facebook twitter instagram linkedin
  • Home
  • Travel
    • Wisata Indonesia
    • Wisata Asia Tenggara
    • Wisata Turki
  • LifeStyle
    • Beauty
    • Healthy
  • About Me
  • Kontak Informasi

Melalak Cantik- Travel Blog Ririn Wandes

Kalau biasanya wisatawan Indonesia datang ke Kuala Lumpur untuk melihat menara kembar, belanja di Bukit Bintang, atau berburu foto di sekitar Petronas, sekarang ada satu kawasan yang mulai viral di media sosial dan menarik perhatian para traveler yaitu Chow Kit.



Hidden Gem Viral: Chow Kit


Jika melihat para konten kreator traveling di media sosial khususnya TikTok dan Instagram maka akan menemukan begitu banyak wisatawan yang mengunjungi tempat tersebut. Masyarakat Indonesia yang sedang berlibur ke Malaysia tidak melewatkan berfoto di kawasan Chow Kit.

Awalnya Saya juga tidak terlalu mengenal kawasan ini, hanya saja dulu pada tahun 2017 an kawan suka cerita kalo ia sering belanja di Pasar Chow Kit bahkan suka ambil penginapan di lokasi tersebut. Nah, setelah beberapa kali melihat video TikTok tentang hidden gem Kuala Lumpur dengan suasana klasik dengan banyaknya cafe estetik barulah tau kalo ini bagian Chow Kit.

Ternyata di sekitar sini itu ada pasar lokal yang penuh warna, akhirnya memutuskan untuk datang sendiri ke Chow Kit biar lebih tahu sih. Dan ternyata, kawasan ini punya vibe yang berbeda dibanding tempat wisata mainstream lainnya di Malaysia.

Chow Kit terasa seperti sisi lain Kuala Lumpur yang lebih hidup, lebih lokal, dan lebih autentik. Sekitar tahun 2023 akhir mengambil liburan 2 minggu di Malaysia dan tidak menyangka akhirnya bisa dapat apartemen di sekitar Chow Kit.

Berawal dari kenalan dengan dua orang teman warga Turki yang sedang berlibur juga, mereka menginap di apartemen sekitar Chow Kit. Kemudian, salah seorang merekomendasikan untuk pindah di apartemen sekitar situ saja karena ada yang sharing dan juga harga lebih terjangkau.

Finally, setiap berlibur ke Kuala Lumpur akan tetap ambil penginapan di Chow Kit terutama jika sedang solo traveling. Nah, terakhir tahun 2024 pun menginap di apartemen yang sama sehingga memudahkan mau jalan atau sekedar cari coffee shop di sekitarnya.




Kawasan Menjadi Viral Kembali


Chow Kit merupakan salah satu kawasan legendaris di Kuala Lumpur yang sudah terkenal sejak lama sebagai area perdagangan dan pasar tradisional terbesar di kota ini. Lokasinya cukup strategis dan mudah dijangkau menggunakan monorail Kuala Lumpur. Begitu turun di stasiun Chow Kit, suasana kota langsung terasa berbeda.

Di sini, gedung modern berdampingan dengan bangunan lama. Cafe modern berdiri tidak jauh dari pasar tradisional yang ramai sejak pagi. Jalanannya terasa sibuk, tetapi justru di situlah daya tariknya. Banyak wisatawan Indonesia mulai datang ke Chow Kit karena kawasan ini sering muncul di konten travel TikTok dan Instagram. Suasana urban klasiknya cocok untuk foto aesthetic, video cinematic, maupun sekadar menikmati sisi lokal Kuala Lumpur yang jarang diperlihatkan di brosur wisata.

Salah satu aktivitas paling menarik di Chow Kit tentu saja mengunjungi Pasar Chow Kit. Pasar ini terkenal sangat besar dan menjual hampir semua kebutuhan masyarakat lokal. Buat pecinta street photography atau travel photography, tempat ini benar-benar menarik. Banyak sudut yang terasa sangat “Malaysia”.

Bahkan hanya berjalan kaki sambil memperhatikan aktivitas warga lokal saja sudah menjadi pengalaman tersendiri. Kadang saat traveling, justru tempat seperti ini yang membuat perjalanan terasa lebih berkesan dibanding destinasi wisata mewah.

Cafe Estetik dan Hidden Gem Buat Nongki


Selain pasar tradisional, Chow Kit sekarang juga dikenal dengan banyak cafe estetik dan hotel boutique yang artsy. Kawasan ini mulai berkembang menjadi tempat nongkrong favorit anak muda dan konten kreator. Inilah yang menjadi kawasan utama penuh pengunjung yang sedang hunting konten agar mendapat foto maupun video estetik.




Saya sempat mampir ke beberapa coffee shop kecil dengan interior minimalis vintage yang nyaman banget untuk istirahat setelah jalan kaki keliling area Chow Kit. Banyak cafe di sini punya konsep modern tetapi tetap mempertahankan nuansa klasik Kuala Lumpur. Artikel tentang cafe shop yang lucu dan estetik pun sudah ada direview di blog melalak cantik ini.

Buat yang suka bikin konten Instagram atau reels, kawasan ini cocok banget. Hampir setiap sudut cafe punya pencahayaan dan dekorasi yang aesthetic. Paling Saya suka adalah kontras suasananya dimana di satu sisi ada pasar tradisional yang ramai dan penuh aktivitas, tetapi beberapa langkah kemudian langsung bertemu cafe modern dengan suasana tenang dan lagu jazz pelan. Perpaduan ini membuat Chow Kit terasa unik dan berbeda.

Surga Konten Cinematic Buat Kreator


Menjelang sore hingga malam, suasana Chow Kit berubah semakin menarik. Lampu toko mulai menyala, jalanan menjadi lebih ramai, dan vibe urban klasik Kuala Lumpur semakin terasa. Banyak kreator datang ke sini untuk membuat video cinematic karena area ini punya nuansa yang mirip kota-kota lama di Asia. Bangunan tua, papan toko klasik, lampu jalan, dan suasana malamnya terasa sangat fotogenik.




Bahkan menurutku, Chow Kit adalah salah satu hidden gem Kuala Lumpur yang paling cocok untuk traveler yang bosan dengan tempat wisata mainstream. Dulu pertama kali kesini memang belum viral sehingga terasa masih sepi dan takut berjalan sendirian.

Chow Kit membuat sadar kalau Kuala Lumpur bukan cuma tentang gedung tinggi dan pusat perbelanjaan modern. Ada sisi lain kota ini yang lebih hangat, lebih nyata, dan penuh cerita. Kawasan ini cocok untuk traveler yang suka eksplor tempat lokal, berburu suasana autentik, mencoba kuliner sederhana, dan mencari spot konten yang aesthetic.

Kalau suatu hari kawan melalak cantik kembali ke Kuala Lumpur, mungkin sesekali cobalah keluar dari itinerary mainstream dan berjalan kaki di Chow Kit. Siapa tahu, justru di tempat seperti inilah kamu menemukan pengalaman traveling yang paling berkesan.

Anyway, siapa nih yang sudah sering melipir ke Kawasan Chow Kit? Apa sih kesan yang kalian dapatkan? Sekedar ramai dan viral atau sudah temukan tempat nyaman yang damai?

























 Pernah membayangkan sudah di depan counter imigrasi baru sadar passport enggak ada? Ini menjadi hal yang menyeramkan saat traveling terutama kondisi passport yang tertinggal di dalam pesawat dan sudah terbang kembali ke destinasi lainnya.



Panik Ketinggalan Pesawat

Begitulah yang dialami oleh Saya dan teman ketika kami melakukan trip ke Singapura beberapa waktu lalu. Awalnya semua baik-baik saja, perjalanan sejak keberangkatan begitu menyenangkan tanpa ada hal yang perlu dikhawatirkan selama trip.



Memulai trip dari Bandar Udara Internasional Kualanamu (KNO) terasa seperti biasa saja, hanya membayangkan trip ini akan seru diisi oleh cerita lucu dan pengalaman asik bersama teman-teman. Ini pertama kali untuk kami ngetrip bareng ke luar negeri, sebelumnya hanya road trip dalam kota saja.

Awal Mula Bencana Ketinggalan Passport

Passport yang tertinggal awalnya tidak disadari oleh teman, Saya sendiri pun tidak terlalu memperhatikan ketika teman ngetrip meletakkan passportnya setelah dari imigrasi Medan. Seperti biasa, Saya selalu menyimpan langsung passport jika sudah selesai urusan imigrasi, tentu saja harus dimasukkan ke dalam tas agar tidak tercecer.

Trip ini akan dijalani oleh Saya dan dua orang teman namun salah seorang berangkat dari Jakarta, maka perjalanan ini terpisah saat keberangkatan begitu pula saat pulang nantinya. Ketika itu, Saya pergi bersama kawan cowok yang sudah terbiasa ngetrip pula bahkan sampai Eropa.

Saya pun tidak kepikiran hal ini akan terjadi, mengingat kawan ngetrip bukan orang yang pertama kali ke luar negeri. Sudah dipastikan perjalanan akan seru karena tidak perlu khawatir akan kerempongan bepergian dengan orang yang baru pertama kali tahu liburan di negara lain.

