persis seperti yang Saya rasakan bersama suami waktu pertama kali menginap di Swing & Pillows Georgetown Penang.

review swing and pillows penang


Review Swing and Pillows Penang


Ini merupakan sebuah hostel yang diam-diam punya cara sendiri untuk bikin tamunya jatuh hati sih. Awalnya, kami nggak berekspektasi banyak karena saat berlibur di akhir tahun tidak mudah menemukan penginapan murah dan nyaman.

Sebagai pejalan yang lebih suka menghabiskan budget untuk kuliner dan eksplorasi kota, penginapan buat Saya tentu saja sekadar tempat untuk istirahat setelah seharian lakukan penjelajahan. Sebelum menikah pun lebih sering menginap di apartemen yang sudah lengkap fasilitas dengan harga terjangkau tapi lokasi memang kebanyakan di Bayan Lepas, cukup jauh ke kawasan wisata di George Town.

Hal yang paling penting lainnya juga tidak menyeramkan karena tidak sedikit hostel di Penang yang haunted. Bagi Saya untuk cari hostel yang penting bersih, aman, nyaman dan lokasinya strategis sih. Tapi begitu sampai di kawasan George Town, semua terasa sedikit berbeda. Jalanan yang penuh warna, mural di setiap sudut, dan aroma makanan yang menggoda seolah menyambut perjalanan ini dengan hangat.

First Impression Hostel Murah Gak Murahan


Kesan pertama menginjakkan kaki di Swing and Pillows sempat kebingungan karena ternyata ada dua hostel dengan nama yang sama di lorong yang sama pula. Saya pun memastikan kembali bahwa yang kami tuju sudah tepat meskipun tampak sepi dan seperti tak nampak ada kehidupan dari luar.




Memang sejak awal sudah tahu bahwa proses check-in dilakukan sendiri, hanya perlu menghubungi via WhatssApp ke admin. Kemudian, akan diberikan kode untuk bisa masuk ke pintu utama dan kamar. Tentu saja semuanya sudah disiapkan oleh pihak hostel termasuk kamar dan kebutuhan lainnya.

Proses check-in di hostel ini terbilang cepat dan tanpa ribet. Nggak ada kesan mewah memang, tapi justru itu yang bikin suasananya terasa santai. Interiornya minimalis dengan dominasi warna netral, dipadukan dengan pencahayaan hangat yang bikin suasana terasa nyaman. Bukan tipe tempat yang langsung bikin “wow” di awal, tapi perlahan bikin betah sih.




Begitu masuk ke ruangan utama tampak memang kesedarhanaan itu, tapi ketika naik ke lantai atas mulai terlihat interior yang memiliki nilai seni. Syukur saja tidak merasakan horor walaupun lampu remang-remang sedikit menakutkan karena memang suasana sangat sepi.

Ketika masuk ke kamar, kesan pertama yang muncul adalah: simple, tapi cukup buat berdua bersama suami. Tempat tidurnya empuk, sprei bersih, dan yang paling penting ada AC-nya dingin (trust me, ini penyelamat di Penang yang cuacanya bisa cukup terik).

Apa yang Buat Betah di Swing and Pillows?


Ada banyak hal yang buat betah di hostel murah tapi gak murahan ini bahkan Kami yang awalnya hanya 3 malam bisa extend 2 malam lagi lho.  Buat kamu yang seperti Saya, yang kadang masih harus update blog atau upload konten selama traveling, koneksi WiFi di sini juga cukup stabil. Jadi nggak perlu drama cari sinyal ke sana-sini deh, mau di kamar atau ruang komunal bahkan dapur tetap bisa kok.

Yang aku suka dari Swing & Pillows adalah konsepnya yang “nggak berlebihan, tapi ngena” banget. Mereka tahu kebutuhan traveler masa kini: tempat istirahat yang nyaman, lokasi strategis, dan harga yang bersahabat. Nggak ada fasilitas super fancy, tapi semua yang ada terasa cukup dan fungsional sih.

Traveler yang menghemat juga cocok disini, bayangin aja Penang dengan cuaca panas itu tentu butuh minum air putih yang banyak. Jika selalu beli air di supermarket tentu bisa menghabiskan banyak anggaran donk. Bersyukur deh bisa isi air dingin, mau air hangat juga bisa di dapur sehingga tiap keluar bisa penuhi semua botol minum terlebih dahulu sebelum keluar untuk jalan-jalan.

Fasilitas lainnya tentu saja bisa cuci kain karena ada jemuran kecil, tempat menggantungkan baju di kamar seperti lemari kecil, ada pula meja kecil dan bangku untuk kerja serta lampu kamar yang bisa diganti-ganti warna sehingga suasana makin romantis bersama suami.

Dan soal lokasi, ini salah satu nilai plus terbesar sih. Dari hostel, Saya dan suami bisa jalan kaki ke berbagai spot menarik di George Town. Mau cari street art ikonik? Tinggal jalan santai. Mau kulineran? Pilihannya banyak banget, dari makanan kaki lima sampai hidden gem yang sering direkomendasikan warga lokal. Rasanya seperti tinggal di tengah cerita, bukan sekadar jadi turis yang lewat gitu aja.

