facebook twitter instagram linkedin
  • Home
  • Travel
    • Wisata Indonesia
    • Wisata Asia Tenggara
    • Wisata Turki
  • LifeStyle
    • Beauty
    • Healthy
  • About Me
  • Kontak Informasi

Melalak Cantik- Travel Blog Ririn Wandes

Beberapa kali saat membagikan momen melalak cantik ke berbagai negara khususnya Malaysia pasti banyak yang suka bertanya tentang aplikasi yang digunakan. Terkadang para pengikut media sosial atau rekan-rekan lainnya ingin tahu supaya lebih memudahkan saat lakukan perjalanan.


Aplikasi Wajib Saat Traveling


Percaya nggak, traveling bisa jadi jauh lebih menyenangkan kalau kita punya aplikasi yang tepat di handphone? Tentu saja kawan melalak cantik enggak harus percaya tapi jadikan ini sebagai salah satu cara yang memudahkan sih.

Dulu Saya berpikir liburan ke luar negeri cuma soal tiket murah, itinerary, dan koper lucu. Sampai akhirnya sadar akan satu hal bahwa aplikasi di handphone ternyata bisa menentukan apakah perjalanan terasa nyaman atau malah bikin stres sendiri.

Apalagi saat pertama kali traveling ke Kuala Lumpur yang memang belum banyak juga konten perjalanan muncul di media sosial. Kota ini memang ramah wisatawan, transportasinya modern, makanannya enak, dan banyak spot aesthetic buat foto. Tapi tetap saja, ada momen panik seperti salah naik MRT, bingung cari tempat makan halal tengah malam, atau makeup mulai luntur karena cuaca panas.

Dari pengalaman itulah aku mulai menyusun daftar aplikasi wajib yang selalu aku install sebelum berangkat ke Malaysia. Bukan cuma membantu perjalanan jadi lebih praktis, tapi juga bikin tetap cantik, rapi, dan nyaman selama eksplor kota.

Kalau kamu berencana liburan ke Kuala Lumpur dalam waktu dekat, simpan daftar ini baik-baik.

1. Google Maps: Penyelamat Saat Tersesat


Aplikasi pertama yang wajib ada tentu saja Google Maps. Di Kuala Lumpur, transportasi umum sebenarnya sangat mudah digunakan. Ada MRT, LRT, Monorail, hingga bus gratis GO KL. Tapi tanpa navigasi yang jelas, tetap saja bisa salah arah.

Google Maps sangat membantu untuk:Menentukan rute MRT tercepat, mengetahui estimasi biaya perjalanan, mencari cafe aesthetic terdekat dan menyimpan lokasi hotel dan tempat wisata

Tips penting: download offline map Kuala Lumpur sebelum berangkat. Jadi saat internet bermasalah, kamu tetap bisa melihat arah jalan.

2. Grab: Aplikasi Andalan Traveler Asia Tenggara


Kalau di Indonesia kita terbiasa menggunakan ojek online, di Malaysia aplikasi yang paling sering dipakai adalah Grab. Saya pribadi sangat terbantu dengan Grab saat pulang malam dari Bukit Bintang, pergi ke hotel sambil bawa koper, kejar jadwal penerbangan pagi

Harga Grab di Kuala Lumpur juga relatif terjangkau dibanding beberapa negara lain. Bahkan kadang lebih murah dibanding naik taksi biasa. Selain transportasi, Grab juga bisa dipakai untuk pesan makanan langsung ke hotel. Cocok banget kalau lagi capek habis jalan seharian.

3. Klook: Bikin Liburan Lebih Hemat


Kalau kamu suka cari tiket wisata murah, Klook wajib masuk daftar. Saya sering menggunakan Klook untuk beli tiket Menara KL, Universal Studios Singapore transit, nternet eSIM Malaysia, maupun airport transfer

Biasanya harga di aplikasi jauh lebih murah dibanding beli langsung di lokasi wisata dan yang paling praktis, semua voucher tersimpan digital. Jadi nggak perlu repot print tiket lagi.

4. TikTok dan Pinterest: Cari Spot Foto Aesthetic


Sebagai travel blogger dan konten kreator, Saya hampir selalu membuka TikTok dan Pinterest sebelum eksplor kota. Dari dua aplikasi ini aku menemukan Hidden cafe di Kuala Lumpur, spot foto estetik sekitar Petronas, ide outfit traveling bahkan cari referensi pose foto anti kaku

Kadang justru tempat terbaik bukan berasal dari itinerary wisata populer, tapi dari video random traveler lain. Tips kecil: simpan video atau pin sebelum berangkat supaya mudah dicari saat perjalanan.


5. MySejahtera atau Aplikasi Cuaca: Biar Tetap Nyaman Selama Traveling


Cuaca Kuala Lumpur sering berubah cukup cepat. Siang bisa panas banget, sore tiba-tiba hujan deras karena itu aplikasi cuaca seperti AccuWeather sangat membantu menentukan outfit dan jadwal jalan-jalan.

Saya biasanya cek jam hujan, suhu harian maupun tingkat kelembapan,dengan begitu bisa menyesuaikan makeup, membawa payung kecil, atau memilih cafe indoor saat cuaca terlalu panas.

Traveling bukan hanya soal datang ke tempat baru. Tapi juga tentang bagaimana kita menikmati perjalanan dengan nyaman, percaya diri, dan tetap menjadi versi terbaik diri sendiri.

Kadang hal kecil seperti aplikasi di handphone justru membuat perjalanan terasa jauh lebih tenang. Kita jadi tidak mudah panik, lebih hemat waktu, dan bisa fokus menikmati setiap sudut kota.

Kuala Lumpur adalah kota yang menyenangkan untuk dijelajahi. Modern, ramah wisatawan, dan penuh tempat menarik untuk dicoba. Dan dengan bantuan aplikasi yang tepat, pengalaman travelingmu bisa terasa jauh lebih praktis sekaligus tetap stylish.

Karena pada akhirnya, traveling terbaik bukan hanya tentang destinasi yang dikunjungi tapi juga tentang bagaimana kita menikmati setiap proses perjalanannya.
Kalian pernah gak sih, niatnya mau terlihat seperti karakter utama di film traveling, tapi yang terjadi malah seperti adegan komedi? Saya pernah punya beragam drama saat melakukan perjalanan terutama sebagai solo traveler yang menghadapi segala kemungkinan hanya seorang diri.



Drama Traveling Memang Nyata


Hari itu, Saya sedang berdiri cantik di bandara dengan outfit yang sudah dipilih seminggu sebelumnya. Tas sudah matching, makeup on point, sneakers putih masih bersih, dan merasa hidup seperti opening vlog travel aesthetic di TikTok.

Saya membayangkan perjalanan yang tenang, foto-foto cantik, kopi hangat di tangan, lalu menikmati sunset sempurna di negara orang. Tapi kenyataannya? Dua jam setelah mendarat, Saya masih kebingungan mau berbicara Bahasa Inggris tapi warga lokal banyak yang tidak paham bahkan polisi.

Dan itu baru permulaan dikarenakan menjadi awal untuk bisa naik kereta menuju pusat kota tapi harus bertanya terlebih dahulu untuk cara pemesanannya. Traveling memang lucu seperti itu. Kita merencanakan semuanya dengan detail, tapi justru hal-hal paling tidak terduga yang akhirnya jadi cerita paling diingat seumur hidup.