Kami pun tetap jalani perjalanan dari bandara senormalnya penumpang pesawat, namun berubah semuanya saat tiba di bandara Singapura. Bahkan saat di pesawat pun tetap seru, Saya tetap berfoto dan mengajak teman tetap buat konten.

Hingga akhirnya kepanikan muncul begitu sudah mendekati counter imigrasi, Singapura sudah menerapkan self check in untuk para pendatang. Kawan Saya seketika histeris mencari passportnya, Saya pun kaget karena kami sudah di depan counter check in imigrasi. Posisi pun sudah turun eskalator yang tidak bisa naik begitu saja langsung dari tempat tersebut.

Petugas melihat kepanikan dari kejauhan dan mulai mendekati, Kami pun menginformasikan tentang passport yang tertinggal di bangku pesawat. Ternyata teman meletakkannya di kantong depan kursi (seat pocket) yang biasa tempat penyimpanan majalah.

Tanya Petugas Bandara


Bukan hal yang mudah untuk langsung naik ke bagian atas terutama ke dalam pesawat mengingat sudah terlalu jauh dan jalurnya juga tidak sama. Saat itu hanya Saya dan teman tersebut, sedangkan teman satu lagi sudah menunggu di ruang ketibaan.

Saya pun terus menghubungi teman yang sudah menunggu sementara waktu sudah mendekati 12 malam. Memang malam itu kami berniat bermalam di bandara saja karena sudah tahu waktu tiba akan malam dan sayang jika harus menuju hotel.

Saya dan teman yang ketinggalan passport pun langsung dibawa ke counter yang mana ada petugas imigrasi yang bertugas malam itu. Kami pun bertanya cara menemukan passport tersebut dan tentu saja menggunakan bahasa Inggris. Semakin gunakan bahasa melayu tentu semakin bingung dengan khas warga Singapura.

Kawan pun sudah semakin panik apalagi petugas sudah mengatakan harus kembali ke Indonesia dan beli tiket yang harus dibayar sendiri. Ditambah lagi ia masih ada trip yang cukup lama di Malaysia nantinya dan sudah beli tiket pulang dari sana. Selain itu, tentu repot harus urus passport yang hilang di negara orang, ah lengkap rasanya trip ini.

Petugas bandara pun menanyakan segala informasi detail termasuk nomor penerbangan, nama maskapai dan lain sebagainya. Tentu saja petugas begitu kooperatif dan terus membantu, bahkan coba menelepon petugas lapangan di dalam pesawat.

Kembali ke Pesawat

Setelah drama yang cukup lama, akhirnya kawan diberitahukan untuk segera menuju ke atas. Ia pun segera bergegas mencari jalur naik sedangkan Saya harus menunggu di ruangan khusus yang biasanya banyak tertahan di dalamnya.

Saya menunggu dengan cemas sambil memanfaatkan WiFi bandara untuk menghubungi teman yang sudah menantikan kami di depan. Sambil terus meyakinkan diri bahwa perjalanan akan tetap berlanjut dan passport akan ditemukan.

Ketika sudah menunggu cukup lama, akhirnya kawan yang ketinggalan passport pun datang dengan membawa passportnya. Saya pun merasa lega meskipun belum selesai urusan imigrasi karena belum melewati jalur tersebut.

Finally, drama selesai dan bisa masuk imigrasi hingga akhirnya bisa lanjut trip ini. Menjadi pelajaran untuk selalu simpan passport di tempat aman dan mudah ditemukan.

















 Mau lihat Singapura lebih dekat dan hemat? Banyak cara untuk mengelilingi Singapura tapi yang tidak membuat dompet menangis, apa donk solusinya? Kebanyakan traveler yang ke Singapura langsung mengandalkan MRT, tapi coba sekali saja naik bus umum yang ternyata gampang banget lho. Transportasi yang santai buat nikmati suasana kota solusinya naik bus umum saja di Singapura.

cara naik bus di singapura untuk turis hemat

Mengingat perjalanan pertama kali ke Singapura sekitar tahun 2017 lalu, kalau mendengar transportasi umum di Singapura, kebanyakan orang pasti langsung teringat MRT. Memang benar, MRT di Singapura terkenal cepat dan nyaman. Tapi ternyata, ada pilihan transportasi lain yang tidak kalah praktis sekaligus lebih hemat untuk menikmati suasana kota, yaitu bus umum.

Saya sendiri saat pertama kali traveling ke Singapura mau naik bus terdengar membingungkan. Padahal setelah dicoba, transportasi ini justru jadi salah satu cara paling menyenangkan untuk keliling kota sambil menikmati pemandangan khas Singapura dari jendela.

Dulu masih mencoba naik MRT saja karena hanya membayangkan mau naik transportasi modern saja. Tapi, begitu liburan terakhir ke Singapura bersama teman-teman diajakin coba naik bus maka ini menjadi pengalaman pertama untuk gunakan bus.

Sebagai traveler yang suka jalan-jalan ke negara ASEAN seperti Malaysia, Thailand, dan Singapura, Saya merasa bus di Singapura cocok banget untuk solo traveler maupun backpacker yang ingin perjalanan lebih santai dan hemat. Maybe next trip, Saya bakalan tetap coba naik bus aja deh keliling Singapura mengingat lebih mudah dan asik lihat sekeliling kota.


Kenapa Naik Bus di Singapura Lebih Menarik?


Salah satu alasan suka naik bus di Singapura adalah karena kita bisa menikmati suasana kota lebih dekat. Kalau naik MRT, kita lebih banyak berada di bawah tanah. Sedangkan bus membawa kita melewati jalan-jalan cantik, gedung modern, kawasan perumahan, sampai sudut kota yang jarang terlihat turis.

Selain itu, halte bus di Singapura juga sangat banyak dan mudah ditemukan. Bahkan beberapa tempat wisata justru lebih dekat dijangkau menggunakan bus dibanding MRT. Bus di Singapura juga terkenal bersih, nyaman, ber-AC, dan tepat waktu. Jadi meskipun menggunakan transportasi umum, rasanya tetap nyaman untuk turis.

Ternyata enggak sia-sia deh nyobain bus di Singapura pertama kali, awalnya sempat ragu saat diajakin kawan ngetrip. Eh, malah kepikiran bakalan coba lagi di next trip biar nyobain rute lainnya biar makin seru dan nambah pengalamannya.

Cara Bayar Bus di Singapura

Hal paling penting sebelum naik bus di Singapura adalah menyiapkan kartu pembayaran transportasi. Biasanya turis menggunakan EZ-Link Card, Singapore Tourist Pass maupun kartu debit atau kredit contactless.

Saya pun mengingat dulu pertama kali ke Singapura beli EZ-Link yang kalo dirupiahkan bisa sampai 200 ribuan, ya ampun kenapa dulu boros banget ya saat liburan di Singapura. Memang pada saat itu belum punya CC (Credit Card) sih dan syukurnya saat naik bus pada liburan terakhir itu uda bisa pakai CC BCA, yeayy akhirnya punya CC.

Cara penggunaannya sangat mudah lho jadi saat naik bus, cukup tap kartu di mesin dekat pintu masuk depan. Lalu saat turun, jangan lupa tap lagi di mesin dekat pintu keluar. Banyak turis pemula lupa tap saat turun dan akhirnya saldo terpotong lebih mahal. Jadi pastikan jangan lupa bagian ini ya, gaes.

Cara Mengetahui Rute Bus

Awalnya sempat bingung membaca rute bus di Singapura. Tapi sekarang semuanya jauh lebih mudah karena ada aplikasi. Saat itu cuma ngandalin teman sih, kami berempat dan salah satunya yang sibuk dengan urusan cek rute ini.

Oh ya, kawan melalak cantik yang mau cobain bisa banget lah buka aplikasi yang paling membantu seperti Google Maps, Citymapper maupun Moovit. Mudahnya cukup masukkan tujuan, lalu aplikasi akan menunjukkan nomor bus, halte keberangkatan, sampai estimasi waktu perjalanan. Menurut Saya sih memang Google Maps sudah cukup membantu untuk traveler pemula.

Tips Naik Bus di Singapura untuk Pertama Kali

Para traveler yang naik bus pertama kali di Singapura tetap harus perhatikan beberapa poin di bawah ini, tau sendiri kan kalo Singapura itu sangat tertib maka jagalah hal tersebut, misalnya seperti ini:

1. Antre dengan Tertib

Warga Singapura sangat tertib saat naik bus. Jadi pastikan ikut antre dan jangan menyerobot.

2. Masuk dari Pintu Depan

Penumpang masuk lewat pintu depan dan keluar dari pintu belakang atau tengah.

3. Tekan Tombol Stop

Kalau halte tujuan sudah dekat, tekan tombol stop yang tersedia di dalam bus agar sopir tahu kita ingin turun.

4. Hindari Jam Sibuk

Kalau ingin perjalanan lebih nyaman, hindari jam kerja pagi dan sore karena bus bisa sangat ramai.

Lebih Hemat untuk Traveler Budget


Buat traveler yang ingin hemat, bus di Singapura bisa jadi solusi terbaik. Tarifnya cukup terjangkau dan banyak rute wisata yang bisa dijangkau tanpa harus sering pindah transportasi. Saya berkeinginan next trip memilih naik bus dari kawasan Bugis menuju Orchard hanya untuk menikmati suasana kota sambil duduk santai di dekat jendela.