Momen Menarik Untuk Diingat

Ada satu momen yang cukup buat Saya mengingatnya dimana saat pagi hari Saya dan suami keluar hostel untuk mencari sarapan masih sekitar pukul 7 pagi. Udara masih segar, jalanan belum terlalu ramai, dan suasana kota terasa lebih “hidup” dengan cara yang tenang. 




Rasanya memang ini dinamakan slow living sih, kenyamanan yang hadir membuat hubungan makin romantis. Di momen itu, Saya pun sadar bahwa pengalaman menginap bukan cuma soal tempat tidur, tapi juga bagaimana sebuah tempat bisa membuat kita merasa lebih dekat dengan kota yang kita kunjungi.

Swing & Pillows juga cocok banget untuk berbagai tipe traveler sih. Seketika kepikiran juga kenapa dulu belum menemukan hostel ini saat masih suka liburan sendirian. Buat solo traveler, tempat ini terasa aman dan nyaman.

Buat backpacker, jelas ramah di kantong. Bahkan buat content creator yang butuh spot estetik sederhana, beberapa sudut di hostel ini masih cukup “Instagramable” dengan gaya minimalisnya. Saya pun melihat ada banyak wisatawan mancanegara yang menginap disini, terlihat saat mereka berkumpul di ruang komunal maupun ketika makan di dapur.




So, menurut Saya dan sudah bertanya pula ke suami bahwa tempat ini direkomendasikan deh untuk yang cari penginapan murah tapi gak murahan. Ada yang sudah punya pengalaman menginap disini? Yuk berbagi ceritanya di kolom komentar.
Pertama kali Saya jalani solo trip di Indonesia, rasanya deg-degan tapi masih ‘aman’ yang dalam artian bisa dilalui dengan hati sedikit tenang. Tentu ada hal berbeda saat pertama kali keluar negeri sendirian, semuanya berubah mulai dari cara pesan makanan sampai cara percaya diri ngomong sama orang asing.

Mengingat perjalanan solo di dalam negeri itu dilakukan pertama kali saat mengikuti kegiatan Model United Nation (MUN) di Universitas Diponegoro tahun 2012. Akhirnya malah ngetrip keliling Pulau Jawa karena pengen ngerasain pindah antar provinsi naik kereta api.

Sejak sudah senang mencoba liburan sendiri di Indonesia, rasa penasaran bertambah hingga mau solo trip ke luar negeri. Itulah dimulai pada tahun 2017 setelah liburan ke luar negeri pertama bersama kawan-kawan pada tahun sebelumnya.

Apa Sih Serunya Liburan Sendiri?

Tentu saja ini belum tentu cocok bagi semua orang, bepergian sendirian membutuhkan mental yang kuat dan keberanian yang tidak biasa. Jika kebanyakan orang lebih memilih ngetrip dengan travel agent atau bersama teman-teman tapi Saya lebih prefer untuk solo trip saja.




Keseruan yang dirasakan berbeda dan ada pengalaman tersendiri yang tidak biasa. Bisa berinteraksi dengan orang baru dimulai dari komunikasi yang disampaikan dari pertemuan singkat. Menantang diri untuk mencari destinasi yang mau dituju sambil lihat peta dan bertanya ke warga sekitar.

Setelah perjalanan sendiri ini ada kenangan yang membuat diri menjadi semakin kuat menghadapi tantangan kehidupan. Bisa bertahan sendiri di negeri orang yang tentu saja harus bisa mengatur keuangan dan kemampuan diri untuk beradaptasi.

Ririn Wandes mulai dikenal dengan melalak cantik sejak awal suka menulis artikel perjalanan dan membagikan foto maupun video di media sosial mengenai hang out maupun info cafe serta wisata terbaru. Kemudian sejak lakukan solo trip ke luar negeri makin dikenal dan banyak mendapat tawaran job serta diundang jadi pembicara.

Kenapa Akhirnya Mau Solo Trip?

Pertanyaan yang tidak sedikit ditanyakan oleh teman maupun para pembaca serta pengikut di media sosial. Berhubung pada masa itu belum terlalu banyak perempuan yang melakukan perjalanan sendirian. Apalagi memang informasi pun tidak begitu mudah didapatkan seperti saat ini.

Jika dulu hanya sedikit wanita yang mau lakukan solo trip, sekarang tentu saja semakin meningkat terutama untuk trip keliling ASEAN. Postingan yang dibagikan melalui konten foto dan video di media sosial semakin berserakan, dengan mudah bisa ditonton dan dapatkan informasinya.




Akhirnya mau solo trip ini memang ternyata lebih fleksibel saja sih, bisa dilakukan tanpa menunggu jadwal liburan yang sama dengan orang lain. Jika harus nunggu bisa bersamaan tentu tidak sesuai dengan keinginan.