Salah satu kejadian paling memalukan terjadi saat aku traveling ke luar negeri untuk pertama kali sendirian. Karena terlalu percaya diri menggunakan Google Maps, Saya berjalan cepat sambil menyeret koper besar melewati jalan berbatu. Saat itu merasa keren sampai tiba-tiba, koperku terbuka di tengah jalan.

Isi koper keluar semua mulai dari baju tidur, skincare, charger, bahkan sandal menggelinding ke mana-mana, syukur saja pakaian dalam tidak sampai lompat terlihat ke permukaan. Dan lebih menyakitkan bukan isi koper berantakan, tapi banyak orang melihat sambil menahan tawa. Saya cuma bisa jongkok sambil tertawa malu dan berharap bumi menelan aku saat itu juga.

Anehnya, sekarang justru itu jadi cerita favorit yang selalu diulang ke teman-teman. Traveling memang mengajarkan kita satu hal penting: tidak semua perjalanan harus sempurna untuk bisa bahagia. Kadang justru kekacauan kecil itu yang membuat perjalanan terasa hidup.

Ada juga momen ketika Saya sudah bangun subuh demi berburu sunrise cantik. Makeup sudah rapi, outfit sudah estetik, bahkan aku membawa tripod supaya hasil fotonya maksimal. Tapi ternyata salah datang ke lokasi.

Berdiri sendirian di tempat yang sepi sambil melihat matahari terbit dari balik area parkiran. Saat itu Saya kesal sekali. Rasanya semua usaha sia-sia tapi sekarang kalau melihat fotonya lagi, justru malah tertawa sendiri karena ekspresi benar-benar campuran antara bingung, kecewa, dan ngantuk.

Lucunya lagi, semakin sering traveling, semakin sadar kalau perempuan memang punya “perjuangan tambahan” saat perjalanan. Kita ingin nyaman, tapi juga tetap ingin terlihat cantik di foto, ingin bawa skincare lengkap, tapi koper sudah overweight.

Kita ingin tampil fresh setelah penerbangan panjang, tapi wajah sudah berminyak duluan sebelum sampai hotel. Dan percaya atau tidak, salah satu skill penting saat traveling adalah belajar berdamai dengan penampilan yang tidak selalu sempurna.

Dulu Saya pun selalu berpikir traveling harus tampil flawless setiap saat. Sekarang aku lebih menikmati prosesnya. Rambut berantakan kena angin? Tidak masalah. Makeup luntur karena hujan? Santai saja. Sepatu kotor karena terlalu banyak jalan? Itu tanda perjalananmu benar-benar dinikmati.

Meski begitu, Saya tetap punya beberapa “senjata rahasia” supaya tetap terlihat fresh selama perjalanan. Pertama, sunscreen adalah penyelamat hidup. Mau ke pantai, jalan kaki di kota, atau naik motor seharian, kulit tetap harus dijaga. Kedua, lip tint dan cushion travel-size selalu ada di tas kecilku. Bukan untuk tampil berlebihan, tapi cukup membuat wajah terlihat segar saat difoto mendadak. Ketiga, aku selalu membawa parfum mini karena tidak ada yang lebih menyenangkan daripada merasa wangi setelah perjalanan panjang.

Hal kecil seperti itu ternyata bisa meningkatkan mood selama traveling, Saya juga belajar bahwa foto terbaik kadang bukan yang paling sempurna, melainkan yang paling jujur. Foto saat tertawa karena nyasar, foto saat kehujanan sambil lari mencari tempat berteduh maupun foto blur karena tangan gemetar di kendaraan.

Semua itu punya cerita dan cerita jauh lebih berharga daripada feed Instagram yang terlalu sempurna. Sekarang setiap kali bepergian, aku tidak lagi terlalu sibuk mengejar itinerary sempurna. Aku lebih suka menikmati momen kecil yang tidak bisa diulang. Obrolan random dengan orang asing di transportasi umum, makan makanan aneh yang ternyata enak, atau momen panik karena baterai HP tinggal 2% di negara orang.

Semua itu terasa menyebalkan saat terjadi, tapi selalu jadi bahan tawa setelah perjalanan selesai. Mungkin itu alasan kenapa banyak orang ketagihan traveling. Bukan hanya karena tempatnya indah, tapi karena perjalanan selalu memberi cerita baru tentang diri kita sendiri.

Tentang bagaimana kita bisa panik, malu, bingung, lalu tertawa dalam waktu bersamaan dan pada akhirnya, traveling bukan soal terlihat paling sempurna di foto. Tapi soal pulang dengan hati yang lebih penuh, pikiran lebih luas, dan cerita lucu yang akan terus dikenang bertahun-tahun kemudian.


Setiap menuliskan momen perjalan di Kuala Lumpur memang selalu menyenangkan, ada saja kenangan baru meskipun sudah berkali-kali kesana. alau lagi jalan-jalan ke Kuala Lumpur, biasanya orang langsung kepikiran ke menara kembar, mall besar, atau wisata kuliner.

Review Berkunjung ke BookXcess Rex KL


Tapi di antara semua hiruk pikuk kota ini, ternyata ada satu tempat yang diam-diam jadi favorit para traveler dan content creator: sebuah toko buku yang vibes-nya bikin kamu lupa waktu. Namanya adalah BookXcess dan jujur, ini bukan toko buku biasa sih.

toko buku bookxcess rexkl



Saya sudah mengunjungi BookXcess di Kuala Lumpur dan Penang, ternyata memang semua punya keunikan tersendiri. Untuk cabang toko buku ini tentu lebih banyak di KL tetapi kawan melalak cantik enggak perlu khawatir karena yang di Penang tidak kalah menarik.

First Impression


Sejak pertama kali masuk ke BookXcess, rasanya seperti masuk ke dunia lain. Dari luar mungkin terlihat sederhana, tapi begitu melangkah ke dalam, kamu langsung disambut rak buku tinggi menjulang, lorong-lorong unik, dan pencahayaan hangat yang bikin suasana terasa tenang sekaligus magis.




Pengalaman mengunjungi BookXcess Penang pertama kali, bisa kamu baca di artikel Toko Buku Unik Ternyaman di Penang Cocok Buat Traveler yang Hobi Baca.

Well, mari kita lanjut bahwa bahkan beberapa sudut di BookXcess itu terasa seperti setting film, asda sedikit “Harry Potter vibes” yang bikin siapa pun betah berlama-lama. Hal yang menjadikan BookXcess viral bukan cuma karena tampilannya yang estetik.

Sebenarnya lebih dari itu, tempat ini menawarkan pengalaman yang jarang ditemukan di toko buku biasa. Buku-buku di sini ditata dengan menarik dari lantai hingga hampir menyentuh langit-langit, menciptakan kesan megah sekaligus artistik. Setiap langkah seolah mengajak kita untuk terus menjelajah, menemukan buku-buku yang bahkan sebelumnya tidak dicari.

Salah satu cabang paling populer memang berada di RexKL, sebuah bangunan bekas bioskop yang diubah menjadi ruang kreatif dengan sentuhan seni modern. Begitu masuk, Saya pun bisa merasakan langsung seperti berada di ruang seni yang hidup. Tangga-tangga besar, instalasi unik, dan susunan buku yang tidak biasa membuat tempat ini bukan hanya destinasi belanja, tapi juga pengalaman visual yang kuat.