Rasanya pasti berbeda dibanding buru-buru naik MRT, mekipun saat itu Saya dan teman-teman naik bus sekitar China Town, Bugis dan melihat sekitaran Orchard juga tapi masih belum puas sih. Tau sendiri kan bahkan kadang perjalanan dengan bus justru terasa seperti city tour murah versi backpacker. Jadi gak harus booking naik bus hop on atau hop off tetap bisa happy keliling kota.




Pengalaman yang Lebih Seru


Menurut Saya, naik bus di Singapura bukan hanya soal transportasi, tapi juga pengalaman perjalanan. Kita bisa melihat kehidupan lokal lebih dekat, memperhatikan aktivitas warga, sampai menemukan sudut kota yang tidak ada di itinerary wisata biasa.

Hal-hal sederhana seperti melihat deretan rumah, taman kota yang rapi, atau suasana sore di jalanan Singapura justru membuat perjalanan terasa lebih berkesan. Bayangin deh, bisa berada dalam satu bus dengan warga lokal dan lihat apa yang dilakukan selama di dalamnya.

Oh ya, busnya kan double dekker tuh, pilihlah di bagian lantai atas biar puas lihat sekeliling ya. Kalian ada yang punya pengalaman naik bus di Singapura gak? Yuk berbagi ceritanya di kolom komentar.



 Mengingat perjalanan tidak selalu sama bahkan bisa transit cukup lama, kepikiran gak sih buat beli makanan selama di bandara? Pernah niat awal cuma mau coba beli air mineral doank di mini market eh tergoda juga beli makanannya yang ternyata itu mahal.

beli makanan di bandara yeay or nay


Traveler on Budget Beli Makanan di Bandara

Kalo cuma beli makanan atau minuman doank di mini market sih masih bisa diatasi kantong meskipun sudah termasuk kategori lebih mahal dari harga normal biasanya. Tapi, ketika nongkrong alias duduk di outletnya maka akan terasa sekali harganya tidak sewajarnya.

Sstt, tentu saja ini bukan menjadi masalah bagi traveler yang punya duit, berlibur dengan kondisi keuangan berlebih. Tapi akan kepikiran si pejalan hemat jika harus keluarkan duit buat makan hingga ratusan ribu sekali doank di bandara.

Saya pernah mengalami saat berlibur di Turki, niat awal mau ambil minum gratisan tapi apalah daya sedang masa pandemi maka tidak ada tersedia air yang free. Jadilah beli air kemasan ukuran kecil yang ternyata ketika dirupiahkan menjadi 30 ribuan padahal cuma 3000 ribuan di Indonesia.

Well, tidak hanya cerita itu saja, berhubung sedang lapar saat transit di Doha, Qatar maka beli makanan cepat saji berisi burger dan kentang goreng. Ketika memesan hanya bayangkan seperti biasa makan di Indonesia, lengkaplah pesan dengan minumannya hingga pas bayar sudah sampai 200 ribuan. Biasanya untuk paket lengkap gitu cuma 50 ribuan lebih dikit aja sih.

So, Beli Makan di Bandara Yeay or Nay?

Sebenarnya kembali ke kebutuhan sih atau sekedar ingin punya pengalaman bisa makan sambil ambil tempat duduk nyaman di dalam outlet. Ketika berlibur sendiri sudah pernah coba di berbagai negara dan niatnya memang cuma mau isi perut tapi bisa boncos juga.

Setelah itu, terakhir coba makan di bandara juga saat berlibur dengan suami karena penerbangan malam dan perut sudah keroncongan. Awalnya mau jajan santai ternyata melebihi budget bisa makan buat 5 orang di luar bandara. So, sebenarnya beli makan di bandara ini yeay or nay sih?

Beberapa kawan melalak cantik mungkin bertanya kenapa sih para pelancong mau beli makanan di bandara. Tetap saja ramai semua outlet dengan beragam pilihan menu meskipun makanan maupun minuman mahal. Well, tentu saja ada alasan-alasan berikut ini:

1. Takut Lapar di Pesawat


Memang ada maskapai yang juga menawarkan untuk beli makanan di pesawat tetapi tidak semua penumpang cocok dengan makanan yang tersedia. Nah, itulah kenapa lebih pilih beli makanan terlebih dahulu daripada nantinya lapar di pesawat terutama jika punya penerbangan yang cukup lama.

2. Delay Penerbangan

Biasanya jika sudah kena delay penerbangan maka traveler akan mencari makanan di bandara terutama apabila maskapai tidak mengganti rugi dengan beri makanan gratis. Mau gak mau beli makanan karena tentu saja sudah menunggu lama membuat lapar.

3. Makanan Pesawat Mahal atau Tidak Dapat Makan


Seperti yang sudah Saya tuliskan di atas bahwa beberapa penumpang takut lapar di pesawat tapi mau beli makanan terasa mahal dengan rasa yang bisa saja tidak cocok di lidah. Bisa juga karena tidak dapat makan makanya mikir lagi mau beli di pesawat. Tapi tetap bisa kok naik maskapai yang sedia makanan dan minuman juga dalam tiket pesawat namun tentu saja mahal.

4. Ingin Healing Sebelum Boarding


Ini memang tipikal owner melalak cantik sih, niatnya cuma inign healing sebelum boarding. Berkeinginan cuma pengen punya pengalaman duduk manis di outlet resto yang hits dan ramai di bandara. Mau coba lihat kegiatan orang lain ketika duduk di dalam resto maupun cafe bandara.

5. Airport Vibes Memang Menggoda


Kenapa bisa dibilang begitu? Karena memang nuansa maupun suasana bandara itu berbeda dari lainnya. Selalu ada hal menarik yang disukai sehingga bisa betah berlama-lama duduk di bandara sambil melihat sekitarnya. Seketika teringat saat pengen minum coklat Fore padahal terlalu sering beli di luar bandara tapi begitu tergoda dengan airport vibes makanya langsung duduk singgah disana.

Harga Makanan di Bandara Memang Bikin Kaget

Sebenarnya tidak akan kaget kalau ada duitnya sih, terlihat banyaknya traveler yang tampak biasa saja nikmati momen duduk di dalam outlet resto maupun cafe bandara. Bagi Saya yang masih mengandalkan tabungan ketika mau traveling maka harga air minum dalam kemasan di luar masuk akal akan terasa mahal.

Pernah juga beli kopi yang kenaikan harganya hampir dua kali lipat dari normal luar bandara. Bahkan nasi biasa pun bisa menjadi sultan saat masuk bandara, Saya pun teringat beli gorengan seperti curry puff yang untuk 1 pcs seharga 50 ribuan.

Tidak ada yang salah dengan harga makanan di bandara bikin kaget karena memang suasana itu yang premium, pajak pun pasti lebih mahal donk. Kita pun yang nikmati makanan maupun minuman di bandara pasti merasakan sensasi atau vibes yang beda maka jangan salahkan harganya.



Point of View Melalak Cantik 

Sebenarnya bisa yeay kalo meliputi poin-poin berikut ini:

1. Transit lama
2. Berangkat traveling pagi banget
3. Belum sempat makan
4. Penerbangan lebih 3 jam
5. Butuh recharge mood sebelum terbang
6. Pengen coba makanan khas di airport tertentu
7. Ngekonten



Terus nay saat kapan donk? Intinya jangan kalap beli makanan sih kalo kamu ngalamin ini:

1. Udah makan sebelumnya
2. Penerbangan singkat
3. Cuma lapar mata
4. Tergoda estetik semata
5. Lagi on budget

Tips Buat Traveler Hemat di Bandara

Beberapa kawan melalak cantik mungkin sedang memasuki fase liburan hemat atau tujuan utama berkelana memang untuk pengalaman bukan sekedar beli hal-hal mahal. So, beberapa tips ini bisa banget deh buat traveler bisa hemat di bandara:

1. Bawa tumbler kosong, sebagai pelancong hemat memang sudah menjadi kebiasaan Saya buat bawa tumbler sih bahkan saat naik maskapai dengan full service lho. Rasanya ada yang kurang jika kelupaan bawa tumbler gitu.

2. Makan berat sebelum ke airport, entah lah semua orang suka makan terlebih dahulu atau tidak. Saya sendiri bukan termasuk pelancong yang suka makan tapi ini tips cocok buat kawan-kawan yang sering lapar.

3. Cek lounge promo, nah ini pun pernah juga Saya lakukan ketika melihat ada promo lounge di bandara atau dari maskapai tertentu, lumayan bisa santai dapat makan juga dengan lebih terjangkau.

4. Beli snack di luar bandara, pasti banyak yang juga melakukan ini karena lebih hemat dan terjangkau. Saya pun beberapa kali lakukan hal tersebut mengingat harga di luar lebih murah dan variasi lebih banyak sih.

5. Cari food court, Saya sih pernah mencoba makan di resto dan food court bandara, memang perbedaan harga tidak terlalu signifikan tapi setidaknya ada harga yang lebih murah sedikit masih boleh dicoba.

6. Manfaatkan promo kartu debit atau kredit, Saya sendiri belum pernah memanfaatkan promo dari debit maupun CC tapi jika ada tentu tidak salah untuk mencoba, lumayan dapat potongan harga kan.