Perrnah janjian mau liburan, jadwal libur kerja berbeda. Sekalinya bisa libur tapi duit yang terkumpul tidak sama. Saya pun harus menyesuaikan jadwal bisa cuti dari tempat kerja dengan uang simpanan yang dimiliki. Itulah sebabnya memang akhirnya memutuskan mau solo trip saja dan ternyata seru hingga keberlanjutan.

Apa Sih Perbedaan Solo Trip di Indonesia dan Luar Negeri?

Berani bepergian sendirian di Indonesia dan luar negeri tentu saja ada perbedaan yang dirasakan dari perjalanan di lingkungan yang berbeda. Jika kawan melalak cantik bertanya apa sih perbedaannya, mari simak selengkapnya di bawah ini:

1. Rasa Aman dan Nyaman

Di Indonesia, Saya sih masih bisa ‘nekat’ karena tahu kalau tersesat pun masih bisa nanya dengan nyaman. Aura warganya masih sedikit dikenali apalagi bisa pakai bahasa yang satu sama lain masih saling ngerti. Tapi di luar negeri, harus bisa belajar lebih prepare, mulai dari save map offline sampai catat alamat hotel karena khawatir tersesat dan tidak mudah bertanya jika tidak semua bisa berbahasa Inggris.

2. Bahasa dan Komunikasi

Bisa saja dari bahasa yang berbeda dan gaya komunikasi menimbulkan kesalahpahaman. Jika di dalam negeri bisa gunakan bahasa sama pun tetap perhatikan intonasi. Begitu pula di luar negeri, harus bisa cari yang punya pemahaman Bahasa Inggris. Kejadian saat di Turki, tidak sedikit pula yang kesulitan dalam menggunakan bahasa Inggris sehingga sulit mau bertanya tentang informasi tertentu.

3. Budget dan Pengelolaan Uang

Berlibur di dalam negeri tidak khawatir nilai tukar mata uang berubah, pembayaran bisa lebih fleksibel dan tidak berubah. Cukup gunakan mata uang yang sama, bisa transaksi tunai dan non tunai dengan lebih mudah pula. Sedangkan saat di luar negeri harus prepare bawa duit tunai yang sudah ditukar tapi juga perlu siapkan kartu yang bisa digunakan untuk pembayaran di luar negeri.

Itulah perbedaan yang perlu dipahami dan dilakukan saat bepergian seorang diri baik di dalam dan luar negeri. Perlu diketahui agar tidak kebingungan nantinya ketika mua coba solo trip pertama kali.





























Mengingat perjalanan awal pertama kali dulu, traveling ke luar negeri terasa seperti mimpi yang terlalu tinggi. Hanya bisa melihat dari layar telepon genggam, ada foto teman, vlog YouTube, atau postingan Instagram yang terlihat “wah”.

Sampai akhirnya, ada jalanya juga tanpa rencana yang terlalu sempurna, Saya memberanikan diri untuk mengambil langkah pertama ikut bersama beberapa teman lakukan perjalanan ke luar negeri pertama kali. Dan ternyata, semua yang dibayangkan jauh lebih luar biasa saat benar-benar dijalani dan mengalami langsung momen itu.

cerita menginspirasi pengalaman ke luar negeri


Dari Mimpi, Obrolan di KFC Hingga Jadilah Perjalanan Ini


Semua berawal dari keinginan sederhana tapi untuk meraihnya tentu butuh usaha. Berkeinginan bisa melanjutkan kuliah S2 di luar negeri khususnya Amerika. Sejak kuliah sering menghadiri pameran pendidikan luar negeri dan selalu terbayang rasanya terbang jauh sampai ke negeri baru yang belum terjelajahi.

Ada keinginan melihat dunia lebih luas dan merasakan pengalaman yang sudah dialami orang lainnya. Sebagai seseorang yang awalnya hanya traveling dalam negeri dan itu pun dalam rangka mengikuti program kampus, keputusan untuk ke luar negeri terasa besar.




Awalnya berkumpul dengan seorang teman dalam satu organisasi yang kemudian bertemu dengan temannya hingga obrolan menjalar ke trip singkat. Berhubung kami bertiga memang pekerja tentu tidak bisa mengambil banyak jatah liburan.

Cerita ini seperti ngalur ngidul biasa, bahkan sekedar untuk ke negeri jiran yang dekat belum masuk dalam rencana perjalanan hingga bertemu teman-teman ini. Dilanjutkan obrolan serius agar menjadi kenyataan semua rencana, itulah mulai dari bikin paspor terlebih dahulu.

Salah seorang teman ada yang memang terbiasa bertransaksi jual beli tiket pesawat dan hotel, hingga akhirnya ia pun cari tiket murah. Setelah paspor selesai dan ada info tiket promo maka pemesanan akan segera dimulai.

Saya memang tidak ada kepikiran yang menakutkan tapi rasa bahagia yang hadir karena pertama kalinya akan punya cap di passport. Negara pertama yang dipilih bersama teman adalah yang dekat dan ramah untuk pemula, yaitu Malaysia.