Spot Berburu Konten


Jika mengingat tahu tempat ini pertama kali itu justru sejak awal banyak muncul di media sosial dan berkeinginan mengunjungi sejak 2023 akhir. Punya waktu liburan sampai 10 hari lebih ternyata tidak menjadikan langkah kaki sampai ke RexKL ini.

Ternyata baru bisa berfoto langsung saat honey moon bersama suami pada akhir tahun 2025 lalu. Bisa dikatakan selain untuk membaca atau sekadar menikmati suasana, BookXcess juga jadi spot favorit untuk berburu konten.

Hampir setiap sudutnya Instagramable lho, rak buku tinggi, lorong simetris, hingga area duduk yang cozy bisa jadi latar foto yang estetik. Tidak heran kalau banyak traveler dan kreator datang ke sini bukan hanya untuk membeli buku, tapi juga untuk mengabadikan momen.

Hal lain yang tidak kalah menarik adalah harga buku yang jauh lebih terjangkau. BookXcess dikenal dengan koleksi buku impor yang dijual dengan diskon besar. Dari novel, buku self-development, hingga coffee table book dengan visual cantik, semuanya bisa ditemukan di sini. Tapi hati-hati, karena sangat mungkin kamu datang tanpa rencana belanja, tapi pulang dengan tas penuh buku.

Kalau kamu berencana berkunjung, ada beberapa tips yang bisa kamu coba. Datanglah di pagi hari atau saat weekday untuk menghindari keramaian, terutama di cabang yang populer. Pilih outfit dengan warna netral jika kamu ingin foto yang lebih aesthetic. Dan yang paling penting, siapkan budget ekstra karena godaan buku murah di sini benar-benar sulit ditolak apalagi masih harus memikirkan bagasi yang terbatas.

What To Do di BookXcess RexKL?

Mau traveling sendirian atau sama teman bahkan bareng family juga bisa kok, ada banyak beragam tipe traveler yang mengunjungi BookXcess ini. Buat kawan melalak cantik yang merasa bingung mau ngapain sih disana selain berfoto doank. Well, berikut ini beberapa kegiatan yang bisa dilakukan:

1. “Treasure Hunting” Buku Random


Salah satu hal paling seru di BookXcess adalah menemukan buku secara tidak sengaja karena susunannya yang unik dan tidak selalu berdasarkan kategori konvensional, kamu akan sering menemukan buku yang sebelumnya tidak kamu cari tapi justru jadi yang paling menarik. Nah, inilah rasanya seperti berburu harta karun versi literasi.

2. Naik Tangga Ikonik & Jelajah Rak Tinggi


Di beberapa cabang BookXcess seperti RexKL, kamu bisa naik tangga besar yang mengarah ke rak buku super tinggi. Dari atas, pemandangan deretan buku yang tertata rapi terlihat seperti instalasi seni. Ini bukan cuma aktivitas biasa, bisa dinamakan pengalaman visual yang bikin merasa kecil di tengah “lautan ilmu”.

3. Me-Time & Slow Reading di Sudut Tersembunyi



BookXcess punya banyak spot duduk tersembunyi yang cozy. Kamu bisa ambil satu buku, duduk di sudut yang tenang, dan benar-benar menikmati waktu tanpa distraksi. Buat traveler yang capek dengan itinerary padat, ini jadi momen recharge yang priceless.

4. Foto Aesthetic ala Book Lover


Setiap sudut di sini bisa jadi konten, itulah kebanyakan tujuan awal para pendatang, karena mulai dari lorong simetris, rak buku menjulang, sampai tangga artistik itu semuanya photogenic. Banyak pengunjung bahkan sengaja memakai outfit-an khusus untuk foto di sini. Tipsnya: manfaatkan lighting alami dan ambil angle dari bawah untuk efek dramatis.

5. Ngonten Reels / TikTok Cinematic


Kalau kamu kreator, BookXcess adalah surga konten karena bisa bikin video transisi dari “masuk dunia nyata” ke “masuk dunia buku”, atau shoot slow motion jalan di antara rak. Bahkan, banyak yang bikin konten POV seperti “tersesat di toko buku terbesar”. Pastikan siapkan gadget maupun gear terbaikmu deh agar hasil konten lebih maksimal.

6. Cari Inspirasi & Ide Kreatif


Buat penulis, guru, atau kreator, tempat ini bisa jadi sumber inspirasi tanpa batas. Melihat ribuan buku dengan berbagai tema bisa memicu ide baru baik untuk konten, tulisan, atau bahkan refleksi diri. Itulah mengapa Saya sering mengunjungi banyak BookXcess selama di Malaysia karena hampir semua yang dikunjungi bisa dijadikan konten untuk direview.

7. Belanja Buku Impor Harga Murah

Ini bagian yang paling berbahaya untuk kantong terutama traveler yang masih harus mikirin bagasi. Buku-buku di sini bisa jauh lebih murah dibanding toko biasa. Kamu bisa menemukan novel best seller, buku self improvement, sampai coffee table book dengan visual cantik dengan harga miring. Banyak pengunjung akhirnya “kalap” karena terlalu banyak pilihan menarik. Itulah yang sering Saya pikirkan saat mau borong karena bawaan menjadi berat dan bagasi yang tidak murah.



BookXcess KL, Malaysia

Alamat: Jalan Sultan, City Centre, 50000 Wilayah Persekutuan, Wilayah Persekutuan Kuala Lumpur, Malaysia

Opening Hours: Setiap Hari: 10.00 s/d 22.00



































Saya enggak nyangka ternyata di tengah kota Medan ada cafe yang vibes seperti luar negeri tapi homey banget. Entahlah setiap nongkrong di cafe yang menarik dan mengingatkan suasana liburan di luar negeri langsung punya semangat untuk menuliskan review pengalaman nyantai disana.



Review Jujur Kedai Ama 27 Medan

Bisa dikatakan ini bukan tempat mewah, juga tidak termasuk cafe besar yang penuh noise tapi justru tempat kecil yang tenang, hangat, dan estetik. Namanya Kedai Ama 27 by Hidden Place Cafe, dan jujur ini salah satu hidden gem yang bikin betah berlama-lama.

Kalau kamu tipe yang suka cafe dengan vibes adem, aesthetic, dan cocok buat me-time, kemungkinan besar kamu bakal suka juga. Pada waktu itu, pengalaman melalak cantik di cafe ini pada bulan ramadan tapi memang sedang tidak berpuasa makanya cukup nikmati momennya sebelum berbuka.




First Impression: Hidden Tapi Bikin Penasaran


Sesuai namanya, “Hidden Place”, lokasi Kedai AMA ini memang gak terlalu mencolok meskipun masih di pinggir jalan. Bahkan, Saya sempat ragu, ini beneran cafe atau bukan? Karena awalnya hanya terlihat seperti bangunan rumah biasa saja tapi justru di situlah letak daya tariknya.

Begitu masuk, suasananya langsung berubah melewati pintu utama dan langsung ada pintu kaca lagi menuju bagian indoor. Dari luar yang biasa saja, tiba-tiba kamu disambut dengan interior yang hangat, dominasi warna earthy tone, dan sentuhan minimalis yang estetik. Rasanya seperti masuk ke cafe kecil di luar negeri,tenang, intimate, dan gak terlalu ramai.