Jadi, kalo kawan melalak cantik nanyak lagi apakah yeay or nay untuk beli makanan di bandara tentu jawaban Saya adalah disesuaikan dengan kebutuhan dan gaya traveling masing-masing deh. Bisa jadi terkadang dikatakan pemborosan tapi bisa pula menjadi bagian kecil dalam perjalanan yang terasa menyenangkan.

Well, kalo kamu termasuk yang mana? Memilih makan terlebih dahulu sebelum ke bandara atau lebih pilih mau jajan aja deh di airport?




















Beberapa kali saat membagikan momen melalak cantik ke berbagai negara khususnya Malaysia pasti banyak yang suka bertanya tentang aplikasi yang digunakan. Terkadang para pengikut media sosial atau rekan-rekan lainnya ingin tahu supaya lebih memudahkan saat lakukan perjalanan.


Aplikasi Wajib Saat Traveling


Percaya nggak, traveling bisa jadi jauh lebih menyenangkan kalau kita punya aplikasi yang tepat di handphone? Tentu saja kawan melalak cantik enggak harus percaya tapi jadikan ini sebagai salah satu cara yang memudahkan sih.

Dulu Saya berpikir liburan ke luar negeri cuma soal tiket murah, itinerary, dan koper lucu. Sampai akhirnya sadar akan satu hal bahwa aplikasi di handphone ternyata bisa menentukan apakah perjalanan terasa nyaman atau malah bikin stres sendiri.

Apalagi saat pertama kali traveling ke Kuala Lumpur yang memang belum banyak juga konten perjalanan muncul di media sosial. Kota ini memang ramah wisatawan, transportasinya modern, makanannya enak, dan banyak spot aesthetic buat foto. Tapi tetap saja, ada momen panik seperti salah naik MRT, bingung cari tempat makan halal tengah malam, atau makeup mulai luntur karena cuaca panas.

Dari pengalaman itulah aku mulai menyusun daftar aplikasi wajib yang selalu aku install sebelum berangkat ke Malaysia. Bukan cuma membantu perjalanan jadi lebih praktis, tapi juga bikin tetap cantik, rapi, dan nyaman selama eksplor kota.

Kalau kamu berencana liburan ke Kuala Lumpur dalam waktu dekat, simpan daftar ini baik-baik.

1. Google Maps: Penyelamat Saat Tersesat


Aplikasi pertama yang wajib ada tentu saja Google Maps. Di Kuala Lumpur, transportasi umum sebenarnya sangat mudah digunakan. Ada MRT, LRT, Monorail, hingga bus gratis GO KL. Tapi tanpa navigasi yang jelas, tetap saja bisa salah arah.

Google Maps sangat membantu untuk:Menentukan rute MRT tercepat, mengetahui estimasi biaya perjalanan, mencari cafe aesthetic terdekat dan menyimpan lokasi hotel dan tempat wisata

Tips penting: download offline map Kuala Lumpur sebelum berangkat. Jadi saat internet bermasalah, kamu tetap bisa melihat arah jalan.

2. Grab: Aplikasi Andalan Traveler Asia Tenggara


Kalau di Indonesia kita terbiasa menggunakan ojek online, di Malaysia aplikasi yang paling sering dipakai adalah Grab. Saya pribadi sangat terbantu dengan Grab saat pulang malam dari Bukit Bintang, pergi ke hotel sambil bawa koper, kejar jadwal penerbangan pagi

Harga Grab di Kuala Lumpur juga relatif terjangkau dibanding beberapa negara lain. Bahkan kadang lebih murah dibanding naik taksi biasa. Selain transportasi, Grab juga bisa dipakai untuk pesan makanan langsung ke hotel. Cocok banget kalau lagi capek habis jalan seharian.

3. Klook: Bikin Liburan Lebih Hemat


Kalau kamu suka cari tiket wisata murah, Klook wajib masuk daftar. Saya sering menggunakan Klook untuk beli tiket Menara KL, Universal Studios Singapore transit, nternet eSIM Malaysia, maupun airport transfer

Biasanya harga di aplikasi jauh lebih murah dibanding beli langsung di lokasi wisata dan yang paling praktis, semua voucher tersimpan digital. Jadi nggak perlu repot print tiket lagi.

4. TikTok dan Pinterest: Cari Spot Foto Aesthetic


Sebagai travel blogger dan konten kreator, Saya hampir selalu membuka TikTok dan Pinterest sebelum eksplor kota. Dari dua aplikasi ini aku menemukan Hidden cafe di Kuala Lumpur, spot foto estetik sekitar Petronas, ide outfit traveling bahkan cari referensi pose foto anti kaku

Kadang justru tempat terbaik bukan berasal dari itinerary wisata populer, tapi dari video random traveler lain. Tips kecil: simpan video atau pin sebelum berangkat supaya mudah dicari saat perjalanan.


5. MySejahtera atau Aplikasi Cuaca: Biar Tetap Nyaman Selama Traveling


Cuaca Kuala Lumpur sering berubah cukup cepat. Siang bisa panas banget, sore tiba-tiba hujan deras karena itu aplikasi cuaca seperti AccuWeather sangat membantu menentukan outfit dan jadwal jalan-jalan.

Saya biasanya cek jam hujan, suhu harian maupun tingkat kelembapan,dengan begitu bisa menyesuaikan makeup, membawa payung kecil, atau memilih cafe indoor saat cuaca terlalu panas.

Traveling bukan hanya soal datang ke tempat baru. Tapi juga tentang bagaimana kita menikmati perjalanan dengan nyaman, percaya diri, dan tetap menjadi versi terbaik diri sendiri.

Kadang hal kecil seperti aplikasi di handphone justru membuat perjalanan terasa jauh lebih tenang. Kita jadi tidak mudah panik, lebih hemat waktu, dan bisa fokus menikmati setiap sudut kota.

Kuala Lumpur adalah kota yang menyenangkan untuk dijelajahi. Modern, ramah wisatawan, dan penuh tempat menarik untuk dicoba. Dan dengan bantuan aplikasi yang tepat, pengalaman travelingmu bisa terasa jauh lebih praktis sekaligus tetap stylish.

Karena pada akhirnya, traveling terbaik bukan hanya tentang destinasi yang dikunjungi tapi juga tentang bagaimana kita menikmati setiap proses perjalanannya.
Kalian pernah gak sih, niatnya mau terlihat seperti karakter utama di film traveling, tapi yang terjadi malah seperti adegan komedi? Saya pernah punya beragam drama saat melakukan perjalanan terutama sebagai solo traveler yang menghadapi segala kemungkinan hanya seorang diri.



Drama Traveling Memang Nyata


Hari itu, Saya sedang berdiri cantik di bandara dengan outfit yang sudah dipilih seminggu sebelumnya. Tas sudah matching, makeup on point, sneakers putih masih bersih, dan merasa hidup seperti opening vlog travel aesthetic di TikTok.

Saya membayangkan perjalanan yang tenang, foto-foto cantik, kopi hangat di tangan, lalu menikmati sunset sempurna di negara orang. Tapi kenyataannya? Dua jam setelah mendarat, Saya masih kebingungan mau berbicara Bahasa Inggris tapi warga lokal banyak yang tidak paham bahkan polisi.

Dan itu baru permulaan dikarenakan menjadi awal untuk bisa naik kereta menuju pusat kota tapi harus bertanya terlebih dahulu untuk cara pemesanannya. Traveling memang lucu seperti itu. Kita merencanakan semuanya dengan detail, tapi justru hal-hal paling tidak terduga yang akhirnya jadi cerita paling diingat seumur hidup.

Salah satu kejadian paling memalukan terjadi saat aku traveling ke luar negeri untuk pertama kali sendirian. Karena terlalu percaya diri menggunakan Google Maps, Saya berjalan cepat sambil menyeret koper besar melewati jalan berbatu. Saat itu merasa keren sampai tiba-tiba, koperku terbuka di tengah jalan.

Isi koper keluar semua mulai dari baju tidur, skincare, charger, bahkan sandal menggelinding ke mana-mana, syukur saja pakaian dalam tidak sampai lompat terlihat ke permukaan. Dan lebih menyakitkan bukan isi koper berantakan, tapi banyak orang melihat sambil menahan tawa. Saya cuma bisa jongkok sambil tertawa malu dan berharap bumi menelan aku saat itu juga.

Anehnya, sekarang justru itu jadi cerita favorit yang selalu diulang ke teman-teman. Traveling memang mengajarkan kita satu hal penting: tidak semua perjalanan harus sempurna untuk bisa bahagia. Kadang justru kekacauan kecil itu yang membuat perjalanan terasa hidup.

Ada juga momen ketika Saya sudah bangun subuh demi berburu sunrise cantik. Makeup sudah rapi, outfit sudah estetik, bahkan aku membawa tripod supaya hasil fotonya maksimal. Tapi ternyata salah datang ke lokasi.

Berdiri sendirian di tempat yang sepi sambil melihat matahari terbit dari balik area parkiran. Saat itu Saya kesal sekali. Rasanya semua usaha sia-sia tapi sekarang kalau melihat fotonya lagi, justru malah tertawa sendiri karena ekspresi benar-benar campuran antara bingung, kecewa, dan ngantuk.

