Menyantap Laksa Sendirian di Batu Ferringhi Beach (Day 4)

by - Januari 13, 2020

Menyantap Laksa Sendirian di Batu Ferringhi Beach (Day 4) - Hari ke empat berada di Penang, ku masih punya energi untuk melalak cantik. Sendirian bukan menjadi penghalang untuk bisa kesana kesini. Transportasi umum yang mudah dijangkau tentunya semakin memudahkan dalam melakukan perjalanan.

Batu Ferringhi Beach

Petualangan tanpa itinerary serta dilakukan sendiri memang asik seperti ini. Aku bisa sesuka hati menuju lokasi wisata yang diinginkan tanpa menunggu orang lain. Mau pergi pagi buta atau siang terik juga tidak ada yang melarang. Keseruan Aktifitas Hari Pertama Solo Traveling 10 Hari ke Penang, Malaysia boleh baca di artikel tersebut dan untuk hari kedua juga silahkan singgah di artikel ini Keseruan Aktifitas Hari Kedua Solo Traveling 10 Hari ke Penang, Malaysia.

Breakfast di Tido Hostel


Hari ini memang tanpa tujuan untuk mengunjungi tempat wisata. Tetapi, pantai Batu Ferringhi sudah menjadi incaran untuk dikunjungi. Sarapan pun segera dihabiskan yang mana hanya dua potong roti dengan selai strawberry dan blueberry. Satu gelas teh hangat menemani pagi agar menghangatkan body yang kedinginan tidur di kamar malam tadi.

Aku memandangi tamu lain yang sedang sarapan, sesekali kami saling tersenyum agar tidak terlalu kaku di ruangan itu. Melihat sekeliling yang tidak terlalu ramai dan masing-masing sibuk berdamai dengan kegiatan. Pencarian informasi tentang transportasi dan pantai pun dimulai di lantai 5 ruang makan. Ingin segera beranjak agar tidak terlalu kesiangan meskipun memang sudah siang.

Menuju Bus Station Lebuh Campbell

Berjalan kaki dari Tido Hostel menuju bus station bukanlah hal yang sulit. Namun, perjuangan untuk menggerakkan kaki ini memang butuh usaha. Awalnya hanya ingin santai di hotel sambil internetan. Eh, memang melalak cantik begitu susah stay dalam waktu lama di satu tempat saja. Kaki langsung ingin melangkah ke tempat yang indah.

Demi penghematan biaya maka naik bus adalah salah satu caranya. Aku pun harus berjalan dari hostel menuju bus station Lebuh Campbell. Sekitar 15 menit berjalan santai di bawah terik matahari hingga tiba di stasiun. Perjalanan menuju Batu Ferringhi Beach selama kurang lebih 30 menit karena banyaknya perhentian bus. Namun, naik Grab juga akan menghabiskan banyak uang. Pilihan pun jatuh kepada waktu lebih lama namun duit yang dikeluarkan standard saja.

Biaya bus dari stasiun Lebuh Campbell sampai Tropical Spice Garden sekitar RM 2.70. Tujuan awal sih turun di seputaran Jalan Batu Ferringhi hingga akhirnya berhenti di depan Tropical Spice Garden. Menurutku pantainya juga masih bagian Batu Ferringhi, hanya nama jalan aja yang berbeda.

Efek Bus Kelewatan Bisa Nikmati Pantai Dengan Tenang


Tiba di Jalur Pertengahan a.k.a Batu Ferringhi dan Teluk Bahang, aku pun langsung ikut turun dengan beberapa foreigners. Well, lokasinya tepat di depan Tropical Spice Garden yang memang sedang ramai pada hari itu. Sebenarnya tidak berniat turun disini tapi berhubung kelewatan ketika mau turun di Jalan Batu Ferringhi. Yeah, tempatnya juga bagus kok sehingga tidak ada masalah sih.

Batu Ferringhi Beach

Menyantap Laksa Sendirian 

Menurut beberapa orang bahwa makan sendirian itu tidak nyaman. Aku sih memang sudah terbiasa melakukan banyak aktifitas sendiri maka sudah dinikmati. Siang itu memang sangat terik, tepat 27 Desember 2019, minuman segar sepertinya cocok dimasukkan ke tenggorokan. Perut pun mulai keroncongan berhubung sudah waktunya untuk dilakukan pengisian.

Rumah makan yang berada di dekat pantai menggoda untuk dikunjungi. Aku pun langsung masuk dan ambil posisi. Syukurlah masih ada bangku kosong tepat menghadap pantai. Indahnya bisa mendengar suara ombak sambil makan siang. Dari sekian banyak menu masakan, piihan jatuh ke laksa. Kenapa? karena memang ini salah satu kuliner yang terkenal di Penang meskipun bukan di tempat ini yang terenak.