Ini tipe tempat yang gak teriak minta difoto, tapi justru bikin kamu pengen ngeluarin kamera terus. Jadi, berhubung pada saat itu sedang bulan ramadan maka terlihat dekorasi yang didominasi dengan hiasan ketupat berwarna hijau yang menggantung.

Spot Foto: Aesthetic Tanpa Usaha Berlebihan


Salah satu alasan kenapa Kedai AMA 27 by Hidden Place Medan ini sempat cepat viral adalah karena visualnya. Tapi menariknya, estetik di sini bukan yang “too much” atau dibuat-buat karena masih terasa banget suasana homey.




Beberapa spot favorit Saya adalah sudut dekat jendela dengan cahaya natural. Area duduk dengan kursi berlapis busa, meja kayu dan tanaman hijau di sekeliling. Meja simpel berukuran kecil dengan plating makanan yang cantik pula.

Lighting di sini juara banget, terutama kalau datang pagi atau sore. Golden hour di Kedai AMA 27 itu vibes-nya dapet banget, soft, hangat, dan super fotogenik. Memang tidak setiap sudut untuk berfoto tapi terasa cantik aja jika mengabadikan momen diri berada di dalam ruangannya. Buat kamu yang suka bikin konten instagram atau sekadar foto cantik buat kenangan, tempat ini bisa jadi surga kecil sih.

Menu dan Rasa: Lokal, Gak Cuma Cantik Tapi Juga Enak


Sekarang kita masuk ke bagian penting yang sering dijadikan penilaian utama para pengunjung cafe yaitu makanan. Saya memang tidak mencoba banyak menu tapi setidaknya ada coba makanan utama dan ringan, yah bisa dikatakan overall, cukup memuaskan.

Saya pesan tahu gejrot dan ayam penyet, hal yang Saya suka adalah presentasi makanan rapi dan aesthetic. Rasa cukup balance, gak terlalu berat dan penyajian pun rapi serta menarik buat dimakan. Tampak bersih pula sehingga gak khawatir ketika mau memasukkan ke mulut.

Aneka pilihan minuman segar pun tersedia dan cocok buat santai lama disana. Saya tidak ingin melewatkan coba kopi ala Kedai Ama 27 ini. Ternyata kopi yang menjadi signature disajikan dalam bentuk botol kecil dengan penutup seperti minuman kaleng. Kemudian, pesan es batu tambahan agar kopi tetap terasa dingin.

Walaupun bukan tipe cafe dengan menu super fancy, tapi justru itu yang bikin nyaman. Simple, tapi tetap niat. Ketika jam berbuka, ternyata begitu ramai dan bahkan beberapa meja sudah ada reservasi sebelumnya.

Untuk harga? Pastinya banyak juga pembaca melalak cantik menanyakan tentang hal itu. Tenang kawan melalak cantik karena berbicara tentang harga masih tergolong reasonable untuk ukuran cafe aesthetic di Medan. Gak terlalu murah, tapi juga gak bikin mikir dua kali mau nongkrong disana.

Siapa Yang Cocok Nongki Disini?


Menurut owner Melalak Cantik, Kedai Ama 27 by Hidden Place ini punya target yang cukup jelas. So, siapa yang cocok?

Well, menurut Saya tempat ini cocok untuk kamu yang butuh me-time atau healing tipis-tipis, sekedar ingin menenangkan diri sambil ngemil. Bagi content creator yang cari spot aesthetic juga cocok kok di Kedai Ama 27 ini.

Bagi pekerja digital? Oh tentu juga bisa, kamu yang suka kerja santai di cafe bisa banget tenang kok disini. Cukup pesan makanan, buka laptop dan lanjut kerja deh tanpa harus merasa terganggu. Eh, bagi solo dater yang pengen quality time sendiri pun gak perlu ragu lah karena space kamu tidak tersentuh kok.

Tapi kalau kamu cari tempat nongkrong rame-rame dengan suasana super lively, mungkin ini bukan pilihan utama ya. Bisa jadi kebanyakan lebih nikmati momen duduk sendiri atau sekedar mau kerja. Entahlah jika di hari lain ramai yang nongki bersama teman-teman dan buat keributan tapi saat Saya berkunjung cukup tenang.

Haruskah Masuk Wishlist?


Tentu saja masih bisa dimasukkan ke wishlist terutama untuk kawan melalak cantik yang mau coba suasana bervariasi. Terkadang bagi penikmat me time atau pekerja digital yang sering berpindah-pindah vibes pasti mau coba hal baru maka dengan coba cafe ini akan menambah referensi pengalaman ngafe baru.


















Kalau cuma punya 24 jam di Hat Yai, apa bisa puas jalan-jalan tanpa bikin dompet nangis?Pertanyaan yang muncul dari dalam diri sendiri sebelum mencoba langsung ngetrip sebagai solo traveler di Hat Yai. Perjalanan yang tidak mudah tapi ternyata seru ketika sudah dicoba hingga akhirnya selesai dalam trip saat itu.

Sebenarnya jika harus jujur sih awalnya pun juga sempat ragu tapi setelah nyobain sendiri, ternyata satu hari di sekitar Lee Garden Walking Street itu cukup buat ngerasain semuanya, mulai dari penginapan murah, aneka kuliner, sampai belanja lucu-lucu yang bikin kalap.




Cerita 24 Jam di Lee Garden Walking Street Hat Yai

Berhubung banyak yang penasaran gimana rasanya jika ambil trip singkat misalnya hanya weekend getaway ke Penang dan Hat Yai, tentu harus bisa membagi waktunya, nah ini cerita 24 jam versi Melalak Cantik di Hat Yai.

Trip Dari Penang ke Hat Yai

Biasanya untuk berlibur ke Hat Yai, Saya selalu ambil kereta api pagi atau naik van yang paling lama sih sekitar pukul 1 siang saja. Berhubung perjalanan tidak dekat tapi juga bukan terlalu jauh yang mana paling sekitar 4-5 jam saja, disesuaikan waktunya agar tetap bisa relax nikmati malam di Hat Yai.

Nah, kita langsung saja ngebahas ketika sudah sampai di Hat Yai khususnya kawasan Lee Garden Walking Street karena kalau naik van bisa request untuk diturunkan di sekitar daerah ini atau bahkan depan hotel langsung yang berada di kawasan tersebut.

Tiba di Hat Yai, Check in Hotel


Ketika mau check-in hotel di Hat Yai pastikan sudah book terlebih dahulu agar ketika penuh pun tidak repot harus berkeliling lagi. Carilah yang murah, nyaman dan lokasi terdekat menjadi kunci, terutama bagi solo traveler pasti cari yang bisa membuat aman pula.

Hal pertama yang biasanya Saya lakukan begitu sampai di Hat Yai memang check-in hotel agar tidak rempong bawa barang untuk berkeliling sekitarnya. Tips paling penting memang pilih hotel yang dekat dengan area Lee Garden aja.

Kenapa begitu? Karena hampir semua aktivitas bisa kamu lakukan dengan jalan kaki doank. Ini membuat hemat budget khususnya para backpacker yang masih punya rencana trip lainnya. Saya pun mendapatkan penginapan sejenis dormitory yang murah hanya 150 ribuan dengan fasilitas sudah ada pendingin ruangan, kamar mandi dan sarapan pagi di dapur dan paling penting eggak perlu ribet naik transport lagi, hemat tenaga, hemat waktu karena jalan doank ke jalur belakang hostel.