Lucunya lagi, semakin sering traveling, semakin sadar kalau perempuan memang punya “perjuangan tambahan” saat perjalanan. Kita ingin nyaman, tapi juga tetap ingin terlihat cantik di foto, ingin bawa skincare lengkap, tapi koper sudah overweight.

Kita ingin tampil fresh setelah penerbangan panjang, tapi wajah sudah berminyak duluan sebelum sampai hotel. Dan percaya atau tidak, salah satu skill penting saat traveling adalah belajar berdamai dengan penampilan yang tidak selalu sempurna.

Dulu Saya pun selalu berpikir traveling harus tampil flawless setiap saat. Sekarang aku lebih menikmati prosesnya. Rambut berantakan kena angin? Tidak masalah. Makeup luntur karena hujan? Santai saja. Sepatu kotor karena terlalu banyak jalan? Itu tanda perjalananmu benar-benar dinikmati.

Meski begitu, Saya tetap punya beberapa “senjata rahasia” supaya tetap terlihat fresh selama perjalanan. Pertama, sunscreen adalah penyelamat hidup. Mau ke pantai, jalan kaki di kota, atau naik motor seharian, kulit tetap harus dijaga. Kedua, lip tint dan cushion travel-size selalu ada di tas kecilku. Bukan untuk tampil berlebihan, tapi cukup membuat wajah terlihat segar saat difoto mendadak. Ketiga, aku selalu membawa parfum mini karena tidak ada yang lebih menyenangkan daripada merasa wangi setelah perjalanan panjang.

Hal kecil seperti itu ternyata bisa meningkatkan mood selama traveling, Saya juga belajar bahwa foto terbaik kadang bukan yang paling sempurna, melainkan yang paling jujur. Foto saat tertawa karena nyasar, foto saat kehujanan sambil lari mencari tempat berteduh maupun foto blur karena tangan gemetar di kendaraan.

Semua itu punya cerita dan cerita jauh lebih berharga daripada feed Instagram yang terlalu sempurna. Sekarang setiap kali bepergian, aku tidak lagi terlalu sibuk mengejar itinerary sempurna. Aku lebih suka menikmati momen kecil yang tidak bisa diulang. Obrolan random dengan orang asing di transportasi umum, makan makanan aneh yang ternyata enak, atau momen panik karena baterai HP tinggal 2% di negara orang.

Semua itu terasa menyebalkan saat terjadi, tapi selalu jadi bahan tawa setelah perjalanan selesai. Mungkin itu alasan kenapa banyak orang ketagihan traveling. Bukan hanya karena tempatnya indah, tapi karena perjalanan selalu memberi cerita baru tentang diri kita sendiri.

Tentang bagaimana kita bisa panik, malu, bingung, lalu tertawa dalam waktu bersamaan dan pada akhirnya, traveling bukan soal terlihat paling sempurna di foto. Tapi soal pulang dengan hati yang lebih penuh, pikiran lebih luas, dan cerita lucu yang akan terus dikenang bertahun-tahun kemudian.


Setiap menuliskan momen perjalan di Kuala Lumpur memang selalu menyenangkan, ada saja kenangan baru meskipun sudah berkali-kali kesana. alau lagi jalan-jalan ke Kuala Lumpur, biasanya orang langsung kepikiran ke menara kembar, mall besar, atau wisata kuliner.

Review Berkunjung ke BookXcess Rex KL


Tapi di antara semua hiruk pikuk kota ini, ternyata ada satu tempat yang diam-diam jadi favorit para traveler dan content creator: sebuah toko buku yang vibes-nya bikin kamu lupa waktu. Namanya adalah BookXcess dan jujur, ini bukan toko buku biasa sih.

toko buku bookxcess rexkl



Saya sudah mengunjungi BookXcess di Kuala Lumpur dan Penang, ternyata memang semua punya keunikan tersendiri. Untuk cabang toko buku ini tentu lebih banyak di KL tetapi kawan melalak cantik enggak perlu khawatir karena yang di Penang tidak kalah menarik.

First Impression


Sejak pertama kali masuk ke BookXcess, rasanya seperti masuk ke dunia lain. Dari luar mungkin terlihat sederhana, tapi begitu melangkah ke dalam, kamu langsung disambut rak buku tinggi menjulang, lorong-lorong unik, dan pencahayaan hangat yang bikin suasana terasa tenang sekaligus magis.




Pengalaman mengunjungi BookXcess Penang pertama kali, bisa kamu baca di artikel Toko Buku Unik Ternyaman di Penang Cocok Buat Traveler yang Hobi Baca.

Well, mari kita lanjut bahwa bahkan beberapa sudut di BookXcess itu terasa seperti setting film, asda sedikit “Harry Potter vibes” yang bikin siapa pun betah berlama-lama. Hal yang menjadikan BookXcess viral bukan cuma karena tampilannya yang estetik.

Sebenarnya lebih dari itu, tempat ini menawarkan pengalaman yang jarang ditemukan di toko buku biasa. Buku-buku di sini ditata dengan menarik dari lantai hingga hampir menyentuh langit-langit, menciptakan kesan megah sekaligus artistik. Setiap langkah seolah mengajak kita untuk terus menjelajah, menemukan buku-buku yang bahkan sebelumnya tidak dicari.

Salah satu cabang paling populer memang berada di RexKL, sebuah bangunan bekas bioskop yang diubah menjadi ruang kreatif dengan sentuhan seni modern. Begitu masuk, Saya pun bisa merasakan langsung seperti berada di ruang seni yang hidup. Tangga-tangga besar, instalasi unik, dan susunan buku yang tidak biasa membuat tempat ini bukan hanya destinasi belanja, tapi juga pengalaman visual yang kuat.

Spot Berburu Konten


Jika mengingat tahu tempat ini pertama kali itu justru sejak awal banyak muncul di media sosial dan berkeinginan mengunjungi sejak 2023 akhir. Punya waktu liburan sampai 10 hari lebih ternyata tidak menjadikan langkah kaki sampai ke RexKL ini.

Ternyata baru bisa berfoto langsung saat honey moon bersama suami pada akhir tahun 2025 lalu. Bisa dikatakan selain untuk membaca atau sekadar menikmati suasana, BookXcess juga jadi spot favorit untuk berburu konten.

Hampir setiap sudutnya Instagramable lho, rak buku tinggi, lorong simetris, hingga area duduk yang cozy bisa jadi latar foto yang estetik. Tidak heran kalau banyak traveler dan kreator datang ke sini bukan hanya untuk membeli buku, tapi juga untuk mengabadikan momen.

Hal lain yang tidak kalah menarik adalah harga buku yang jauh lebih terjangkau. BookXcess dikenal dengan koleksi buku impor yang dijual dengan diskon besar. Dari novel, buku self-development, hingga coffee table book dengan visual cantik, semuanya bisa ditemukan di sini. Tapi hati-hati, karena sangat mungkin kamu datang tanpa rencana belanja, tapi pulang dengan tas penuh buku.

Kalau kamu berencana berkunjung, ada beberapa tips yang bisa kamu coba. Datanglah di pagi hari atau saat weekday untuk menghindari keramaian, terutama di cabang yang populer. Pilih outfit dengan warna netral jika kamu ingin foto yang lebih aesthetic. Dan yang paling penting, siapkan budget ekstra karena godaan buku murah di sini benar-benar sulit ditolak apalagi masih harus memikirkan bagasi yang terbatas.

What To Do di BookXcess RexKL?

Mau traveling sendirian atau sama teman bahkan bareng family juga bisa kok, ada banyak beragam tipe traveler yang mengunjungi BookXcess ini. Buat kawan melalak cantik yang merasa bingung mau ngapain sih disana selain berfoto doank. Well, berikut ini beberapa kegiatan yang bisa dilakukan:

1. “Treasure Hunting” Buku Random


Salah satu hal paling seru di BookXcess adalah menemukan buku secara tidak sengaja karena susunannya yang unik dan tidak selalu berdasarkan kategori konvensional, kamu akan sering menemukan buku yang sebelumnya tidak kamu cari tapi justru jadi yang paling menarik. Nah, inilah rasanya seperti berburu harta karun versi literasi.

2. Naik Tangga Ikonik & Jelajah Rak Tinggi


Di beberapa cabang BookXcess seperti RexKL, kamu bisa naik tangga besar yang mengarah ke rak buku super tinggi. Dari atas, pemandangan deretan buku yang tertata rapi terlihat seperti instalasi seni. Ini bukan cuma aktivitas biasa, bisa dinamakan pengalaman visual yang bikin merasa kecil di tengah “lautan ilmu”.

3. Me-Time & Slow Reading di Sudut Tersembunyi



BookXcess punya banyak spot duduk tersembunyi yang cozy. Kamu bisa ambil satu buku, duduk di sudut yang tenang, dan benar-benar menikmati waktu tanpa distraksi. Buat traveler yang capek dengan itinerary padat, ini jadi momen recharge yang priceless.