Selain jaraknya dekat, banyak cerita bilang ini adalah “starter pack” untuk first timer traveler. Meskipun tidak sendirian tapi ini jadi momen paling berkesan. Saat pertama kali menginjakkan kaki di bandara luar negeri. Rasanya campur aduk, ada deg-degan, excited, dan sedikit nggak percaya sih.

Traveling Pertama Itu Gak Harus Sempurna

Perjalanan pertama itu jauh dari kata sempurna apalagi traveling beramai-ramai. Ada saja hal yang gak sesuai keinginan apalagi jika punya gaya ngetrip yang berbeda. Seketika pun mengingat momen saat Saya pertama kali melakukan perjalanan solo.

Tentu saja ada hal-hal di luar dugaan seperti salah naik transportasi umum, bingung baca peta hingga nyasar dan harus bertanya sana sini hingga harus ada overbudget yang ternyata harus keluar dari perencanaan dana yang sudah disiapkan pada itinerary.

Pertama kali ngetrip sendiri itu sekitar tahun 2017 akhir menuju pergantian tahun ke 2018. Memberanikan diri menjadi solo traveler langsung memasuki 3 negara ASEAN yatiu Malaysia, Singapura dan Thailand dengan jalur bercampur mulai dari udara, darat hingga laut.

Tapi justru di situlah letak cerita serunya, ada sinyal dalam diri yang langsung keluar dimana harus bisa belajar beradaptasi, berani bertanya, dan mulai percaya diri untuk menjelajah sendiri. Cari tahu cara menuju tempat yang diinginkan tanpa ketakutan. Dari momen ngetrip ke luar negeri pertama kali bersama teman hingga pernah jalani sendiri juga, disitulah Saya sadar traveling bukan soal itinerary yang rapi, tapi tentang pengalaman yang kita rasakan.

liburan ke turki murah



Momen Kecil Mengubah Cara Pandang


Ada satu momen sederhana yang sampai sekarang masih diingat dimana bisa duduk di sudut kota, menikmati makanan lokal sambil melihat orang-orang berlalu lalang. Cuma sendirian mengunyah di tempat makan sambil melihat sekitar sambil berfikir beragam hal.

Di situ Saya mulai sadar bahwa dunia ini luas dan setiap orang punya cerita serta momen yang akan dilalui masing-masing. Traveling membuka perspektif baru dimana bisa menghargai perbedaan budaya dan kebiasaan berbeda, tentu saja jadi belajar mandiri dan lebih bersyukur dengan kehidupan yang dialami saat ini. Dan yang paling penting, dari momen perjalanan ke luar negeri ini pertama kali, Saya jadi lebih berani bermimpi lebih besar.

Cerita Trip Sendiri Menjadi Inspirasi Banyak Orang

Pengalaman pertama kali ngetrip ke luar negeri ini ternyata menjadi awal untuk bisa semakin terbuka peluang perjalanan lainnya dan bahkan penghasilan yang lebih luas. Saya pikir bahwa sekedar lakukan trip dan punya pengalaman untuk diri sendiri doank. Hingga banyak diundang menjadi pembicara yang menginspirasi menceritakan momen sebagai perempuan lakukan trip sendiri ke berbagai negara.




Sejak solo traveling itu, Saya pun mulai lanjut ngetrip sendiri ke beberapa negara yang ternyata memang seru. Bahkan ikut umroh pun gabung travel yang memang tidak ada orang dikenal sebelumnya. Jalan rejeki memang ada saja, diundang menjadi pembicara dan menginspirasi banyak orang pula untuk bisa bepergian ke luar negeri.




Kalau kamu masih ragu untuk traveling ke luar negeri pertama kali, Saya cuma mau bilang bahwa enggak perlu nunggu kaya, enggak perlu nunggu sempurna, semua cukup mulai dari niat dan langkah kecil saja. Karena pengalaman pertama itu bukan soal jauh atau dekat, tapi soal keberanian untuk mencoba. Setelah dicoba maka ternyata akan ketagihan dan terus ingin lakukan perjalanan selanjutnya.

Adakah kawan melalak cantik yang punya cerita pengalaman ngetrip pertama kali ke luar negeri? Yuk berbagi kisahnya di kolom komentar,





















Sebagai traveler aktif di Asia Tenggara, khususnya di Indonesia, Malaysia, Singapore, dan Thailand, satu hal yang sering dianggap sepele tapi sangat krusial adalah cara cek jadwal penerbangan selama di bandara. Banyak kasus penumpang ketinggalan pesawat bukan karena datang terlambat, tapi karena kurang update informasi. Nah, di artikel ini, Melalak Cantik akan membahas cara praktis agar kamu tetap on track dan tidak panik saat di bandara.




Memang Saya pernah ketinggalan pesawat? Tentu saja pernah sih pada tahun 2012 yang masih terkenang karena pada masa itu harga tiket masih menggila dengan status masih pekerja biasa tanpa income tambahan tapi sok mau berlibur keliling Jawa,hahaha.