Batu Ferringhi Beach


Bagaimana rasanya makan sendirian?
Aku sih sangat menikmati perjalanan ini, sendirian berteman laksa bukan berarti langsung gila. Yeah, kadang ku memang suka lakukan aktifitas gila agar hati gembira. Perjalanan 10 hari di Penang ini pun sebenarnya kegiatan gila yang tak terencana.

Batu Ferringhi Beach


Laksa di rumah makan ini enak, kusuka campuran rasa di dalamnya. Selain itu, harganya juga sangat murah loh. Ketika ingin membayar, kaget juga dengan harga yang masih standard biasa. Seporsi laksa dan ice tea sekitar RM 6 yang pasti harganya tidak mengoyak kantong.

Kalian suka laksa juga gak sih?

Oh yeah, kawan melalak canitk yang ingin tau tentang laksa itu apa maka akan kujelaskan yah. Menurut Wikipedia, laksa adalah makanan berjenis mi yang ditaruh bumbu dengan kebudayaan peranakan, yang digabung dengan elemen Tionghoa dan Melayu. Nah, yang paling dikenal ini adalah laksa Penang bentuknya bulat putih dan sedikit tebal. So, kamu sudah tahu kan tentang laksa?

Nikmati Gerakan Air Pantai Sendirian


Setelah selesai makan siang, aku berjalan menyusuri pantai. Indah sekali rasanya menikmati gerakan air pantai yang sebenarnya tidak santai. Suaranya yang cukup meramaikan suasana hati yang sepi membuat terhibur sudah pasti. Melihat kanan dan kiri, hampir semua yang datang bersama keluarga maupun teman atau pasangan.

Batu Ferringhi Beach


Well, apakah aku bersedih?, jawabannya tentu saja tidak. Aku pergi melakukan perjalanan yang cukup lama sendiri tentunya mempunyai alasan tersendiri. Oleh karena itu, melihat sekitar yang tidak berjalan sendiri bukan sesuatu hal yang menyentuh hati, Aktifitas normal yang sudah terbiasa kulakukan sebagai solo traveler.

Batu Ferringhi Beach


Kaki mulai lelah berjalan, saatnya duduk di atas pasir. Tidak peduli baju yang indah akan kotor atau kulit yang sudah berwarna makin mencolok. Intinya sebuah perjalanan harus dinikmati dengan segala cara untuk membuat pikiran dan jiwa tenang. Setiap perasaan maupun permasalahan yang muncul selama perjalanan bukan menjadi halangan namun sebuah tantangan.

Batu Ferringhi Beach


Oh yeah, dalam setiap perjalanan pastinya ada campur tangan Tuhan yang menghendaki segal yang terjadi. So, memasuki waktu shalat zuhur, aku mencari mushola yang ada di sekitar pantai. Terdapat sebuah mushola mini yang seperti kurang perawatan karena terlihat kotor dan barang-barang tertumpuk. Hmm, syukurlah ada keran air untuk berwudhu di dalam mushola nya sehingga tidak harus keluar mencari toilet.

Setelah bersih dan segar, aku berniat untuk segera kembali pulang ke hostel. Berhubung malam ini ada meet up couchsurfing Penang sekaligus perayaan christmas. Aku belum membeli hadiah untuk dtukarkan makanya ingin pulang lebih awal. Berjalan menuju perhentian bus yang dekat dengan penjual jagung rebus sambil menanyakan informasi.

Kawan melalak cantik yang ingin pulang kembali naik bus tentunya jangan merasa kesulitan karena ada informasi nomor bus beserta tujuan. Aku sempat terlewat dua kali bus yang melintas di depanku. Kupikir akan berhenti dengan sendirinya namun ternyata harus melambaikan tangan untuk menghentikan bus.

Menunggu tanpa kegiatan pastinya buang waktu. Aku menuju toilet sebentar berhubung memang sudah tidak tahan mau buang air kecil. Biaya dikeluarkan sekitar 50 sen untuk sekali masuk kamar mandi. Sstt, itu bukan biaya untuk mandi maupun ganti baju yah, hanya buang air kecil.

Selesai dari toilet, aku berdiri dekat dengan penjual jagung rebus. Obrolan pun dimulai sejak kumulai bertanya tentang bus. Bapak penjual cukup ramah dan ternyata punya menantu orang Indonesia. Hmm, ia pun mengatakan bahwa penjual laksa itu berasal dari Padang, Indonesia yang sudah bertahun-tahun di Malaysia.