4. Foto Aesthetic ala Book Lover


Setiap sudut di sini bisa jadi konten, itulah kebanyakan tujuan awal para pendatang, karena mulai dari lorong simetris, rak buku menjulang, sampai tangga artistik itu semuanya photogenic. Banyak pengunjung bahkan sengaja memakai outfit-an khusus untuk foto di sini. Tipsnya: manfaatkan lighting alami dan ambil angle dari bawah untuk efek dramatis.

5. Ngonten Reels / TikTok Cinematic


Kalau kamu kreator, BookXcess adalah surga konten karena bisa bikin video transisi dari “masuk dunia nyata” ke “masuk dunia buku”, atau shoot slow motion jalan di antara rak. Bahkan, banyak yang bikin konten POV seperti “tersesat di toko buku terbesar”. Pastikan siapkan gadget maupun gear terbaikmu deh agar hasil konten lebih maksimal.

6. Cari Inspirasi & Ide Kreatif


Buat penulis, guru, atau kreator, tempat ini bisa jadi sumber inspirasi tanpa batas. Melihat ribuan buku dengan berbagai tema bisa memicu ide baru baik untuk konten, tulisan, atau bahkan refleksi diri. Itulah mengapa Saya sering mengunjungi banyak BookXcess selama di Malaysia karena hampir semua yang dikunjungi bisa dijadikan konten untuk direview.

7. Belanja Buku Impor Harga Murah

Ini bagian yang paling berbahaya untuk kantong terutama traveler yang masih harus mikirin bagasi. Buku-buku di sini bisa jauh lebih murah dibanding toko biasa. Kamu bisa menemukan novel best seller, buku self improvement, sampai coffee table book dengan visual cantik dengan harga miring. Banyak pengunjung akhirnya “kalap” karena terlalu banyak pilihan menarik. Itulah yang sering Saya pikirkan saat mau borong karena bawaan menjadi berat dan bagasi yang tidak murah.



BookXcess KL, Malaysia

Alamat: Jalan Sultan, City Centre, 50000 Wilayah Persekutuan, Wilayah Persekutuan Kuala Lumpur, Malaysia

Opening Hours: Setiap Hari: 10.00 s/d 22.00



































Saya enggak nyangka ternyata di tengah kota Medan ada cafe yang vibes seperti luar negeri tapi homey banget. Entahlah setiap nongkrong di cafe yang menarik dan mengingatkan suasana liburan di luar negeri langsung punya semangat untuk menuliskan review pengalaman nyantai disana.



Review Jujur Kedai Ama 27 Medan

Bisa dikatakan ini bukan tempat mewah, juga tidak termasuk cafe besar yang penuh noise tapi justru tempat kecil yang tenang, hangat, dan estetik. Namanya Kedai Ama 27 by Hidden Place Cafe, dan jujur ini salah satu hidden gem yang bikin betah berlama-lama.

Kalau kamu tipe yang suka cafe dengan vibes adem, aesthetic, dan cocok buat me-time, kemungkinan besar kamu bakal suka juga. Pada waktu itu, pengalaman melalak cantik di cafe ini pada bulan ramadan tapi memang sedang tidak berpuasa makanya cukup nikmati momennya sebelum berbuka.




First Impression: Hidden Tapi Bikin Penasaran


Sesuai namanya, “Hidden Place”, lokasi Kedai AMA ini memang gak terlalu mencolok meskipun masih di pinggir jalan. Bahkan, Saya sempat ragu, ini beneran cafe atau bukan? Karena awalnya hanya terlihat seperti bangunan rumah biasa saja tapi justru di situlah letak daya tariknya.

Begitu masuk, suasananya langsung berubah melewati pintu utama dan langsung ada pintu kaca lagi menuju bagian indoor. Dari luar yang biasa saja, tiba-tiba kamu disambut dengan interior yang hangat, dominasi warna earthy tone, dan sentuhan minimalis yang estetik. Rasanya seperti masuk ke cafe kecil di luar negeri,tenang, intimate, dan gak terlalu ramai.

Ini tipe tempat yang gak teriak minta difoto, tapi justru bikin kamu pengen ngeluarin kamera terus. Jadi, berhubung pada saat itu sedang bulan ramadan maka terlihat dekorasi yang didominasi dengan hiasan ketupat berwarna hijau yang menggantung.

Spot Foto: Aesthetic Tanpa Usaha Berlebihan


Salah satu alasan kenapa Kedai AMA 27 by Hidden Place Medan ini sempat cepat viral adalah karena visualnya. Tapi menariknya, estetik di sini bukan yang “too much” atau dibuat-buat karena masih terasa banget suasana homey.




Beberapa spot favorit Saya adalah sudut dekat jendela dengan cahaya natural. Area duduk dengan kursi berlapis busa, meja kayu dan tanaman hijau di sekeliling. Meja simpel berukuran kecil dengan plating makanan yang cantik pula.

Lighting di sini juara banget, terutama kalau datang pagi atau sore. Golden hour di Kedai AMA 27 itu vibes-nya dapet banget, soft, hangat, dan super fotogenik. Memang tidak setiap sudut untuk berfoto tapi terasa cantik aja jika mengabadikan momen diri berada di dalam ruangannya. Buat kamu yang suka bikin konten instagram atau sekadar foto cantik buat kenangan, tempat ini bisa jadi surga kecil sih.

Menu dan Rasa: Lokal, Gak Cuma Cantik Tapi Juga Enak


Sekarang kita masuk ke bagian penting yang sering dijadikan penilaian utama para pengunjung cafe yaitu makanan. Saya memang tidak mencoba banyak menu tapi setidaknya ada coba makanan utama dan ringan, yah bisa dikatakan overall, cukup memuaskan.

Saya pesan tahu gejrot dan ayam penyet, hal yang Saya suka adalah presentasi makanan rapi dan aesthetic. Rasa cukup balance, gak terlalu berat dan penyajian pun rapi serta menarik buat dimakan. Tampak bersih pula sehingga gak khawatir ketika mau memasukkan ke mulut.

Aneka pilihan minuman segar pun tersedia dan cocok buat santai lama disana. Saya tidak ingin melewatkan coba kopi ala Kedai Ama 27 ini. Ternyata kopi yang menjadi signature disajikan dalam bentuk botol kecil dengan penutup seperti minuman kaleng. Kemudian, pesan es batu tambahan agar kopi tetap terasa dingin.

Walaupun bukan tipe cafe dengan menu super fancy, tapi justru itu yang bikin nyaman. Simple, tapi tetap niat. Ketika jam berbuka, ternyata begitu ramai dan bahkan beberapa meja sudah ada reservasi sebelumnya.

Untuk harga? Pastinya banyak juga pembaca melalak cantik menanyakan tentang hal itu. Tenang kawan melalak cantik karena berbicara tentang harga masih tergolong reasonable untuk ukuran cafe aesthetic di Medan. Gak terlalu murah, tapi juga gak bikin mikir dua kali mau nongkrong disana.

Siapa Yang Cocok Nongki Disini?


Menurut owner Melalak Cantik, Kedai Ama 27 by Hidden Place ini punya target yang cukup jelas. So, siapa yang cocok?

Well, menurut Saya tempat ini cocok untuk kamu yang butuh me-time atau healing tipis-tipis, sekedar ingin menenangkan diri sambil ngemil. Bagi content creator yang cari spot aesthetic juga cocok kok di Kedai Ama 27 ini.

Bagi pekerja digital? Oh tentu juga bisa, kamu yang suka kerja santai di cafe bisa banget tenang kok disini. Cukup pesan makanan, buka laptop dan lanjut kerja deh tanpa harus merasa terganggu. Eh, bagi solo dater yang pengen quality time sendiri pun gak perlu ragu lah karena space kamu tidak tersentuh kok.

Tapi kalau kamu cari tempat nongkrong rame-rame dengan suasana super lively, mungkin ini bukan pilihan utama ya. Bisa jadi kebanyakan lebih nikmati momen duduk sendiri atau sekedar mau kerja. Entahlah jika di hari lain ramai yang nongki bersama teman-teman dan buat keributan tapi saat Saya berkunjung cukup tenang.

Haruskah Masuk Wishlist?


Tentu saja masih bisa dimasukkan ke wishlist terutama untuk kawan melalak cantik yang mau coba suasana bervariasi. Terkadang bagi penikmat me time atau pekerja digital yang sering berpindah-pindah vibes pasti mau coba hal baru maka dengan coba cafe ini akan menambah referensi pengalaman ngafe baru.


















Kalau cuma punya 24 jam di Hat Yai, apa bisa puas jalan-jalan tanpa bikin dompet nangis?Pertanyaan yang muncul dari dalam diri sendiri sebelum mencoba langsung ngetrip sebagai solo traveler di Hat Yai. Perjalanan yang tidak mudah tapi ternyata seru ketika sudah dicoba hingga akhirnya selesai dalam trip saat itu.

Sebenarnya jika harus jujur sih awalnya pun juga sempat ragu tapi setelah nyobain sendiri, ternyata satu hari di sekitar Lee Garden Walking Street itu cukup buat ngerasain semuanya, mulai dari penginapan murah, aneka kuliner, sampai belanja lucu-lucu yang bikin kalap.




Cerita 24 Jam di Lee Garden Walking Street Hat Yai

Berhubung banyak yang penasaran gimana rasanya jika ambil trip singkat misalnya hanya weekend getaway ke Penang dan Hat Yai, tentu harus bisa membagi waktunya, nah ini cerita 24 jam versi Melalak Cantik di Hat Yai.