Cara Cek Jadwal Penerbangan di Bandara


Hal pertama yang wajib kamu lakukan begitu tiba di bandara adalah langsung mencari Flight Information Display System (FIDS) atau papan informasi penerbangan. Biasanya layar ini tersebar di berbagai sudut bandara dan menampilkan jadwal keberangkatan serta kedatangan secara real-time. Perhatikan nomor penerbangan (flight number), bukan hanya tujuan kota. Ini penting karena dalam satu kota bisa ada beberapa penerbangan berbeda.

Selain itu, kamu juga bisa memanfaatkan aplikasi maskapai. Hampir semua maskapai seperti AirAsia atau Malaysia Airlines memiliki aplikasi resmi yang memberikan notifikasi langsung jika ada perubahan jadwal, delay, atau pergantian gate. Aktifkan notifikasi agar kamu tidak ketinggalan update penting.

Cara berikutnya adalah dengan mengecek boarding pass secara berkala. Informasi gate terkadang bisa berubah, terutama di bandara besar seperti Kuala Lumpur International Airport atau Changi Airport. Jangan hanya mengandalkan informasi awal saat check-in, tapi selalu cocokkan dengan layar informasi di bandara.

Jika hanya terpaku pada informasi gate yang ada di tiket tentu saja bisa miss flight, ini sering terjadi di bandara yang besar. Ketika ada perpindahan gate terkadang fokus kita hanya mendengarkan dari pengeras suara. Kenyataannya terkadang suasana begitu ramai dan berisik sehingga tidak terdengar ucapan dari petugas.

Biasanya Saya akan tetap rutin mengecek di papan informasi karena akan tetap ada informasi terbaru. Beberapa kali memang cukup melelahkan terutama saat berada di bandara besar seperti Hamad International Airport di Doha, udah lah ngetrip sendiri dan pertama kali transit disini.

Jangan Terlena Fasilitas Bandara


Jika kamu memiliki waktu transit yang cukup lama, jangan sampai terlalu santai hingga lupa waktu. Banyak traveler terlena dengan fasilitas bandara seperti duty free, lounge, atau bahkan tempat istirahat. Solusinya, set alarm di ponsel minimal 30–45 menit sebelum boarding dimulai. Dengan begitu, kamu punya waktu cukup untuk menuju gate tanpa terburu-buru.

Koneksi internet juga menjadi faktor penting. Pastikan kamu terhubung dengan WiFi bandara agar bisa mengecek email atau notifikasi dari maskapai. Biasanya, jika ada perubahan mendadak, pihak maskapai akan mengirimkan update melalui email atau SMS.

Tips lainnya, jangan ragu untuk bertanya kepada petugas bandara. Jika kamu merasa bingung atau tidak yakin dengan informasi yang kamu lihat, lebih baik memastikan langsung daripada mengambil risiko. Petugas bandara biasanya sangat membantu dan terbiasa menghadapi pertanyaan dari penumpang.

Bagi kamu yang sering traveling di Asia Tenggara, memahami ritme bandara juga penting. Misalnya, di beberapa bandara besar, jarak antar gate bisa sangat jauh dan membutuhkan waktu berjalan cukup lama. Jadi, selalu perhitungkan waktu tempuh dari posisi kamu ke gate keberangkatan.

Menariknya, dengan memahami cara cek jadwal penerbangan ini, kamu tidak hanya terhindar dari risiko ketinggalan pesawat, tapi juga bisa menikmati waktu di bandara dengan lebih tenang. Tidak ada lagi drama lari-lari atau panik mencari gate di menit terakhir.

So, Baiknya Gimana?

Kunci utama agar tidak ketinggalan pesawat adalah selalu update informasi. Gunakan semua sumber yang tersedia, mulai dari layar bandara, aplikasi maskapai, hingga bantuan petugas. Dengan begitu, perjalananmu akan terasa lebih nyaman dan bebas stres.

Untuk kamu pembaca setia melalakcantik.com, jangan lupa simpan tips ini sebelum traveling berikutnya. Karena perjalanan yang menyenangkan selalu dimulai dari persiapan yang matang, termasuk hal sederhana seperti cek jadwal penerbangan. Siap traveling tanpa drama?
Berlibur ke KL bukan lagi hal istimewa terutama bagi warga Medan karena bisa saja melakukan trip setiap bulan.  Pertanyaan mengenai cara dari bandara KLIA (Kuala Lumpur International Airport) ke pusat kota khususnya KL Sentral begitu sering muncul.

cara dari bandara ke kl sentral



Jika kamu baru mendarat di Kuala Lumpur International Airport baik terminal 1 maupun 2, pertanyaan pertama yang sering muncul adalah: bagaimana cara paling mudah dan termurah menuju KL Sentral? Tenang, Kuala Lumpur dikenal memiliki sistem transportasi yang rapi, modern, dan ramah wisatawan. Bahkan untuk first timer sekalipun, perjalanan dari bandara ke pusat kota bisa terasa sangat simpel.