Makan Murah Meriah, Tapi Rasanya Wah


Perut mulai lapar karena sudah gerak sejak pagi dari Penang maka ini saatnya eksplor kuliner. Saya jalan santai ke sekitar Hat Yai Plaza Market dan langsung disambut aroma makanan yang menggoda banget. Sepanjang jalan sudah tampak para penjual jalanan a.k.a street food seller dengan beragam pilihan makanan baik yang pedas, segar, asam dan manis.

Paling suka banget dengan Hat Yai ini karena pilihan makanannya banyak dan harganya ramah di kantong. Sebagai solo traveler yang akan menghabiskan semua sendiri tentu cari yang hemat tapi buat kenyang.

Saya pun tidak melewatkan kwetiau untuk mengenyangkan seketika, tampak penjual yang berhijab pun banyak di sekitar Lee Garden Walking Street sehingga engga terlalu sulit cari makanan halal. Setelah itu, tentu tidak akan pernah melewatkan beli mango sticky rice saat di Thailand, serta nikmati minum thai tea segar.




Ssstt, ternyata enggak cukup cuma jajan itu karena semua penjual seperti memanggil untuk dibeli jualannya. Saya pun beli es krim kelapa, aneka buah potong yang tidak boleh tertinggal juga serta roti pisang coklat yang yummy.

Total pengeluaran? Nggak sampai 100 ribu rupiah kok dan jujur, ini salah satu momen yang bikin mikir, “Kenapa di sini bisa semurah ini tapi seenak ini?” Pantesan aja banyak traveler suka berlibur ke Thailand khususnya kota kecil gini.

Perut Kenyang Waktunya Belanja


Setelah kenyang, Saya coba masuk ke Lee Gardens Plaza Shopping Mall Hat Yai buat cari suasana yang lebih adem, sekedar lihat doank atau mau belanja boleh aja. Mall ini memang biasa saja sih tapi bisa lihat ada produk fashion seperti baju, tas maupun sepatu.

Jika mau yang lebih besar dan modern, tapi tetap punya sentuhan lokal bisa juga ke Central Festival Hat Yai tapi tentu gak berada di kawasan Lee Garden Walking Street. Btw, di sini kamu bisa temukan outfit ala Thailand yang chic dan affordable.

Mau cari snack khas Thailand buat oleh-oleh bisa kok di pinggir jalan juga, banyak toko yang menjual dengan harga miring kalau bisa tawar menawar. Cari skincare dan kosmetik lokal yang lagi viral dengan harga murah meriah pun ada, masuk ke Watsons atau Guardian jangan ragu karena biasa juga banyak promo atau diskonan.

Disini sih rasanya kayak lagi di Bangkok, seketika Saya teringat liburan beberapa tahun lalu di sana tapi versi lebih santai dan nggak terlalu ramai aja. Serta tentu saja wajahnya didominasi warga lokal sih dan tetap mudah mencari makanan lokal yang halal.

 Malam Puncaknya: Lee Garden Walking Street


Nah, ini bagian yang paling ditunggu begitu malam tiba, area Lee Garden Walking Street berubah jadi super hidup. Lampu warna-warni, musik jalanan, dan deretan street food bikin suasana jadi magical banget.

Saya berjalan pelan, menikmati setiap sudut kawasannya kemudian bisa belanja dari penjual lokal yang menjajakan barang dagangan terutama mau beli celana murah meriah atau baju serta souvenir sih.

Di sini kamu bisa jajan seafood bakar, beli dessert unik, hunting aksesoris lucu dengan harga miring, nonton street performance yang seru dan yang paling disukai itu suasananya friendly banget, bahkan buat yang jalan sendiri seperti Saya. Rasanya kayak lagi di tempat asing, tapi tetap nyaman.

Tengah malam pun masih ramai, biasanya di beberapa kota, jam hampir tengah malam tuh udah mulai sepi. Tapi di Hat Yai? Tentu tidak deh makanya nikmati saja dulu momen disitu sampai puas.

Coba Thai Massage di Penginapan

Berhubung penginapan murah meriah sejenis dormitory yang berada di lantai 2, nah untuk lantai 1 terdapat masssage ala Thai. Pemiliknya juga masih sama dengan penginapan sehingga bisa mendapatkan potongan harga.




Saya pun tidak mau melewatkan kusuk-kusuk ala Thailand setelah itu refleksi kaki, rasanya nikmati sekali dan budget yang dikeluarkan pun paling sekitar 100-200 ribuan doank. Kamu akan mudah temukan Thai massage ini di sekitar kawasan Lee Garden Walking Street kok.

Setelah kusuk manja tentu lanjut tidur donk, enaknya berada di satu tempat begini. Sudah langsung bisa beristirahat dari perjalanan panjang dan kusuk pun tidak sia-sia. Di Hat Yai ini, banyak pernjual maupun massage begini buka sampai jelang pukul 2 pagi bahkan mungkin ada yang 24 jam ya makanya nikmati saja deh.

Pagi yang Tenang, Penutup yang Bikin Kangen


Setelah semalam penuh keramaian, nikmati pagi di Hat Yai terasa jauh lebih pelan. Saya tetap keluar hotel di pagi hari, jalan santai menuju pasar terdekat, dan cari sarapan sederhana. Secangkir kopi dan roti hangat jadi penutup yang sempurna sebelum check-out.

Eh, ternyata memasuki pasar tradisional di Hat Yai sangat seru, bahkan cukup jalan kaki dari penginapan sih. Terdapat aneka penjual makanan aneka kue tradisional dan tentu saja banyak buah-buah juga. Jadilah bisa sarapan enak dan kenyang sesuai selera nih.




Setelah selesai, lalu muncul dan tersadar di momen ini bahwa Hat Yai bukan cuma soal murah atau dekat dari Indonesia maupun Penang. Tapi soal pengalaman sederhana yang terasa lengkap dengan waktu singkat.

So, worth it enggak 24 jam di Hat Yai? Jawabannya tentu worth it banget lah. Dalam waktu singkat, Saya bisa istirahat nyaman tanpa mahal, makan enak tanpa over budget, belanja senang tanpa rasa bersalah dan tetap punya pengalaman travel yang berkesan bersama warga lokal.

Kalau kamu lagi cari destinasi luar negeri yang hemat, dekat, tapi tetap seru tentu Hatyai wajib masuk list kamu. Dan siapa tahu, 24 jam kamu di sini justru bikin pengen balik lagi kayak Saya. Yuk ah, save artikel ini buat itinerary kamu nanti, ya! Kalau kamu punya versi 24 jam di Hat Yai, share juga ya di kolom komentar karena Saya pun penasaran.
Ngobrolin tentang traveling memang enggak ada habisnya, selalu ada hal menarik dan penuh kesan. Kali ini mau ngebahas tentang kalau traveling itu sebenarnya memang bukan cuma untuk orang kaya. Kalau kawan melalak cantik sering baca atau tonton video perjalanan banyak cerita yang dibagikan paling berkesan justru datang dari mereka yang berangkat dengan budget terbatas. 