Trip Dari Penang ke Hat Yai

Biasanya untuk berlibur ke Hat Yai, Saya selalu ambil kereta api pagi atau naik van yang paling lama sih sekitar pukul 1 siang saja. Berhubung perjalanan tidak dekat tapi juga bukan terlalu jauh yang mana paling sekitar 4-5 jam saja, disesuaikan waktunya agar tetap bisa relax nikmati malam di Hat Yai.

Nah, kita langsung saja ngebahas ketika sudah sampai di Hat Yai khususnya kawasan Lee Garden Walking Street karena kalau naik van bisa request untuk diturunkan di sekitar daerah ini atau bahkan depan hotel langsung yang berada di kawasan tersebut.

Tiba di Hat Yai, Check in Hotel


Ketika mau check-in hotel di Hat Yai pastikan sudah book terlebih dahulu agar ketika penuh pun tidak repot harus berkeliling lagi. Carilah yang murah, nyaman dan lokasi terdekat menjadi kunci, terutama bagi solo traveler pasti cari yang bisa membuat aman pula.

Hal pertama yang biasanya Saya lakukan begitu sampai di Hat Yai memang check-in hotel agar tidak rempong bawa barang untuk berkeliling sekitarnya. Tips paling penting memang pilih hotel yang dekat dengan area Lee Garden aja.

Kenapa begitu? Karena hampir semua aktivitas bisa kamu lakukan dengan jalan kaki doank. Ini membuat hemat budget khususnya para backpacker yang masih punya rencana trip lainnya. Saya pun mendapatkan penginapan sejenis dormitory yang murah hanya 150 ribuan dengan fasilitas sudah ada pendingin ruangan, kamar mandi dan sarapan pagi di dapur dan paling penting eggak perlu ribet naik transport lagi, hemat tenaga, hemat waktu karena jalan doank ke jalur belakang hostel.

Makan Murah Meriah, Tapi Rasanya Wah


Perut mulai lapar karena sudah gerak sejak pagi dari Penang maka ini saatnya eksplor kuliner. Saya jalan santai ke sekitar Hat Yai Plaza Market dan langsung disambut aroma makanan yang menggoda banget. Sepanjang jalan sudah tampak para penjual jalanan a.k.a street food seller dengan beragam pilihan makanan baik yang pedas, segar, asam dan manis.

Paling suka banget dengan Hat Yai ini karena pilihan makanannya banyak dan harganya ramah di kantong. Sebagai solo traveler yang akan menghabiskan semua sendiri tentu cari yang hemat tapi buat kenyang.

Saya pun tidak melewatkan kwetiau untuk mengenyangkan seketika, tampak penjual yang berhijab pun banyak di sekitar Lee Garden Walking Street sehingga engga terlalu sulit cari makanan halal. Setelah itu, tentu tidak akan pernah melewatkan beli mango sticky rice saat di Thailand, serta nikmati minum thai tea segar.




Ssstt, ternyata enggak cukup cuma jajan itu karena semua penjual seperti memanggil untuk dibeli jualannya. Saya pun beli es krim kelapa, aneka buah potong yang tidak boleh tertinggal juga serta roti pisang coklat yang yummy.

Total pengeluaran? Nggak sampai 100 ribu rupiah kok dan jujur, ini salah satu momen yang bikin mikir, “Kenapa di sini bisa semurah ini tapi seenak ini?” Pantesan aja banyak traveler suka berlibur ke Thailand khususnya kota kecil gini.

Perut Kenyang Waktunya Belanja


Setelah kenyang, Saya coba masuk ke Lee Gardens Plaza Shopping Mall Hat Yai buat cari suasana yang lebih adem, sekedar lihat doank atau mau belanja boleh aja. Mall ini memang biasa saja sih tapi bisa lihat ada produk fashion seperti baju, tas maupun sepatu.

Jika mau yang lebih besar dan modern, tapi tetap punya sentuhan lokal bisa juga ke Central Festival Hat Yai tapi tentu gak berada di kawasan Lee Garden Walking Street. Btw, di sini kamu bisa temukan outfit ala Thailand yang chic dan affordable.

Mau cari snack khas Thailand buat oleh-oleh bisa kok di pinggir jalan juga, banyak toko yang menjual dengan harga miring kalau bisa tawar menawar. Cari skincare dan kosmetik lokal yang lagi viral dengan harga murah meriah pun ada, masuk ke Watsons atau Guardian jangan ragu karena biasa juga banyak promo atau diskonan.

Disini sih rasanya kayak lagi di Bangkok, seketika Saya teringat liburan beberapa tahun lalu di sana tapi versi lebih santai dan nggak terlalu ramai aja. Serta tentu saja wajahnya didominasi warga lokal sih dan tetap mudah mencari makanan lokal yang halal.

 Malam Puncaknya: Lee Garden Walking Street


Nah, ini bagian yang paling ditunggu begitu malam tiba, area Lee Garden Walking Street berubah jadi super hidup. Lampu warna-warni, musik jalanan, dan deretan street food bikin suasana jadi magical banget.

Saya berjalan pelan, menikmati setiap sudut kawasannya kemudian bisa belanja dari penjual lokal yang menjajakan barang dagangan terutama mau beli celana murah meriah atau baju serta souvenir sih.

Di sini kamu bisa jajan seafood bakar, beli dessert unik, hunting aksesoris lucu dengan harga miring, nonton street performance yang seru dan yang paling disukai itu suasananya friendly banget, bahkan buat yang jalan sendiri seperti Saya. Rasanya kayak lagi di tempat asing, tapi tetap nyaman.

Tengah malam pun masih ramai, biasanya di beberapa kota, jam hampir tengah malam tuh udah mulai sepi. Tapi di Hat Yai? Tentu tidak deh makanya nikmati saja dulu momen disitu sampai puas.

Coba Thai Massage di Penginapan

Berhubung penginapan murah meriah sejenis dormitory yang berada di lantai 2, nah untuk lantai 1 terdapat masssage ala Thai. Pemiliknya juga masih sama dengan penginapan sehingga bisa mendapatkan potongan harga.




Saya pun tidak mau melewatkan kusuk-kusuk ala Thailand setelah itu refleksi kaki, rasanya nikmati sekali dan budget yang dikeluarkan pun paling sekitar 100-200 ribuan doank. Kamu akan mudah temukan Thai massage ini di sekitar kawasan Lee Garden Walking Street kok.

Setelah kusuk manja tentu lanjut tidur donk, enaknya berada di satu tempat begini. Sudah langsung bisa beristirahat dari perjalanan panjang dan kusuk pun tidak sia-sia. Di Hat Yai ini, banyak pernjual maupun massage begini buka sampai jelang pukul 2 pagi bahkan mungkin ada yang 24 jam ya makanya nikmati saja deh.

Pagi yang Tenang, Penutup yang Bikin Kangen


Setelah semalam penuh keramaian, nikmati pagi di Hat Yai terasa jauh lebih pelan. Saya tetap keluar hotel di pagi hari, jalan santai menuju pasar terdekat, dan cari sarapan sederhana. Secangkir kopi dan roti hangat jadi penutup yang sempurna sebelum check-out.

Eh, ternyata memasuki pasar tradisional di Hat Yai sangat seru, bahkan cukup jalan kaki dari penginapan sih. Terdapat aneka penjual makanan aneka kue tradisional dan tentu saja banyak buah-buah juga. Jadilah bisa sarapan enak dan kenyang sesuai selera nih.




Setelah selesai, lalu muncul dan tersadar di momen ini bahwa Hat Yai bukan cuma soal murah atau dekat dari Indonesia maupun Penang. Tapi soal pengalaman sederhana yang terasa lengkap dengan waktu singkat.

So, worth it enggak 24 jam di Hat Yai? Jawabannya tentu worth it banget lah. Dalam waktu singkat, Saya bisa istirahat nyaman tanpa mahal, makan enak tanpa over budget, belanja senang tanpa rasa bersalah dan tetap punya pengalaman travel yang berkesan bersama warga lokal.

Kalau kamu lagi cari destinasi luar negeri yang hemat, dekat, tapi tetap seru tentu Hatyai wajib masuk list kamu. Dan siapa tahu, 24 jam kamu di sini justru bikin pengen balik lagi kayak Saya. Yuk ah, save artikel ini buat itinerary kamu nanti, ya! Kalau kamu punya versi 24 jam di Hat Yai, share juga ya di kolom komentar karena Saya pun penasaran.
Ngobrolin tentang traveling memang enggak ada habisnya, selalu ada hal menarik dan penuh kesan. Kali ini mau ngebahas tentang kalau traveling itu sebenarnya memang bukan cuma untuk orang kaya. Kalau kawan melalak cantik sering baca atau tonton video perjalanan banyak cerita yang dibagikan paling berkesan justru datang dari mereka yang berangkat dengan budget terbatas. 



Traveling Bukan Cuma Untuk Orang Kaya


Memang ini sempat pula menjadi bahan pemikiran setiap kali melihat foto liburan orang lain yang terlihat “sempurna”. Hotel estetik, outfit cantik, itinerary rapi, kok kesannya memang yang orang kaya aja bisa nikmati sih.