Cara Dari Bandara KLIA ke KL Sentral


Ada beberapa pilihan transportasi yang bisa kamu gunakan, mulai dari yang tercepat hingga yang paling hemat. Jika kamu mencari cara dari KLIA ke KL Sentral yang paling mudah dan cepat, maka KLIA Ekspres adalah jawabannya. Nah, ini merupakan salah satu transportasi yang memang tercepat namun bukan yang termurah.

Kereta ini merupakan layanan non-stop yang langsung menghubungkan bandara dengan KL Sentral hanya dalam waktu sekitar 28 menit. Cocok banget untuk kamu yang tidak ingin ribet, apalagi setelah penerbangan panjang. Selain itu, jadwal keberangkatannya juga cukup sering, jadi kawan melalak cantik tidak perlu menunggu lama.

Saya pernah menuliskan khusus untuk transportasi menggunakan KLIA Ekspres ini, bisa dibaca pada artikel tentang

Opsi Transportasi Lebih Murah


Namun, jika kamu ingin opsi yang lebih ramah di kantong, kamu bisa memilih KLIA Transit. Kereta ini sebenarnya memiliki rute yang sama, tetapi berhenti di beberapa stasiun sebelum sampai ke KL Sentral. Waktu tempuhnya sekitar 35 hingga 40 menit, sedikit lebih lama dibanding KLIA Ekspres.

Meski begitu, harga tiketnya lebih terjangkau, sehingga menjadi pilihan yang pas bagi traveler yang ingin tetap nyaman tanpa harus mengeluarkan biaya besar. Saya sudah mencoba jalur KLIA Transit pada Januari 2026 lalu, namun bukan rute dari KLIA ke KL Sentral sih.

Saat itu, Saya coba jalur dari Selangor menuju KLIA dimana bisa ambil jalur menuju Putrajaya terlebih dahulu, setelah itu naik KLIA Transit dari Putrajaya menuju bandara KLIA. Memang jadi lebih lama sih tapi tentu saja budget lebih terjangkau.




Gimana Kalo Mau Paling Murah?


Bagi kamu yang benar-benar ingin menekan budget perjalanan, bus bandara adalah pilihan terbaik. Layanan seperti SkyBus atau Aerobus menawarkan tarif yang sangat murah dibandingkan kereta. Bus ini langsung berangkat dari KLIA menuju KL Sentral dengan waktu tempuh sekitar 1 jam, tergantung kondisi lalu lintas.

Walaupun lebih lama, fasilitas bus sudah cukup nyaman dengan pendingin udara dan kursi yang layak. Banyak backpacker memilih opsi ini karena bisa menghemat pengeluaran untuk dialihkan ke kebutuhan lain selama traveling. Cara pemesanan untuk bus ini juga mudah kok, bisa langsung turun aja ke lantai dasar nanti ada banyak pilihan counter untuk pesan tiketnya.

Bisa Lebih Personal Tapi Mahal


Selain pilihan yang sudah diinfokan sebelumnya, kawan melalak cantik juga bisa menggunakan taksi atau layanan transportasi online. Pilihan ini sangat cocok kalau bepergian dalam kelompok atau membawa banyak barang.

Kamu bisa langsung menuju tujuan tanpa perlu berpindah kendaraan. Namun, perlu diingat bahwa biaya yang dikeluarkan tentu lebih mahal dibandingkan opsi lainnya, terutama jika kamu bepergian sendirian. Nah, itulah kenapa kalo beramai-ramai masih cocok karena bisa bayar patungan donk.

Untuk membuat perjalananmu lebih efisien, ada beberapa tips yang bisa kamu terapkan. Pertama, sesuaikan pilihan transportasi dengan waktu kedatangan. Jika kamu tiba di malam hari, kereta seperti KLIA Ekspres bisa jadi pilihan terbaik karena lebih aman dan cepat.

Kedua, pertimbangkan jumlah barang bawaan. Jika kamu membawa koper besar, pilih transportasi yang lebih nyaman agar tidak kerepotan. Ketiga, cek promo tiket secara online karena seringkali ada diskon menarik untuk kereta bandara.

Menariknya, semua transportasi dari KLIA ke KL Sentral sudah terintegrasi dengan baik, sehingga kamu tidak perlu khawatir tersesat. Petunjuk arah di bandara juga sangat jelas, bahkan tersedia dalam berbagai bahasa. Hal ini membuat perjalananmu semakin mudah, bahkan jika ini adalah pengalaman pertama ke Malaysia.

So, Harus Pilih Mana?


Kesimpulannya, cara dari KLIA ke KL Sentral yang paling mudah adalah menggunakan KLIA Ekspres, sementara yang paling murah adalah bus bandara. Jika kamu ingin kombinasi antara harga dan kenyamanan, KLIA Transit bisa jadi pilihan terbaik. Semua kembali pada kebutuhan dan gaya traveling kamu. Dengan memilih transportasi yang tepat, perjalanan dari bandara menuju pusat kota Kuala Lumpur tidak hanya efisien, tetapi juga menyenangkan.