Pembicaraan tentang kehidupan warga negara Indonesia di negeri jiran memang selalu menarik dibahas. Aku pun senang bercerita dengan bapak tersebut apalagi ia pun bisa berbahasa Inggris. Sebagai penjual di lokasi wisata tentunya bukan cuma memasarkan barang dagangan namun ada skill yang harus ditunjukkan yaitu kemampuan komunikasi. Btw, aku tertarik menulis terpisah tentang cerita kehidupan warga Indonesia di Malaysia yang sebagai pekerja biasa agar kita tidak selalu memandang semua indah tanpa tau perjuangan orang untuk bertahan disana.

Hmm, pembicaraan kita sampai disini dulu yah tentang keseruan menyantap laksa sendirian di Batu Ferringhi Beach. Aku buru-buru naik bus dan ingin segera mencari toko kosmetik. Kenapa? karena mau beli kado masker untuk event couchsurfing pada malam itu. Nah, ada juga cerita khusus keseruan bermain sepanjang malam bersama para couchsurfer dari berbagai negara, tungguin yah.













You May Also Like

14 Comments

  1. Btw kalo mau, pas makan sendirian kamu bisa nimbrung ke sesama backpacker kak, entah yang sendiri atau berkelompok, biasanya pada welcome

    BalasHapus
  2. Solo traveling emang menyenangkan kak.. bisa kesana kemari sesuka hati.

    BalasHapus
  3. Pantainya itu lho gak kalah dengan pantai-pantai di indonesia.

    BalasHapus
  4. Saya suka banget jalan sendirian
    Ngga harus kompromi dengan teman lain :D
    Eniwei laksanya bikin ngeces

    BalasHapus
  5. solo traveling emang buat kitaa awet mudaa dan happines yaaa ka

    BalasHapus
  6. Duh baca ulasan kamu jadi mau liburan nih bareng anak dan suami mba. Makasih infonya

    BalasHapus
  7. akuu tuh salah satu orang yang gak bisa makan sendirian di luar, kalo terpaksa banget makan sendiri, cari ke luar terus bawa pulang makan di rumah wkwkwkwk. baca cerita ini jadi berpikir mau coba juga hal-hal yang belum pernah dilakukan. makasih mba sharingnya

    BalasHapus
  8. Ya ampun mba Ririn itu foto pantainya hits banget, indah banget sih mba. Cocok dan matching juga sama outfitnya. Pas banget tuh makan laksa di pinggir pantai sambil menikmati angin cepoi-cepoi yaa

    BalasHapus
  9. Pantainya keren... foto2nya juga keren. Jadi pengen mantay. Eh tapi kalo saya sih kayaknya solo travelling malah kurang bisa menikmati, pasti bakal sibuk celingak celinguk cari temen. Heuheu...

    BalasHapus
  10. Aku juga suka traveling sendirian. Cuna kadang repot ngambil fotonya. Btw, cantik-cantik fotonya Mbak, padahal tanpa dibantu orang lain ya ngambilnya?

    BalasHapus
  11. Saya selalu salut dengan teman-teman yang bisa menikmati segala sesuatu sendirian. Kalau saya ini orangnya penakut sehingga kurang berani melakukan sesuatu sendiri. Apalagi urusan pergi-pergi. Saya punya trauma kesasar pas kecil. Dan itu membekas sekali..

    BalasHapus
  12. biasa jalan solo traveling ya mba makanya percaya diri aja, wah salut aku belum pernah soalnya, kalau keluar negeri

    BalasHapus
  13. Aku kenapa ga bisa ya mba, solo trveling itu. Pernah loh aku coba, sekedar mau tes diri sendiri, Krn selama ini aku jalan2 pasti ada travelmate. Jd wkt itu aku coba traveling sendiri ke Palembang hahahahaha. Cobain domestik dulu, kalo lolos, baru ke LN sendiri.

    Dan ternyata.....

    Pas di hotel, aku lgs seraaammmm hahahaha. Nelpon suami suruh nyusul besok :p. Itulah aku penakut banget memang. Makanya ga tertarik blasss utk jalan sendirian. Iya sih bisa di dorm yg rame2. Tp aku ga mau kalo hrs stay rame2 dgn org asing yg aku blm kenal. Ga ngerasa nyaman aja. Kayaknya memang ada sih, tipe traveler yg ga cocok utk solo traveling

    Laksa Penang itu aku suka, tp butuh waktu lama utk bisa terbiasa Ama rasanya :p. Awal2 nyoba, hampir aku muntahin hahahahah. Ga kuat rasa ikannya, ya ampuuun :p. Tp lama kelamaan, nth Napa akhirnya terbiasa :p. Dan bisa makan, walopun kalo dibilang suka, ya gitu deh :p.

    BalasHapus
  14. Aku baca ini kok jadi pengen solo traveling yaaa. Biar bisa menjernihkan pikiran yang mulai ruwet hehehe. Alias refreshing!

    BalasHapus

Hai kawan melalak cantik, silahkan berkomentar yah