Traveling Bukan Cuma Untuk Orang Kaya


Memang ini sempat pula menjadi bahan pemikiran setiap kali melihat foto liburan orang lain yang terlihat “sempurna”. Hotel estetik, outfit cantik, itinerary rapi, kok kesannya memang yang orang kaya aja bisa nikmati sih.

Rasanya seperti ada standar tak tertulis bahwa kalau belum bisa seperti itu, berarti belum layak traveling. Tapi setelah benar-benar mencoba, Saya sadar satu hal yang cukup menampar, traveling itu bukan tentang siapa yang paling kaya, tapi siapa yang paling berani mulai. Dan dari situlah perspektif mulai berubah dan makin semangat ngetrip ke berbagai tempat lainnya.

Traveling Itu Mahal? Atau Kita yang Salah Melihat?


Media sosial punya peran besar dalam membentuk persepsi kita dimana sudah terlalu terbiasa melihat perjalanan dalam versi terbaiknya, yang sudah dipilih, diedit, dan dipoles sedemikian rupa. Tanpa kita sadari, ada pola pikir mulai menyamakan “traveling” dengan “kemewahan” padahal kenyataannya jauh lebih luas dari itu.

Traveling bukan selalu tentang naik pesawat kelas bisnis atau menginap di hotel bintang lima. Traveling bisa sesederhana naik kereta ke kota sebelah, menjelajah tempat baru, mencoba makanan lokal, dan pulang dengan cerita yang berbeda. Inilah bisa dikatakan bahwa masalahnya bukan pada biaya, tapi pada ekspektasi yang terlalu tinggi sejak awal.

Mindset yang Harus Diubah Sebelum Traveling


Sebelum bicara tentang budget, ada satu hal penting yang sering dilupakan oleh para pejalan yang mau melakukan trip yaitu tentang mindset, beberapa jebakan pola pikir seperti ini:

1. “Aku harus punya banyak uang dulu”: Tidak selalu benar

Banyak orang menunda traveling sampai merasa “cukup kaya”. Padahal, semakin lama menunggu, biasanya justru semakin banyak alasan baru muncul. Traveling tidak harus menunggu sempurna.

2. “Traveling harus kelihatan keren”: Ini jebakan terbesar

Kalau tujuan utamamu adalah terlihat keren di media sosial, maka traveling akan terasa mahal. Tapi kalau tujuanmu adalah pengalaman, kamu akan lebih fleksibel.

3. “Semua tempat harus dikunjungi”: Tidak realistis

Satu perjalanan tidak harus mencakup semuanya. Justru dengan memilih beberapa hal saja, kamu bisa menikmati lebih dalam tanpa harus menguras budget.

Cara Traveling Hemat Tanpa Mengorbankan Pengalaman


Saya belajar banyak dari perjalanan dengan budget terbatas sejak awal memulai solo trip yang ternyata, ada banyak cara untuk tetap menikmati tanpa harus boros. Beberapa poin yang perlu dipersiapkan benar untuk bisa hemat diantaranya yaitu:

1. Transportasi: Fleksibel adalah kunci

Tiket pesawat memang cepat, tapi bukan satu-satunya pilihan. Bus, kereta, bahkan travel lokal sering jauh lebih murah. Kalau ingin tetap naik pesawat, cobalah untuk booking sejak jauh hari, pilih jam penerbangan yang tidak populer, gunakan promo atau poin. Dengan adanya sedikit strategi bisa menghemat banyak budget tentu saja.

2. Penginapan: Nyaman tidak harus mewah

Banyak orang berpikir harus menginap di hotel bagus agar perjalanan terasa “worth it”. Padahal, sekarang ada banyak alternatif untuk bisa mendapatkan tempat tinggal selama ngetrip seperti hostel dimana biayanya bisa lebih murah & bisa ketemu teman baru, guesthouse lokal, homestay atau bahkan coba couchsurfing deh.

Untuk penginapan ini yang penting bersih, aman, dan sesuai kebutuhan saja. Karena jujur, sebagian besar waktu kita justru dihabiskan di luar, bukan di kamar doank. Kita hanya beristirahat dari perjalanan panjang seharian.

3. Makanan: Justru di sinilah pengalaman terbaik

Kalau kamu ingin benar-benar merasakan suatu tempat, jangan hanya makan di restoran mahal. Coba makanan lokal, biasanya street food seringkali lebih murah, lebih autentik dan lebih memorable. Saya pribadi justru lebih ingat rasa makanan kaki lima dibanding menu mahal di restoran fancy. Tapi bukan berarti tidak pernah beli makanan di restoran negara lainnya ya.

4. Destinasi: Tidak harus viral

Tempat viral memang menarik, tapi biasanya lebih mahal, lebih ramai dan dibuat sekedar lebih untuk foto. Cobalah mulai eksplor tempat yang kurang populer dimana terkadang justru di situlah kamu menemukan pengalaman yang lebih personal dan tenang.

Traveling Hemat Justru Membuatmu Lebih “Hidup”

Hah?Apa pula maksudnya nih? Ada satu hal yang jarang dibahas yaitu traveling dengan budget terbatas seringkali terasa lebih “hidup”. Kenapa? Karena lebih terlibat dalam setiap keputusan, kamu lebih banyak berinteraksi dengan orang lokal dan lebih menghargai setiap pengalaman kecil.

Berbeda dengan perjalanan mewah yang serba nyaman, traveling hemat membuatmu belajar untuk beradaptasi, mengatur prioritas, menghargai proses dan dari situlah cerita-cerita terbaik lahir.

Soal Uang: Realistis Tapi Tetap Bisa Jalan


Memang tidak bisa dipungkiri, traveling tetap butuh uang donk tapi bukan berarti harus banyak sekaligus. Beberapa cara yang bisa dicoba seperti menyisihkan sedikit demi sedikit, kurangi pengeluaran yang tidak terlalu penting. Bisa pula cari tambahan income kecil dari freelance, jualan, dan lain sebagainya.

Hal yang terpenting bukan jumlahnya besar, tapi konsistensi untuk mengumpulkannya. Traveling itu bukan soal “punya uang banyak sekarang”, tapi soal “bagaimana kamu mengelola yang ada”.

Traveling Bukan Tentang Lari, Tapi Menemukan


Banyak orang mengira traveling adalah bentuk pelarian. Tapi buat Saya, traveling justru cara untuk menemukan dimana ada versi diri yang lebih berani, bisa menemukan perspektif baru tentang hidup. Dan kadang, menemukan bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari hal-hal mahal.

Saya pernah duduk di tempat sederhana, tanpa fasilitas mewah, tanpa sinyal internet yang stabil, nikmati pinggiran pantai tapi merasa jauh lebih tenang dibanding hari-hari biasa. Dan saat itu tersadar bahwa mungkin yang kita cari selama ini bukan tempat yang mahal, tapi momen yang jujur.
 
Jadi, Siapa Bilang Traveling Cuma Untuk Orang Kaya? Kalau kamu masih merasa traveling itu “bukan untukmu”, coba tanya lagi ke diri sendiri, apakah benar karena tidak mampu, atau karena belum mencoba dengan cara yang berbeda?