Jadi, sudah tahu mau pilih yang mana? Pastikan kamu merencanakan perjalanan dengan baik agar pengalaman liburanmu di Kuala Lumpur dimulai dengan lancar dan bebas stres. Ada rekomendasi lainnya? Silahkan tinggalkan komentarnya yha!
Ngobrolin wisata alam di Sumatera Utara, kebanyakan langsung teringat dengan Danau Toba atau melihat orangutan di Bukit Lawang. Padahal, ada satu destinasi alam yang tak kalah memukau dan masih sangat alami, yaitu Tangkahan.




Short Escape ke Tangkahan


Tempat ini sering disebut sebagai “The Hidden Paradise of Sumatera Utara.” Lokasinya berada di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser, salah satu kawasan hutan hujan tropis terbesar di Asia Tenggara.

Untuk kawan melalak cantik yang suka wisata alam, sungai jernih, trekking hutan, atau sekadar ingin melepas penat dari hiruk pikuk kota, Tangkahan adalah tempat yang wajib masuk dalam daftar perjalananmu jika berkunjung ke Sumatera Utara.




Penasaran Tentang Wisata Tangkahan


Tangkahan berada di Kabupaten Langkat, sekitar 3–4 jam perjalanan dari Kota Medan. Tempat ini terkenal dengan pemandian alami yang berasal dari aliran sungai di kawasan hutan tropis.

Hal yang membuat Tangkahan berbeda dari tempat wisata lain adalah suasananya yang masih sangat alami. Air sungainya jernih, udara sangat segar, dan hutan di sekelilingnya membuat suasana terasa begitu tenang.

Banyak traveler bahkan menyebut Tangkahan sebagai “permata tersembunyi” di Sumatera Utara karena belum seramai destinasi wisata populer lainnya.

Pengalaman Seru Main ke Pemandian Tangkahan


Saat pertama kali sampai di Tangkahan, suasana alamnya langsung terasa berbeda. Udara lebih segar, suara air sungai terdengar jelas, dan hutan hijau di sekitar kawasan membuat perjalanan terasa seperti petualangan.

Salah satu hal paling menyenangkan di sini adalah menikmati pemandian alami yang airnya berasal langsung dari pegunungan. Airnya benar-benar jernih dan dingin, bahkan dasar sungainya masih terlihat jelas. Batu-batu besar di sepanjang sungai menambah kesan alami yang membuat tempat ini sangat fotogenik.

Banyak wisatawan datang hanya untuk duduk santai di pinggir sungai, menikmati suara alam sambil merendam kaki di air yang segar. Saya pun sebenarnya sudah lama menginginkan berwisata ke Tangkahan ini hingga akhirnya ada ajakan gratis dari teman.

Ia memiliki agenda liburan bersama rekan kerja di kantornya tetapi boleh membawa orang lain dikarenakan beliau termasuk leader berprestasi. Tanpa jawaban lain selain mengiyakan ketika ia mengajak untuk menikmati keseruan di Tangkahan.

Aktivitas Seru yang Bisa Dilakukan di Tangkahan


Tidak hanya sekadar mandi di sungai, ada banyak aktivitas menarik yang bisa dilakukan di Tangkahan. Tentu saja ada yang gratis dan berbayar termasuk untuk urusan memandikan gajah. Beberapa aktifitas serunya sebagai berikut:

1. Mandi di Sungai yang Super Jernih

Ini adalah aktivitas utama yang paling disukai wisatawan. Air sungai di Tangkahan sangat jernih dengan warna kebiruan. Alirannya cukup tenang sehingga aman untuk bermain air atau berenang ringan. Banyak pengunjung yang menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menikmati kesegaran airnya.

2. Menyebrangi Jembatan Gantung Ikonik

Salah satu spot paling terkenal di Tangkahan adalah jembatan gantung yang menghubungkan beberapa area wisata. Berjalan di atas jembatan ini memberikan sensasi tersendiri. Dari atas jembatan, kamu bisa melihat sungai yang mengalir di bawahnya serta hutan tropis yang hijau di sekelilingnya. Tempat ini juga menjadi spot foto favorit para wisatawan.

3. Trekking di Hutan Taman Nasional

Karena berada di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser, pengunjung juga bisa melakukan trekking di hutan. Trekking ini cocok untuk pecinta alam yang ingin melihat langsung keindahan hutan tropis Sumatera. Selama perjalanan trekking, kamu bisa melihat berbagai jenis flora dan fauna khas hutan Sumatera.

4. Tubing di Sungai

Jika ingin pengalaman yang lebih seru, kamu bisa mencoba tubing atau menyusuri sungai menggunakan ban besar. Aktivitas ini cukup populer karena memberikan sensasi petualangan ringan yang menyenangkan. Kamu akan mengikuti arus sungai sambil menikmati pemandangan hutan yang indah di sepanjang perjalanan.