Rasanya seperti ada standar tak tertulis bahwa kalau belum bisa seperti itu, berarti belum layak traveling. Tapi setelah benar-benar mencoba, Saya sadar satu hal yang cukup menampar, traveling itu bukan tentang siapa yang paling kaya, tapi siapa yang paling berani mulai. Dan dari situlah perspektif mulai berubah dan makin semangat ngetrip ke berbagai tempat lainnya.

Traveling Itu Mahal? Atau Kita yang Salah Melihat?


Media sosial punya peran besar dalam membentuk persepsi kita dimana sudah terlalu terbiasa melihat perjalanan dalam versi terbaiknya, yang sudah dipilih, diedit, dan dipoles sedemikian rupa. Tanpa kita sadari, ada pola pikir mulai menyamakan “traveling” dengan “kemewahan” padahal kenyataannya jauh lebih luas dari itu.

Traveling bukan selalu tentang naik pesawat kelas bisnis atau menginap di hotel bintang lima. Traveling bisa sesederhana naik kereta ke kota sebelah, menjelajah tempat baru, mencoba makanan lokal, dan pulang dengan cerita yang berbeda. Inilah bisa dikatakan bahwa masalahnya bukan pada biaya, tapi pada ekspektasi yang terlalu tinggi sejak awal.

Mindset yang Harus Diubah Sebelum Traveling


Sebelum bicara tentang budget, ada satu hal penting yang sering dilupakan oleh para pejalan yang mau melakukan trip yaitu tentang mindset, beberapa jebakan pola pikir seperti ini:

1. “Aku harus punya banyak uang dulu”: Tidak selalu benar

Banyak orang menunda traveling sampai merasa “cukup kaya”. Padahal, semakin lama menunggu, biasanya justru semakin banyak alasan baru muncul. Traveling tidak harus menunggu sempurna.

2. “Traveling harus kelihatan keren”: Ini jebakan terbesar

Kalau tujuan utamamu adalah terlihat keren di media sosial, maka traveling akan terasa mahal. Tapi kalau tujuanmu adalah pengalaman, kamu akan lebih fleksibel.

3. “Semua tempat harus dikunjungi”: Tidak realistis

Satu perjalanan tidak harus mencakup semuanya. Justru dengan memilih beberapa hal saja, kamu bisa menikmati lebih dalam tanpa harus menguras budget.

Cara Traveling Hemat Tanpa Mengorbankan Pengalaman


Saya belajar banyak dari perjalanan dengan budget terbatas sejak awal memulai solo trip yang ternyata, ada banyak cara untuk tetap menikmati tanpa harus boros. Beberapa poin yang perlu dipersiapkan benar untuk bisa hemat diantaranya yaitu:

1. Transportasi: Fleksibel adalah kunci

Tiket pesawat memang cepat, tapi bukan satu-satunya pilihan. Bus, kereta, bahkan travel lokal sering jauh lebih murah. Kalau ingin tetap naik pesawat, cobalah untuk booking sejak jauh hari, pilih jam penerbangan yang tidak populer, gunakan promo atau poin. Dengan adanya sedikit strategi bisa menghemat banyak budget tentu saja.

2. Penginapan: Nyaman tidak harus mewah

Banyak orang berpikir harus menginap di hotel bagus agar perjalanan terasa “worth it”. Padahal, sekarang ada banyak alternatif untuk bisa mendapatkan tempat tinggal selama ngetrip seperti hostel dimana biayanya bisa lebih murah & bisa ketemu teman baru, guesthouse lokal, homestay atau bahkan coba couchsurfing deh.

Untuk penginapan ini yang penting bersih, aman, dan sesuai kebutuhan saja. Karena jujur, sebagian besar waktu kita justru dihabiskan di luar, bukan di kamar doank. Kita hanya beristirahat dari perjalanan panjang seharian.

3. Makanan: Justru di sinilah pengalaman terbaik

Kalau kamu ingin benar-benar merasakan suatu tempat, jangan hanya makan di restoran mahal. Coba makanan lokal, biasanya street food seringkali lebih murah, lebih autentik dan lebih memorable. Saya pribadi justru lebih ingat rasa makanan kaki lima dibanding menu mahal di restoran fancy. Tapi bukan berarti tidak pernah beli makanan di restoran negara lainnya ya.

4. Destinasi: Tidak harus viral

Tempat viral memang menarik, tapi biasanya lebih mahal, lebih ramai dan dibuat sekedar lebih untuk foto. Cobalah mulai eksplor tempat yang kurang populer dimana terkadang justru di situlah kamu menemukan pengalaman yang lebih personal dan tenang.

Traveling Hemat Justru Membuatmu Lebih “Hidup”

Hah?Apa pula maksudnya nih? Ada satu hal yang jarang dibahas yaitu traveling dengan budget terbatas seringkali terasa lebih “hidup”. Kenapa? Karena lebih terlibat dalam setiap keputusan, kamu lebih banyak berinteraksi dengan orang lokal dan lebih menghargai setiap pengalaman kecil.

Berbeda dengan perjalanan mewah yang serba nyaman, traveling hemat membuatmu belajar untuk beradaptasi, mengatur prioritas, menghargai proses dan dari situlah cerita-cerita terbaik lahir.

Soal Uang: Realistis Tapi Tetap Bisa Jalan


Memang tidak bisa dipungkiri, traveling tetap butuh uang donk tapi bukan berarti harus banyak sekaligus. Beberapa cara yang bisa dicoba seperti menyisihkan sedikit demi sedikit, kurangi pengeluaran yang tidak terlalu penting. Bisa pula cari tambahan income kecil dari freelance, jualan, dan lain sebagainya.

Hal yang terpenting bukan jumlahnya besar, tapi konsistensi untuk mengumpulkannya. Traveling itu bukan soal “punya uang banyak sekarang”, tapi soal “bagaimana kamu mengelola yang ada”.

Traveling Bukan Tentang Lari, Tapi Menemukan


Banyak orang mengira traveling adalah bentuk pelarian. Tapi buat Saya, traveling justru cara untuk menemukan dimana ada versi diri yang lebih berani, bisa menemukan perspektif baru tentang hidup. Dan kadang, menemukan bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari hal-hal mahal.

Saya pernah duduk di tempat sederhana, tanpa fasilitas mewah, tanpa sinyal internet yang stabil, nikmati pinggiran pantai tapi merasa jauh lebih tenang dibanding hari-hari biasa. Dan saat itu tersadar bahwa mungkin yang kita cari selama ini bukan tempat yang mahal, tapi momen yang jujur.
 
Jadi, Siapa Bilang Traveling Cuma Untuk Orang Kaya? Kalau kamu masih merasa traveling itu “bukan untukmu”, coba tanya lagi ke diri sendiri, apakah benar karena tidak mampu, atau karena belum mencoba dengan cara yang berbeda?

Kamu tidak harus langsung ke luar negeri kok, tidak harus punya itinerary sempurna serta tdak harus terlihat seperti travel influencer karena penting untuk mulai dari yang sederhana karena dunia ini terlalu luas untuk hanya dilihat dari satu tempat. Dan percaya deh, traveling bukan milik orang kaya tetapi milik siapa saja yang berani melangkah, termasuk kamu.  Gimana? Sudah mulai ada ide untuk penjelajahan?
Newer Posts
Older Posts

Total Tayangan Halaman

HELLO, THERE!


Hello, There!
Hello, There!
My name is Ririn Famur Wandes Rahayu Lubis. I am from Medan, North Sumatera, Indonesia.

Find More



LET̢۪S BE FRIENDS


recent posts

Labels

Blogger Medan Cafe Medan English Article Lifestyle Blogger Review Cafe Solo Backpacker Tips Melalak Cantik Tips Traveling Wisata Asia Tenggara Wisata Indonesia

Blog Archive

Postingan Populer

  • T-Garden Medan,Resort and Ranch Instagramable ala Bali
    T-Garden Medan Resort and Ranch menambah daftar tempat wisata baru yang santai dengan konsep nuansa kekinian ala Bali yang instagram...
  • Pengalaman Pertama Nge-Grab ke Kualanamu International Airport
    Rasa bahagia dan syukur tak terhingga dihaturkan kepada Sang Pencipta sejak membaca sebuah email pengumuman yang menyatakan bahwa aku te...
  • Asian Make Up with PIXY TWC Cover Smooth and PIXY Lip Cream
    Setiap wanita selalu ingin tampil cantik dan mempesona. Definisi cantik dari setiap wanita pun berbeda-beda,begitu juga kaum lelaki y...
  • Menikmati Wisata Seni 3D Art Magic Eye Museum Kawasan Bandara Kualanamu
    Menikmati wisata seni 3 dimensi di hari libur memang menyenangkan dan semakin seru apabila dinikmati bersama keluarga, para sahabat mau...
  • Imajinasi, Creativity, dan Teknologi Ciptakan Konten Kreatif Masa Kini
    Kehidupan manusia melalui banyak proses yang tidak sederhana. Manusia yang diciptakan juga berproses hingga akhirnya kembali lagi ke s...

Community

selebgram medan

Intellifluence Trusted Blogger


 

Created with by BeautyTemplates | Distributed by blogger templates