Kamu tidak harus langsung ke luar negeri kok, tidak harus punya itinerary sempurna serta tdak harus terlihat seperti travel influencer karena penting untuk mulai dari yang sederhana karena dunia ini terlalu luas untuk hanya dilihat dari satu tempat. Dan percaya deh, traveling bukan milik orang kaya tetapi milik siapa saja yang berani melangkah, termasuk kamu.  Gimana? Sudah mulai ada ide untuk penjelajahan?
Seketika ingin flashback menuju masa pertama kali menginjakkan kaki ke Bangkok sekitar tahun 2017. Dulu, tentu saja bukan kota ini menjadi tujuan utama ketika ke Thailand, sempat melewati Hat Yai namun belum terlalu banyak lakukan penjelajahan.




Beda Rasa Bangkok vs Hat Yai


Jika boleh jujur, Saya sempat berfikir bahwa semua kota di Thailand itu bakal punya vibe yang mirip, chaotic tapi charming, penuh street food enak, dan super aesthetic buat foto. Tapi semua asumsi itu langsung runtuh begitu menginjakkan kaki di Bangkok dan beberapa bulan kemudian penjelajahan lanjut ke Hat Yai.

Dua kota ini? Beda banget. Bahkan bisa bikin kamu mikir, “Ini masih satu negara, kan? Kok bisa beda banget yak"




Kesan Pertama Bikin Kaget


Di Bangkok, Saya langsung disambut dengan kota metropolitan yang super hidup. Gedung tinggi, mall besar, transportasi modern, rasanya kayak perpaduan Jakarta dan Seoul. Tapi begitu sampai di Hat Yai, suasananya berubah drastis. Lebih santai, lebih “lokal”, dan jauh dari kesan kota besar sih.

Shock pertama? Saya merasa kayak pindah dunia. Kalau Bangkok itu sibuk dan cepat, Hat Yai itu tenang dan sederhana. Wajah yang terlalu familiar didominasi dengan warga lokal, bahkan turis pun tidak tampak ramai seperti di Bangkok.

Transportasi: Modern vs Manual


Di Bangkok, Saya dimanjakan dengan Bangkok BTS yang super praktis, mau bepergian sekitar dalam kota bisa langsung tap kartu, naik, dan sampai tujuan tanpa drama macet. Memang tetap harus sabar menunggu kedatangan BTS dan terkadang harus siap pula untuk berdiri jika terlalu penuh penumpangnya.

Bagaimana dengan transportasi di Hat Yai? Jangan harap ada kereta modern seperti itu. Transportasi lebih banyak pakai tuk-tuk atau kendaraan lokal. Awalnya terasa ribet, tapi justru di situlah pengalaman uniknya sih.

Tapi, berhubung keseringan solo traveling dan mau praktis tanpa bertanya tentang tuk-tuk yang menuju ke tujuan maka naik ojek online lebih praktis sih. Ini salah satu momen di mana Saya harus lebih fleksibel sebagai traveler, harus bisa menyesuaikan transportasi yang mau digunakan selama ngetrip.

Kuliner: Surga Street Food vs Hidden Local Gems


Bangkok itu surganya street food modern mulai dari yang viral sampai yang Michelin star pun ada. Semua terlihat cantik, tertata, dan Instagramable. Tapi Hat Yai? Lebih “jujur”, makanannya mungkin nggak selalu estetik, tapi rasanya? Gila sih, autentik banget. Bahkan beberapa makanan lokal di sana rasanya lebih “ngena” dibanding yang dicoba di Bangkok.

Shock berikutnya adalah tentu jangan nilai makanan dari tampilannya aja, terkadang estetik doank tapi rasanya masih biasa sih. Tapi, ketika mengunjungi Bangkok dan Hat Yai memang tetap lebih banyak hunting makanan lokal yang tentu saja cari ada label halal.

Bahasa & Interaksi: Lebih Mudah vs Lebih Menantang


Di Bangkok, ada banyak orang yang sudah terbiasa dengan turis. Bahasa Inggris cukup membantu walaupun masih tetap harus menelaah lebih dalam untuk aksen yang digunakan oleh warga lokal. Di Hat Yai, Saya sempat struggle terutama jika mau bertanya tentang lokasi karena eggak semua fasih berbahasa Inggris, jadi harus lebih banyak pakai gesture atau Google Translate.

Tapi justru di situ lebih merasa interaksinya lebih hangat, lebih genuine meskipun harus bersabar untuk bisa punya komunikasi berlanjut. Ketika menanyakan harga juga sebenarnya lebih asik kalau tahu bahasa lokal agar mudah untuk tawar menawar.

Biaya: Bangkok Menguras, Hat Yai Bersahabat


Ini bagian yang paling terasa bagi solo traveler yang mode liburan hemat alias ala backpacker. Masa pertama kali ngetrip ke Bangkok tuh memang masih awal memulai sehingga masih penuh perhitungan untuk segala budget yang dikeluarkan.

Bangkok bisa jadi cukup mahal, apalagi kalau kamu kalap belanja atau nongkrong di cafe aesthetic. Pilihan toko fashion banyak, mall mewah berebut mencuri perhatian makanya duit bisa habis kalau tidak mengontrol diri. Sementara Hat Yai jauh lebih ramah di kantong, pilihan mall pun tidak beragam.

Mulai dari makanan, transportasi, sampai penginapan, semuanya terasa lebih ringan di Hat Yai. Sebagai solo traveler tentu masih mencari dormitory sehingga bisa sharing kamar dengan traveler lainnya. Biaya yang dikeluarkan tentu saja bisa lebih hemat.

Aesthetic & Spot Foto: Kota Instagram vs Kota Cerita


Kalau kamu tipe traveler yang cari konten cantik, Bangkok jelas juaranya donk,hampir setiap sudut bisa jadi spot foto bahkan terus bertambah aneka atraksi wisata disana. Hat Yai? Tentu saja enggak sebanyak itu. Tapi justru di sana kamu dapat “cerita”, bukan sekadar foto saja.

Dan sebagai konten kreator, aku belajar bahwa enggak semua tempat harus aesthetic untuk bisa jadi menarik. Awal pertama ngetrip ke Hat Yai hanya lakukan penjelajahan di sekitar kota tapi ketika berkesempatan bersama teman-teman maka kami sewa transportasi lokal untuk jelajah beragam kawasan lainnya sehingga dapat spot foto yang menarik pula.

Tips Tetap Cantik Saat Traveling di Dua Kota Ini


Percaya deh, cuaca Thailand itu bisa bikin makeup luntur dalam hitungan jam. Jadi ini beberapa trik andalan agar bisa tetap tampil on point berfoto di depan spot wisata. Pertama, tentu saja harus gunakan sunscreen karena ini menjadi hal wajib terutama di Bangkok yang panasnya lebih “menusuk”.

Kedua, pilih makeup ringan dan tahan lama, pastikan pula selalu bawa face mist biar tetap fresh. Berhubung di Hat Yai lebih santai, Saya malah lebih sering tampil natural dan surprisingly, itu justru bikin lebih nyaman saat berkeliling tempat wisata. Cantik itu bukan soal full makeup, tapi soal feeling good selama perjalanan. So, pilihlah yang sesuai dengan kenyamana diri aja ya.

So, Pilih Bangkok atau Hat Yai?