5. Memandikan Gajah

Tidak sedikit yang suka aktifitas ini bahkan wisatawan internasional lho. Keseruan memandikan gajah ini menjadi momen tersendiri. Sayangnya saya belum coba karena jadwal di waktu tertentu, jika menginap di Tangkahan tentu bisa lebih fleksibel ikut kegiatan memandikan tersebut.

Cara Menuju Tangkahan dari Medan


Bagi wisatawan yang datang dari Medan, perjalanan menuju Tangkahan biasanya memakan waktu sekitar 3–4 jam. Rute yang sering digunakan adalah: Medan → Binjai → Batang Serangan → Tangkahan

Beberapa pilihan transportasi yang bisa digunakan seperti mobil pribadi, naik sepeda motor, ikut travel dari Medan atau sewa mobil bersama teman agar lebih seru. Sebagian jalan menuju Tangkahan masih cukup menantang, namun pemandangan sepanjang perjalanan membuat perjalanan terasa menyenangkan.

Berapa Biaya Liburan ke Tangkahan?


Salah satu alasan banyak orang menyukai wisata ini adalah karena biayanya relatif terjangkau. Perkiraan biaya yang bisa kawan melalak cantik siapkan yaitu

1. Tiket masuk kawasan: sekitar Rp10.000 – Rp20.000
2. Parkir kendaraan: Rp5.000 – Rp10.000
3. Tubing sungai: sekitar Rp50.000 – Rp100.000
4. Penginapan: mulai dari Rp150.000 per malam

Biaya ini tentu bisa berubah tergantung musim wisata dan fasilitas yang dipilih.

Pilihan Penginapan di Tangkahan


Bagi yang ingin menikmati suasana alam lebih lama, menginap di Tangkahan adalah pilihan yang tepat. Beberapa jenis penginapan yang tersedia yaitu homestay milik warga, guesthouse dekat sungai atau bisa pula eco lodge di tengah hutan.

Menginap di sini memberikan pengalaman unik karena suasananya sangat tenang. Malam hari kamu bisa mendengar suara alam seperti aliran sungai dan serangga hutan.

Tips Berkunjung ke Tangkahan


Agar perjalanan ke Tangkahan semakin nyaman, berikut beberapa tips yang bisa kamu ikuti:

1. Datang saat musim kemarau agar air sungai lebih jernih
2. Gunakan sandal gunung atau sepatu outdoor
3. Bawa baju ganti karena pasti tergoda bermain air
4. Siapkan uang tunai karena ATM masih terbatas
5. Datang pagi agar suasana lebih sepi dan nyaman
6. Waktu Terbaik Mengunjungi Tangkahan

Waktu terbaik untuk berkunjung adalah pada pagi hingga siang hari.Pada waktu tersebut, cahaya matahari membuat warna air sungai terlihat semakin jernih dan indah. Selain itu, suasana juga masih relatif sepi sehingga kamu bisa menikmati alam dengan lebih santai.
Newer Posts
Older Posts

Total Tayangan Halaman

HELLO, THERE!


Hello, There!
Hello, There!
My name is Ririn Famur Wandes Rahayu Lubis. I am from Medan, North Sumatera, Indonesia.

Find More



LET̢۪S BE FRIENDS


recent posts

Labels

Blogger Medan Cafe Medan English Article Lifestyle Blogger Review Cafe Solo Backpacker Tips Melalak Cantik Tips Traveling Wisata Asia Tenggara Wisata Indonesia

Blog Archive

Postingan Populer

  • T-Garden Medan,Resort and Ranch Instagramable ala Bali
    T-Garden Medan Resort and Ranch menambah daftar tempat wisata baru yang santai dengan konsep nuansa kekinian ala Bali yang instagram...
  • Pengalaman Pertama Nge-Grab ke Kualanamu International Airport
    Rasa bahagia dan syukur tak terhingga dihaturkan kepada Sang Pencipta sejak membaca sebuah email pengumuman yang menyatakan bahwa aku te...
  • Asian Make Up with PIXY TWC Cover Smooth and PIXY Lip Cream
    Setiap wanita selalu ingin tampil cantik dan mempesona. Definisi cantik dari setiap wanita pun berbeda-beda,begitu juga kaum lelaki y...
  • Menikmati Wisata Seni 3D Art Magic Eye Museum Kawasan Bandara Kualanamu
    Menikmati wisata seni 3 dimensi di hari libur memang menyenangkan dan semakin seru apabila dinikmati bersama keluarga, para sahabat mau...
  • Imajinasi, Creativity, dan Teknologi Ciptakan Konten Kreatif Masa Kini
    Kehidupan manusia melalui banyak proses yang tidak sederhana. Manusia yang diciptakan juga berproses hingga akhirnya kembali lagi ke s...

Community

selebgram medan

Intellifluence Trusted Blogger


 

Created with by BeautyTemplates | Distributed by blogger templates