Kalau kamu suka city vibes, modern lifestyle, dan konten aesthetic, tentu saja Bangkok adalah jawabannya. Tapi kalau kamu pengen pengalaman yang lebih lokal, santai, dan hemat maka Hat Yai bisa jadi pilihan yang lebih “kena di hati”.

Buat Saya pribadi?Tetap butuh keduanya karena ternyata, traveling itu bukan cuma soal destinasi, tapi tentang bagaimana setiap tempat bisa kasih rasa yang berbeda dan kadang, rasa itu datang dari hal-hal yang enggak kita duga sebelumnya.

Dan melalui trip ke Bangkok hingga ke Hat Yai, Saya belajar beragam hal diantaranya jangan pernah berekspektasi terlalu sempit pada sebuah tempat karena bisa jadi, justru perbedaan itulah yang bikin perjalanan kamu jadi cerita yang nggak terlupakan. Kalian gimana? Adakah punya cerita seru selama ngetrip di Bangkok dan Hat Yai, gaes?
Katanya kalau mau traveling itu harus siap ‘kucel' dengan kulit kusam, rambut seadanya, dan outfit yang penting nyaman aja gitu Tapi entah kenapa, Saya nggak pernah benar-benar percaya dengan anggapan itu karena meskipun berlibur tetap harus on point.

cara tetap glow up saat traveling



Kalimat seperti itu sempat terlintas di kepala saat pertama kali memutuskan untuk solo trip dengan budget terbatas pada tahun 2017 akhir. Waktu itu, Saya terlalu fokus menekan pengeluaran sampai lupa satu hal penting: perasaan nyaman dengan diri sendiri.

Hasilnya? Memang hemat, tapi setiap bercermin rasanya kurang percaya diri apalagi blog ini sejak awal dibangun punya citra melalak cantik yang mana saat traveling harus tetap terlihat on point. Di sisi lain, pernah juga terlalu sibuk ingin terlihat “sempurna” saat traveling tapi tentu saja ujung-ujungnya dompet yang menjerit pelan.

Dari dua pengalaman yang bertolak belakang itu, Saya akhirnya belajar satu hal sederhana: traveling itu bukan soal memilih antara hemat atau tetap cantik. Keduanya bisa berjalan beriringan, asal tahu caranya sih.

Buat Saya sekarang, definisi “cantik saat traveling” sudah berubah yang mana bukan lagi tentang makeup lengkap atau outfit yang selalu on point, tapi lebih ke bagaimana bisa tetap merasa segar, rapi, dan nyaman di setiap langkah perjalanan. Cantik versi ini terasa lebih ringan, lebih jujur, dan justru lebih memancarkan percaya diri serta tentu saja budget lebih bersahabat.

Gimana Cantik Saat Traveling?


Salah satu kunci utamanya ternyata ada di cara kita packing. Dulu Saya sering membawa terlalu banyak produk, dengan alasan “jaga-jaga”. Padahal kenyataannya, setengah dari isi tas itu tidak terpakai. Bahkan pernah kelebihan bagasi sehingga harus membayar lebih hanya untuk barang bawaan saja.

Sekarang, Saya lebih memilih membawa skincare ukuran travel size dengan fungsi dasar: pembersih wajah, pelembap, dan sunscreen. Sesederhana itu, tapi efeknya luar biasa. Kulit tetap terjaga, tas lebih ringan, dan nggak perlu repot setiap kali harus pindah tempat.

Hal yang sama juga berlaku untuk makeup. Sekarang lebih mulai mengandalkan produk multifungsi saja seperti lip tint yang bisa dipakai untuk bibir sekaligus blush on. Praktis, hemat tempat, dan tetap bikin wajah terlihat fresh untuk foto-foto kecil yang seringkali jadi kenangan paling berharga.

Lalu soal outfit, ini bagian yang dulu cukup tricky apalagi sudah punya branding si paling kece gaya saat liburan. Ingin terlihat stylish, tapi juga nggak mau over budget lagi deh terutama sayang untuk bayar bagasi pulang dan pergi.

Solusinya ternyata sederhana: pilih warna-warna netral dan model yang mudah dipadupadankan. Dengan beberapa potong pakaian saja, bisa menciptakan berbagai look yang berbeda. Selain itu, outfit yang nyaman juga memberi efek besar pada aura kita. Karena jujur saja, rasa percaya diri itu seringkali datang dari kenyamanan serta terkadang beli aja di kota yang dituju sehingga pergi ringan tapi pulang bisa bawa pakaian dari tempat berbeda.

Rahasia Cantik Dari Dalam


Selain penampilan luar, Saya juga mulai lebih memperhatikan self-care kecil selama perjalanan. Minum air putih yang cukup, istirahat yang terjaga, dan memberi waktu untuk diri sendiri meskipun hanya duduk santai di sudut kafe atau menikmati pemandangan tanpa terburu-buru. Hal-hal sederhana seperti ini ternyata sangat berpengaruh pada bagaimana kita terlihat dan merasa.

Seketika kembali memori ke satu momen saat duduk di sebuah kafe kecil setelah seharian berjalan kaki. Wajah Saya mungkin tidak sempurna, jilbab sudah tidak terlalu on point karena angin, tapi ada rasa tenang yang sulit dijelaskan. Di sekeliling, banyak orang dengan gaya mereka masing-masing, simple, santai, tapi tetap menarik dengan cara yang unik. Di situlah Saya sadar, cantik itu bukan tentang seberapa banyak usaha yang terlihat, tapi tentang bagaimana kita membawa diri.







































Newer Posts
Older Posts

Total Tayangan Halaman

HELLO, THERE!


Hello, There!
Hello, There!
My name is Ririn Famur Wandes Rahayu Lubis. I am from Medan, North Sumatera, Indonesia.

Find More



LET̢۪S BE FRIENDS


recent posts

Labels

Blogger Medan Cafe Medan English Article Lifestyle Blogger Review Cafe Solo Backpacker Tips Melalak Cantik Tips Traveling Wisata Asia Tenggara Wisata Indonesia

Blog Archive

Postingan Populer

  • T-Garden Medan,Resort and Ranch Instagramable ala Bali
    T-Garden Medan Resort and Ranch menambah daftar tempat wisata baru yang santai dengan konsep nuansa kekinian ala Bali yang instagram...
  • Pengalaman Pertama Nge-Grab ke Kualanamu International Airport
    Rasa bahagia dan syukur tak terhingga dihaturkan kepada Sang Pencipta sejak membaca sebuah email pengumuman yang menyatakan bahwa aku te...
  • Asian Make Up with PIXY TWC Cover Smooth and PIXY Lip Cream
    Setiap wanita selalu ingin tampil cantik dan mempesona. Definisi cantik dari setiap wanita pun berbeda-beda,begitu juga kaum lelaki y...
  • Menikmati Wisata Seni 3D Art Magic Eye Museum Kawasan Bandara Kualanamu
    Menikmati wisata seni 3 dimensi di hari libur memang menyenangkan dan semakin seru apabila dinikmati bersama keluarga, para sahabat mau...
  • Imajinasi, Creativity, dan Teknologi Ciptakan Konten Kreatif Masa Kini
    Kehidupan manusia melalui banyak proses yang tidak sederhana. Manusia yang diciptakan juga berproses hingga akhirnya kembali lagi ke s...

Community

selebgram medan

Intellifluence Trusted Blogger


 

Created with by BeautyTemplates | Distributed by blogger templates